ADVERTISEMENT

Sudirman Said: UU IKN Diproses Secepat Kilat, Apa Dapat Diterima Nalar?

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Jumat, 04 Feb 2022 16:24 WIB
Sudirman Said/Dok Istimewa
Sudirman Said (dok. Istimewa)
Jakarta -

Ketua Institut Harkat Negeri Sudirman Said mempertanyakan nalar publik akhir-akhir ini. Dia kemudian mencontohkan, Indonesia kaya kelapa sawit, akan tetapi masyarakat masih kesulitan mendapatkan minyak goreng.

Hal itu disampaikan Sudirman Said dalam diskusi bertajuk 'Nalar Publik Barang Langka?' yang digelar oleh survei KedaiKOPI. Sebelum Sudirman Said berbicara, lebih dulu Ketua Akademi Jakarta Seno Gumira Ajidarma menyampaikan usulan terkait isu-isu terkini yang dihadapi Indonesia.

"Usulan kami itu, ini sebetulnya hal sederhana, mungkin sekarang ditertawakan ya. Misalnya pendidikan, mbok dikembangkan pendidikan holistik, yang menajamkan kesadaran kritis, kecerdasan inovatif, dan pemanfaatan sumber budaya kita sendiri. Orang Indonesia itu tidak pernah kalah dengan budaya mana pun asal digali dan dipraktikkan, jangan minderan gitu loh jadi orang," ujar Seno melalui kanal YouTube Survei KedaiKOPI, Jumat (4/2/2022).

Sastrawan itu kemudian menyinggung pendidikan seni. Dia lalu mengaitkan kepekaan terhadap seni, lantas membuat peka dengan keadaan sekitar.

"Ini tidak untuk menjadikan siapa pun seniman, jangan salah itu, tapi untuk membuat kita itu menjadi manusia. Manusia apa sih kalau dengar musik malah pusing gitu? Ya kan? Saya kira kepekaan itu supaya tidak (hanya) peka terhadap seni, peka terhadap apa punlah. Pada suara daun kek, pada daun kek, dan apa pun di sekitar kita. Begitu tidak indah secara politik, sosial, dan budaya, kita harus segera aware soal ini," jelasnya.

Seno juga menyampaikan usulan dari Akademi Jakarta mengenai lingkungan hidup. Seno mengkritisi tambang batu bara yang dilakukan tanpa adanya batasan.

"Lingkungan hidup tuh mikir, adanya batu bara, adanya minyak itu, apa iya sih untuk dikeruk sampai habis? Apa iya? Coba, ya setuju saja kalau nanam padi untuk dimakan, oke minyak pakai secukupnya. Tapi tidak dihabiskan total, nanti kita berhenti kalau kita sudah habis saja, kan tidak begitu. Kenapa? Karena keseimbangannya guncang," tutur dia.

Diskusi Kedai KOPIDiskusi Kedai KOPI (Foto: Tangkapan layar YouTube)

Seno berharap sistem ekonomi itu menggunakan paradigma yang ekologis. Dia juga menyoroti ekonomi dikuasai oleh sedikit orang.

"Nah, ekonomi, paradigma ekonomi yang ekologis-lah. Sudah... jangan mikir ngeruk-ngeruk lagi. Pikir yang lainlah, masih kurang kreatif kita ini. Memang kalau keuntungan sebanyak-banyak dalam seketika sekarang juga sebesar-besarnya, untuk sedikit orang saja, ya tidak bisa. Saya kira ini justru menantang kecerdasan kita kok. Gimana sejahtera itu bersama, sekarang bukan sejahtera lagi, survive bersama, sudah di situ sekarang ini," sebutnya.

Menurut Seno, semua permasalahan itu bisa diselesaikan dengan nalar. Dia juga berharap masyarakat memiliki sikap kritis.

"Saya kira nalar beres, semua beres, tapi alangkah susahnya kita, pasti ada satu bawah sadar yang buruk karena tidak lagi terkontrol, tidak lagi terkendali sehingga berlanjut menjadi apa yang kita alami semua ini. Saya akhiri semua ini dengan doa, semoga kita tetap kritis," tutur dia.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT