Jejak Jusuf Muda Dalam, Terpidana Pertama yang Dihukum Mati di Kasus Korupsi

Andi Saputra - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 12:24 WIB
Poster
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)


6. Terdakwa untuk memuaskan nafsu angkara murkanya tidak segan-segan menghamburkan uang dan barang milik negara berupa ratusan juta rupiah dan mobil-mobil mewah. Sedangkan rakyat banyak harus hidup merana dan melarat dengan tidak mengetahui apakah mereka hari esok akan mendapat sesuatu bahan pangan.

7. Terdakwa sebagaimana halnya dengan menteri-menteri lain dalam rezim 100 menteri senantiasa berbicara Ampera dan menganjurkan hidup secara prihatin. Padahal ia sendiri berkecimpung dalam lautan kemewahan penuh 'Wein, Weib, und Gesang'.

8. Sepak terjangnya mengingatkan kami pada falsafah hidup orang epicurist, yang dapat disimpulkan dalam suatu semboyan hidup 'to live, to love an take what the gods may give and in time let go'.

9. Terdakwa sepanjang persidangan senantiasa mengelakkan tanggung jawabnya dengan cara melontarkan kepada orang lain, in casu Presiden dan Menko Keuangan. Hal mana menunjukkan sifat ketidakjantanan terdakwa yaitu berbuat tidak berani bertanggung jawab.

10. Ia menganggap ruangan pengadilan sebagai panggung sandiwara belaka. Di mana ia memainkan peranan yang penting tapi pasti bukan sebagai terdakwa.


11. Sikapnya kadang-kadang sinis dan tutur bahasanya kadang-kadang mengejek seolah-olah hendak mengatakan 'Wie doet mij wat'.

12. Tidak dinyatakan rasa penyesalan sedikit pun tentang perbuatan-perbuatan yang telah terbukti itu.

13. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana di atas, kami tidak melihat alasan sedikit pun yang dapat meringankan hukumannya. Sehingga dengan keyakinan sebulat-bulatnya dan dengan penuh rasa tanggung jawab terhadap batin kami kepada Tuhan Yang Maha Adil, hendak memikulkan undang-undang pidana dengan beratnya yang sebulat-bulatnya ke atas ke dua pundak terdakwa.

Setelah divonis mati, Jusuf Muda Dalam tidak segera dieksekusi hingga ajal menjemput pada 1976 karena sakit.


(asp/mae)