Jejak Jusuf Muda Dalam, Terpidana Pertama yang Dihukum Mati di Kasus Korupsi

Andi Saputra - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 12:24 WIB
Poster
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)

Pada 9 September 1967, Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta menjatuhkan hukuman mati kepada Jusuf Muda Dalam. Putusan ini dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi di Jakarta pada 23 Desember 1966. Hukuman mati itu dikuatkan di kasasi.

"Menghukum ia karenanya dengan hukuman mati," kata majelis kasasi yang diketuai Surjadi dengan anggota Subekti dan M Abdurrachman pada 8 April 1967.

MA juga merampas semua harta Jusuf Muda Dalam untuk negara. MA berkeyakinan Jusuf Muda Dalam korupsi puluhan miliar rupiah. Untuk diketahui, harga bensin Rp 4 per liter pada tahun 1963-an dan naik menjadi Rp 16 per liter pada 1968.

Berikut alasan MA menghukum mati Jusuf Muda Dalam:

1. Terdakwa dalam kedudukannya sebagai Menteri Urusan Bank Sentral yang mempunyai tugas terutama untuk menstabilkan nilai uang rupiah di dalam negeri dan mempertinggi nilai uang rupiah di luar negeri, tidak sedikit pun mengusahakan ke arah demikian. Malahan dengan DPC dan kredit khususnya, dengan akibat-akibatnya, telah membawa negara kita ke tepi jurang kehancuran dan dengan jalan itu membantu anasir-anasir asing di luar negeri melaksanakan wishful thinking mereka.
2. Bahwa keadaan ekonomi negara kita sedikit waktu lagi akan kolaps.
3. Dengan pengintegrasian bank ini menjadi semacam Baron von Rothschild di Eropa, yaitu Menteri Urusan Bank Sentral menguasai semua bank di seluruh Indonesia, kecuali satu bank saja, yaitu Bank Dagang Negara.
4. Di kala rakyat Indonesia mengeluh tentang kesukaran hidup sehari-hari akibat tekanan ekonomi yang kian hari kian bertambah berat, terdakwa Jusuf Muda Dalam, yang merupakan seorang menteri dalam Kabinet Dwikora, berkewajiban turut mengemban Amanat Penderitaan Rakyat, hidup dengan mewah-mewahnya serta meminum dan menikmati sepuas-puasnya dari piala kehidupan (beker des leven) tanpa menghiraukan jeritan dan keluh kesah rakyat Indonesia itu.
5. Dengan perbuatan-perbuatan terdakwa yang telah terbukti itu, negara kita dirugikan beratur-ratus miliar rupiah, sedangkan jumlah utang di luar negeri menanjak dan masih dirasakan dan dipilih oleh generasi kita yang akan datang.