ADVERTISEMENT

Bukan Eror, Ini Penyebab Lampu Merah Ramanda Depok Hitungannya Maju

Nahda Rizki Utami - detikNews
Sabtu, 06 Nov 2021 16:29 WIB
Lampu merah simpang Ramanda Dopok, Jawa Barat
Lampu merah simpang Ramanda Dopok (Foto: Nahda Rizki Utami/detikcom)
Jakarta -

Alat pemberi isyarat lalu lintas (APIL) atau biasa disebut lampu merah yang terletak di Simpang Ramanda, Jalan Margonda Raya, Kota Depok, membuat sejumlah pengendara bingung. Hal ini disebabkan hitungan lampu merah itu maju, yang biasanya menghitung mundur.

Bukan rusak, ternyata lampu merah di Simpang Ramanda, Jalan Margonda Raya memang diatur seperti itu. Tidak hanya di Kota Depok, ternyata lampu merah seperti ini ada di beberapa kota, salah satunya Yogyakarta.

"Kenapa dia pindah ke atas? Itu juga ada maksud baik. Itu bukan hanya terjadi di Kota Depok saja. Ada di beberapa kota lainnya seperti Yogyakarta juga ada," kata Kepala Bidang Lalu Lintas (Lalin) Dishub Kota Depok, Marbudi saat dihubungi, Sabtu, (6/11/2021).

Marbudi menjelaskan hitungan lampu merah di Simpang Ramanda dibuat maju lantaran untuk memberikan rasa aman kepada pengendara.

"Nah juga salah satunya kita perhitungan pindah program itu juga untuk memberikan rasa safety juga. Jadi mereka pikir kalau tinggi kan nyampe kapan dia tidak serta merta membuat persiapan ngegas, tapi mereka tetap lebih secara psikis itu mereka akan lebih tenang," jelas Marbudi.

Marbudi menilai ketika lampu merah terhitung mundur, pengendara cenderung bersiap-siap untuk menaikkan gas kendaraannya, padahal saat itu lampu masih menunjukkan warna merah. Berbeda saat hitungannya maju, menurutnya, pengendara secara psikis akan lebih tenang tidak terburu-buru untuk menaikkan gas.

"Jadi penerapan untuk perhitungan ke atas itu adalah untuk memberikan juga kalau secara gini kalau orang dihitung mundur itu biasanya orang siap-siap ngegas untuk supaya tidak ketinggalan peluang. Jadi oh naik ke atas hitungannya. Beda dengan count down gitu," tutur Marbudi.

Lampu Merah Tidak Error

Selanjutnya, Marbudi mengaku senang lantaran warga Kota Depok cukup kritis atas kejadian lampu merah Simpang Ramanda yang hitungannya maju. Menurut Marbudi, akan berbahaya jika saat lampu merah terhitung mundur dan pengendara tidak sabar untuk menaikkan gasnya.

"Oh bukan (bukan eror). Jadi gini, kalau saya tuh seneng sama orang Depok tuh kritisnya kenceng banget. Jadi ada beberapa kota menerapkan. Emang sih ada plus minus kalau kita kasih count down kayak gitu mereka siap-siap," jelas Marbudi.

"Tapi kadang-kadang ketika ada beberapa orang nggak sabar juga, ntar dia udah siap-siap masukin giginya dan nancap gas. Nah itu juga bahaya. Sementara kadang-kadang di simpang itu belum clear. Di tengah-tengah simpang itu belum clear semua," tambahnya.

Marbudi menjelaskan durasi lampu merah di hari kerja berbeda dengan hari libur. Hal itu disesuaikan berdasarkan volume lalu lintas.

"Traffic light itu antara hari weekdays sama weekend itu ada perbedaan. Disesuaikan dengan volume lalu lintas. Volume lalu lintas itu kita hitung berdasarkan dari survey ya. Survey pergerakan di simpang sehingga kita tau, kira kira kebutuhan waktu siklus itu berapa sih?" jelas Marbudi.

Simak video 'Warga Masih 'Takut' Naik Angkutan Umum, Gage Perlu Dievaluasi?':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT