Epidemiolog Belum Sepakat COVID di RI Terkendali, Ini Catatan Kritisnya

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 21 Sep 2021 08:28 WIB
Epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman (Dok istimewa/foto diberikan oleh Dicky Budiman)
Epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman (Dok. Istimewa/foto diberikan oleh Dicky Budiman)
Jakarta -

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan angka reproduksi Corona terus turun dan pandemi Corona dinilai sudah terkendali. Pakar epidemiologi menyambut baik penurunan itu, namun memberikan sejumlah catatan krisis semua pihak tak lengah dengan penularan Corona.

"Kita menyambut baik adanya penurunan dua hal, pertama angka reproduksi dan test positivity rate yang berlaku secara nasional. Kemudian kasus walaupun menurun, tetapi dalam pandangan saya testing masih belum memadai. Ini dua hal yang penting karena sudah ada perbaikan," kata epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, kepada wartawan, Senin (20/9/2021).

"Namun yang harus dipahami bahwa adanya perbaikan di dua data itu juga harus kita lihat sebagai data nasional yang harus disikapi kritis untuk level daerah, level kabupaten/kota terutama," kata dia.

Dicky mengatakan angka reproduksi Corona itu berbeda di setiap kabupaten dan kota. Sehingga dia meminta agar pemerintah daerah (pemda) dan warga untuk tidak berlebihan dalam menyikapi penurunan kasus secara nasional.

"Sekali lagi, ini nggak boleh menjadi euforia ya, karena kita ini negara besar, banyak pulau, banyak daerah yang sangat bervariasi pola intervensinya. Jadi kabar baik ini tidak bisa diklaim sebagai kabar baik semua kabupaten/kota, nggak bisa, tidak boleh menurut saya. Harus dilihat kabupaten/kota," kata dia.

Kematian Akibat Corona Masih Tinggi

Angka kematian akibat COVID-19 atau case fatality di RI, kata Dicky, masih tinggi. Menurutnya masih ada kebobolan kasus Corona yang tidak terdeteksi.

"Berarti masih ada masalah kebobolan dari kasus-kasus yang tidak teridentifikasi, dan ini menjelaskan kenapa Indonesia masih dalam juga level community transmission, belum berubah kita, walaupun sudah membaik saat ini, level community transmission kita rata-rata udah di satu-dua, yang sebelumnya tiga-empat. Tapi ya level community transmission itu masih level terburuk dalam leveling transmisi ya, artinya masih ada banyak kasus yang belum terdeteksi," tutur dia.

Tingkatkan 3T, 5M, dan Vaksinasi

Guna menurunkan angka kematian itu, kata Dicky, perlu adanya beberapa perbaikan. Di antaranya meningkatkan testing, tracing, dan treatment (3T), serta protokol kesehatan 5M.

"Nah ini yang harus menjadi catatan, makanya kalau case fatality rate kita tinggi ya ini menunjukkan ada masalah nih dari hulu sampai hilir di 3T, ini harus diperbaiki termasuk 5M," ucapnya.

Dicky mengakui vaksinasi di Indonesia saat ini menjadi salah satu yang tertinggi. Akan tetapi cakupan vaksinasi Corona perlu diperluas karena Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar pula.

"Selain itu, catatan penting lainnya bahwa cakupan vaksinasi kita walaupun salah satu yang dari sisi jumlah itu paling besar, tapi kalau bicara per kapita dibandingkan dengan jumlah penduduk ini kita masih jadi PR, karena bicara varian baru, selain bicara vaksinasi penuh juga dibandingkan dengan total populasi," kata dia.

"Kita dengan negara tetangga ini masih di bawah, bahkan dengan Kamboja kita juga termasuk di bawah, nah ini yang harus dikejar. Karena kalau tidak menempatkan kita pada kondisi yang sangat rawan dan ini bicara juga potensi gelombang berikut," lanjutnya.

Simak penjelasan Dicky bahwa corona di RI belum terkendali pada halaman selanjutnya.

Saksikan video 'Kala Dunia Apresiasi Kinerja RI dalam Mengendalikan Covid-19':

[Gambas:Video 20detik]