Cerita Spa Bali WNI di Lebanon yang Terkena Dampak Krisis

Tim Detikcom - detikNews
Sabtu, 10 Jul 2021 06:40 WIB
Dubes RI untuk Lebanon Hajriyanto Y Thohari
Dubes RI untuk Lebanon, Hajriyanto Y. Thohari (Foto: Rakean R Natawigena / 20detik)
Jakarta -

Lebanon sedang mengalami krisis ekonomi yang sangat parah, ditambah lagi krisis akibat pandemi COVID-19 dan politik. Kondisi pandemi COVID-19 ini juga mengakibatkan WNI yang bekerja di Spa Bali, di Lebanon terdampak krisis.

"Warga negara Indonesia juga porsi pekerjaannya juga mengalami penurunan misalnya di sini kan banyak itu yang pekerja di Spa Bali, yang punya bukan orang Indonesia, itu ada perusahaan spa itu bisa di hotel-hotel di bangunan-bangunan seperti ruko gitu ya, mereka membuat spa, lalu orang-orang Indonesia bekerja di situ, dari Bali namanya juga spa Bali," kata Dubes RI untuk Lebanon, Hajriyanto Y. Thohari, saat dihubungi, Jumat (9/7/2021).

"Jadi orang-orang Indonesia banyak yang bekerja di situ, mereka mengalami penurunan biasanya kalau per hari pengunjungnya itu sampai ratusan itu ya tinggal puluhan saja," ujarnya.

Kemudian KBRI juga memberikan bantuan terhadap sekitar 250 warga negara Indonesia yang berada di Lebanon. Warga yang terdampak pandemi diberikan bantuan bahan makanan, masker, hand sanitizer dan obat-obatan atau vitamin.

"Nah karena pusat turisme dengan pandemi ini ya merosot semua, ya hotel, restoran, travel, transportasi, penerbangan segalanya turun drastis penurunannya signifikan, cuma bedanya dengan negara-negara yang lain itu tadi di sini berlapis-lapis ada krisis politik, ada akibat ledakan besar yang menghancurkan Beirut di bulan Agustus, ada 3 sendiri gitu loh, kalau Indonesia kan cuma 1 krisis akibat pandemi saja, ini ada pandemi, ada ledakan, ada di sebelum pandemi ada krisis politik yang sudah melumpuhkan itu," ujarnya.

Ia mengungkap saat ini Lebanon mengalami krisis hingga mengakibatkan inflasi, dari semula kurs mata uang Lebanon, Lira terhadap dolar Amerika Serikat 1.500, merosot berkali-kali lipat menjadi 18.000 per dolar AS. Namun, ia mengungkap kondisi penduduk Lebanon maupun WNI di Lebanon masih kondusif.

"Gampang (cari makanan), artinya belum ada kelaparan lah di sini, belum ada berita kelaparan, baik WNI juga oke," ujarnya.

Hajriyanto lalu menceritakan awal mula krisis di Lebanon. Ia mengatakan awalnya pada September tahun 2019 terjadi krisis politik di Lebanon akibat kekecewaan masyarakat pada negara, terjadi aksi demo di kota-kota besar, sekitar sepuluh hari kemudian Perdana Menteri Saad Hariri mengundurkan diri sehingga sejak saat itu terjadi kekosongan pemerintahan.

Walaupun terjadi aksi demo hingga sepanjang hari, namun demo tersebut dinilai kondusif karena dapat disaksikan juga di televisi. WNI yang ada di Lebanon juga tetap dapat beribadah ke rumah ibadah maupun beribadah melalui siaran televisi di masa pandemi.

Lalu pada sekitar bulan Januari akhir di tahun 2020 terpilih Perdana Menteri Baru Hasan Diab. Kemudian aksi demonstrasi masih berlangsung dengan tuntutan pembentukan kabinet yang non partisan (non partai), hingga akhirnya bulan Maret 2020 terjadi pandemi Corona di Lebanon. Saat itu Italia dan Iran terjadi episentrum Corona, Lebanon yang bertetangga dengan Iran juga terdampak karena sebagai mitra dagang.

Saat itu krisis politik sudah mengganggu ekonomi Lebanon, nilai tukar mata uang Lebanon terus merosot terhadap dolar Amerika Serikat. Kemudian terjadi peristiwa ledakan besar di Beirut, 4 hari setelah ledakan itu Perdana Menteri Hassan Diab mengundurkan diri pada Agustus 2020, terjadi kekosongan pemerintahan.

Selanjutnya pada bulan Oktober 2020 terpilih kembali Perdana Menteri Saad Hariri. Namun sudah 10 bulan lebih sejak terpilih belum berhasil membentuk kabinet karena belum disetujui pemerintahan Lebanon. Sejak saat ini ia menyebut belum ada pemerintahan definitif, tetapi menurutnya perekonomian tetap berjalan.

"Protes makin keras juga karena banyak misteri dibalik ledakan tersebut pemerintah juga membentuk tim tapi hasilnya juga belum, nah sejak itu kosong nggak ada pemerintahan, dari Agustus sampai Oktober terpilih perdana menteri baru yaitu Hariri terpilih lagi, ditunjuk lagi oleh presiden, itu bulan awal Oktober, tapi dari awal Oktober sampai Juli 2021 belum berhasil membentuk kabinet," katanya.

"Sampai hari ini tidak ada pemerintah definitif. Jadi bayangkan saja, itu tapi kalau kehidupan secara kasat mata itu seperti biasa-biasa saja, nggak seperti yang ditulis kaya 'neraka' itu," ungkapnya.

Ia mengatakan meskipun nilai tukar mata uang Lebanon melemah terhadap dolar AS, kehidupan di Lebanon dianggap seperti biasa saja. Ia mengatakan beberapa hari lalu pergi ke salah satu rumah sakit di Lebanon untuk vaksinasi COVID-19, tetapi ia mengaku dalam perjalanannya terjadi macet panjang.

Dia heran ketika diisukan terjadi kesusahan bensin di Lebanon, tetapi jalanan saat itu terjadi kemacetan. Saat terjadi kemacetan itu lah menurut Hajriyanto, ia dapat melihat mobil mewah berjajar di jalanan.

"Ya ya ya.. bukannya gak ada (bensin), susah, susah tapi ya jalan macet itu gimana, saya kemarin vaksiansi di AUBMC (American University of Beirut Medical Center) jadi itu rumah sakit universitas yang dulu sangat populer dan prestige di Timur Tengah itu ada wisata kedokteran, itu agak jauh dari KBRI ya tapi di pusat kota, itu jalan saya sampai berjam-jam macet," ungkapnya.

"Jadi kalau dibilang bensin susah, loh ya gak tahu mereka dapat bensin dari mana, kok jalan macet, macetnya kayak Jakarta itu. Dan kalau Anda lihat di sini itu macet sambil menikmati merk merk mobil, mobil-mobil mewah dari yang mulai Mini Cooper sampai Mercedez Benz dan Jaguar, mobil sport itu di jalan banyak banget," tuturnya.

Lebih lanjut ia juga bercerita tentang kondisi listrik di Lebanon. KBRI di Lebanon berlangganan listrik pemerintahan, swasta maupun memiliki genset sendiri, sehingga ketika listrik pemerintah mati, secara otomatis menghidupkan genset atau beralih ke listrik swasta.

"Jadi di KBRI ini disamping langganan listrik negara juga punya langganan listrik swasta juga punya genset sendiri. Jadi di sini karena tadi saya sebutkan banyak orang-orang kaya itu itu banyak yang punya genset-genset sendiri," ungkapnya.

Meski terjadi krisis ekonomi, ia menilai kegiatan perekonomian di Lebanon masih berjalan. "Maka orang di sini coba Anda bayangkan saja kalau pemerintah definitif tidak ada selama beberapa bulan jalan saja kehidupan itu, sekolah jalan, rumah sakit jalan meskipun karena pandemi ini ya begitu banyak yang kewalahan ya, tapi seperti saya kemarin di RS medical center AUB itu saya lihat antre orang mau vaksin itu ada sekitar 7-8 meter lah. Itu saya lihat pelayanan masih oke saja, sekolah juga masuk, toko-toko keperluan sehari-hari, mall, yang untuk makanan, obat-obatan , klinik-klinik jalan," katanya.

Ia menyebut penduduk di Lebanon rata-rata dinilai memiliki tingkat pendidikan tinggi karena ada banyak universitas terkenal di Lebanon, serta ada juga penduduknya yang bekerja sebagai profesional dan diaspora di luar negeri. Meski begitu, ia mengatakan di Lebanon sudah mulai ada pengemis saat ini, jika dibandingkan saat dia bertugas di Lebanon.

"Di sini sewaktu saya datang itu nyaris tidak ada pengemis, sekarang mulai ada karena perlu diketahui di Lebanon ini penduduknya nggak ada 6 juta, penduduknya itu cuma 5 juta saja kurang, tetapi ada pengungsi Suriah itu 1,2 juta, lalu pengungsi Palestina yang dari tahun 1948 itu sekitar 350an ribu, kemudian dulu ada pengungsi Armenia sekarang sudah jadi warga negara di Lebanon itu sekitar 150an ribu. Jadi sekitar 1,5 juta pengungsinya sendiri, jadi penduduknya 6 juta karena plus pengungsi dari berbagai bangsa," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Perdana Menteri (PM) sementara Lebanon, Hassan Diab, memperingatkan bahwa negaranya bergerak menuju 'ledakan sosial'. Dia pun meminta bantuan dari komunitas internasional untuk menyelamatkan Lebanon yang berada dalam krisis ekonomi yang semakin mendalam.

Seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (9/7/2021), Bank Dunia telah menyebut krisis yang melanda Lebanon sebagai salah satu depresi terburuk dalam sejarah modern. Mata uang negara ini telah kehilangan lebih dari 90 persen nilainya dan lebih dari separuh populasi terjerumus ke dalam kemiskinan.

Kemarahan atas langkanya bahan bakar telah memicu perkelahian di pom bensin setempat. Diab tampaknya berusaha memperingatkan soal prospek terjadinya kerusuhan lebih lanjut

"Lebanon hanya beberapa hari dari ledakan sosial. Lebanon sedang menghadapi nasib kelam ini sendirian," tutur Diab dalam pidatonya saat menghadapi pertemuan dengan para Duta Besar dan perwakilan misi diplomatik berbagai negara di Beirut.

Diab menjabat PM sementara sejak mengundurkan diri usai ledakan dahsyat mengguncang pelabuhan Beirut pada 4 Agustus tahun lalu. Sejak saat itu, para politikus sektarian yang terpecah-pecah tidak mampu mencapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan baru.

Dalam pidatonya, Diab mendorong negara-negara sahabat untuk mengulurkan bantuan meskipun tidak ada pemerintahan baru di Lebanon. Dia menyatakan bahwa mengaitkan bantuan dengan reformasi sistem yang sangat korup telah menjadi menjadi 'ancaman bagi kehidupan warga Lebanon' dan stabilitas negara.

"Saya memohon melalui Anda kepada para Raja, Pangeran, Presiden dan para pemimpin negara-negara sahabat, dan saya menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-bangsa dan seluruh lembaga internasional, komunitas internasional dan opini publik global untuk membantu menyelamatkan warga Lebanon dari kematian dan mencegah kematian Lebanon," cetusnya di hadapan para diplomat asing.

Simak Video: Parahnya Krisis Ekonomi di Lebanon, Warga Berebut Bensin di SPBU

[Gambas:Video 20detik]



(yld/tor)