Banyak Teroris Pernah Mengenyam Kuliah, dari MIPA sampai Ekonomi

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 16 Jun 2021 18:50 WIB
Ilustrasi pelaku teror dari ISIS
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)

4. Khafid Fathoni, kuliah ekonomi IAIN Surakarta

Mahasiswa semester IX IAIN Surakarta bernama Khafid Fathoni (KF) ditangkap Densus 88/Antiteror Polri pada 11 Desember 2016. Saat itu, Khafid berusia 22 tahun dan tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Surakarta.

"Namun, apabila memang nanti dia (Fathoni) terbukti terlibat terorisme, kami akan segera mengambil langkah untuk memberhentikan statusnya sebagai mahasiswa di IAIN Surakarta ini. Karena itu termasuk kesalahan berat, terkait tindakan makar terhadap negara," ujar Syamsul, 13 Desember 2016.

Khalid ditangkap di rumahnya, Widodoaren, Ngawi, Jawa Timur. Dia diduga terlibat rencana aksi pengeboman bersama para terduga teroris yang ditangkap di Bekasi, Karanganyar, Klaten, dan beberapa tempat lainnya. Singkatnya, Khalid ini adalah jaringan kelompok teroris Bekasi, memiliki peran sebagai salah satu perakit bom panci.

5. Anton di Sidoarjo: tak lulus D3 Elektro ITS

Pada 14 Mei 2018, Densus 88 menggerebek satu hunian di Rusunawa Wonocolo kawasan Sidoarjo. Di situ, teroris bernama Anton Ferdiantono tinggal bersama keluarganya.

Anton meledakkan bomnya, istri dan anak tertua meninggal. Tiga anak lainnya selamat meski dua di antaranya luka-luka.

Rektor ITS saat itu, Joni Hermana, menjelaskan Anton Ferdiantono merupakan mahasiswa D3 Teknik Elektro angkatan 1991, namun Anton tidak rampung kuliah.

"Cuma setahun Anton Ferdiantono menjadi mahasiswa, kemudian statusnya tidak diketahui lagi. Tentunya hal ini berarti beliau ini tidak bisa dikatakan alumni ITS," tegas Joni kala itu.

6. Budi Satrio: alumni Teknik Kimia ITS

Budi Satrio tewas ditembak Tim Densus 88 di Perum Puri Maharani, 14 Mei 2018, karena melakukan perlawanan. Terduga teroris itu adalah alumni ITS. Dia merupakan jaringan Dita Oeprianto, pelaku bom gereja di Surabaya, termasuk kelompok JAD Surabaya.

Pada 15 Mei 2018, Rektor ITS saat itu, Joni Hermanta, menjelaskan Budi adalah alumni kampusnya. Dia pernah menjadi mahasiswa Teknik Kimia angkatan 1988 dan lulus pada 1996.

"Kalau yang ini bisa menyelesaikan kuliahnya pada 1996 dan sama seperti mahasiswa normal," ungkap Joni.

7. Tiger: mahasiswa bahasa Arab

Yanto alias Yede alias Tiger adalah teroris kelompok jaringan Abu Wardah alias Santoso. Dia adalah pembuka jalur atau ahli kompas kelompok Santoso. Diberitakan detikcom, Tiger tewas dalam baku tembak dengan Tim Satgas Tinombala pada 22 Maret 2016.

Sebelum tewas, mahasiswa fakultas bahasa Arab di sebuah perguruan tinggi di Makassar ini juga telah mengikuti amaliyah di jaringan Santoso. Di antaranya ikut terlibat dalam pembunuhan 3 warga di Taunca pada 16 Januari 2015 dan 3 warga Sausu pada 16-17 September 2015.

Tiger baru bergabung dengan kelompok Santoso pada Desember 2014. Sejak bergabung, warga asal Bima, NTB, ini digembleng dengan sejumlah tadrib (pelatihan militer).

8. Bahrun Naim: alumni D3 Ilmu Komputer UNS

Bahrun Naim, teroris ISIS yang dikabarkan tewas lewat serangan drone Amerika Serikat pada Juli 2018, juga pernah mengenyam bangku kuliah.

"Dia dulu memang mahasiswa di sini, menempuh strata pendidikan D-3 Jurusan Ilmu Komputer. Masuk kuliah pada 2002 dan lulus pada 2005 dengan gelar ahli madya," ujar Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan F-MIPA UNS, Sugiarto, 15 Januari 2016.

Bahkan dia pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Namun, menurut Sugiarto, Bahrun Naim tidak ikut dalam kegiatan kerohanian Islam.

insert Bahrun Naim Otak Bom ThamrinBahrun Naim, otak Bom Thamrin (Mindra Purnomo/detikcom)

Tito Karnavian saat menjadi Kapolri pernah mengungkap Bahrun Naim adalah penghubung antara elite ISIS dan kelompok yang ada di Indonesia. Bahrun Naim disebut polisi terlibat dalam berbagai aksi teror di Indonesia, mulai Bom Thamrin, jaringan yang ditangkap di Waduk Jatilhuru, hingga bom panci Bekasi.


(dnu/tor)