Cerita UMKM Bonggol Pisang yang Isi Pelatihan di Kampus Bangladesh

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Jumat, 05 Mar 2021 14:58 WIB
Keripik bonggol pisang
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Gempa yang mengguncang wilayah Yogyakarta tahun 2016 silam membawa dampak besar bagi masyarakat setempat. Gempa yang berpusat di Kabupaten Bantul tersebut menghancurkan ribuan rumah dan bangunan.

Selain itu, gempa juga membuat perekonomian masyarakat sempat lumpuh. Banyak pemilik usaha yang akhirnya tidak bisa melanjutkan bisnisnya.

Seperti halnya Purwati (45), wanita asal Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta. Kondisi ekonomi yang terpuruk pascagempa membuat Purwati harus memutar otak bagaimana ia bisa kembali memulai usaha dengan modal seadanya.

Berangkat dari keadaan tersebut, Purwati memutuskan untuk mengolah bahan yang ada di sekitar. Ia memanfaatkan bonggol pisang untuk disulap menjadi produk dengan nilai jual.

"Kemudian waktu itu kan kena gempa pada tahun 2006, rumah rubuh jadi kita belum bisa bangkit. Akhirnya kita memulai usaha dengan usaha dengan bahan yang ada di sekitar kami, karena kami belum punya modal usaha untuk memulai yang sudah-sudah. Akhirnya kita membuat bonggol pisang itu," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan bonggol pisang dipilih mengingat orang zaman dahulu pernah mengolahnya menjadi lauk-pauk. Sehingga ia terpikir untuk membuatnya menjadi menu lain, yaitu keripik. Terlebih saat itu, belum ada usaha keripik yang menggunakan bonggol pisang sebagai bahan utama.

"Ya karena memang pada saat itu gak ada modal yang lain di pasaran itu kita mau produksi apa lagi sudah ada semuanya dan sudah ada banyak yang produksi. kayaknya sulit untuk masuk ke pasaran, jadi kita buat produk yang berbeda berdasarkan pengalaman dari mbah-mbah saya yang terdahulu," jelasnya.

"Kan sebelumnya sudah ada yang pernah mengelola bonggol pisang untuk dijadikan lauk pauk. Jadi kami berpikir seandainya dibikin kripik karena diolah jadi menu lain aja bisa apalagi keripik. Dan waktu itu kami masih coba-coba aja, kami titipkan di warung itu respons dari konsumen sangat luar biasa. Ada pesanan dari pelanggan juga. Sejak saat itu kami mulai usaha bonggol pisang," tambahnya.

Siapa sangka, usaha yang awalnya hanya coba-coba bisa membawa Purwati meraih banyak penghargaan, di antaranya dinobatkan sebagai produk inovatif oleh Sri Sultan Hamengku Buwono pada tahun 2015. Kemudian, ia pun meraih produk bintang 3 kategori makanan ringan dari Kementerian Perindustrian RI.

"Tahun 2015 kami mendapatkan penghargaan IPTEK dari Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai produk inovatif," paparnya.

"Pada tahun 2017 kami dinobatkan sebagai produk berbintang tiga dari Kementerian Perindustrian untuk jenis makanan ringan," lanjutnya.

Tidak hanya itu saja, berkat inovasi olahan bonggol pisang Purwati bisa keliling Nusantara, bahkan ke luar negeri. Diakui Purwati, dirinya sering diundang menjadi pembicara di beberapa tempat.

Namun Purwati mengatakan yang paling berkesan adalah waktu dirinya mengisi materi pada pelatihan kewirausahaan di Daffodil International University di Bangladesh. Dia menambahkan dalam waktu dekat ia pun akan berangkat ke Donggala dan Lombok untuk memberikan pelatihan.

"Kami juga pernah mendapatkan kepercayaan pada tahun 2016 untuk membagikan ilmu kami. Jadi, kami diundang untuk pelatihan kewirausahaan di Daffodil International University of Bangladesh sebagai narasumber. Kemudian juga di Malaysia," tuturnya.

Di samping itu, Purwati juga sempat mengikuti beberapa pameran yang diadakan di Malaysia dan Thailand. Ia menyebut produk olahan bonggol pisang miliknya digemari oleh masyarakat di sana.

"Jadi tahun 2018 kemarin kan kami mengikuti pameran di Malaysia dan Thailand, ternyata produk kami sangat diminati di sana karena belum ada produk seperti ini. Akhirnya mendapat kesempatan dari ibu bupati untuk pameran di sana bersama Dinas Perindagkop Bantul untuk pameran 3 hari di sana," jelasnya.

"Malamnya setelah selesai saya liat supermarket di sana ternyata produknya murah-murah (harganya) cuma 4 ringgit 5 ringgit. Tapi waktu itu saya jual produknya 15 ringgit tapi alhamdulillah laku," tambahnya.

Dari olahan bonggol pisang, Purwati kemudian mengembangkan beragam produk lainnya dari pohon pisang. Beberapa di antaranya yaitu keripik pelepah pisang hingga dawet daun pisang. Adapun untuk setiap pack keripik bonggol pisang dan pelepah pisang, Purwati mematok harga Rp 15 ribu.

Diakui Purwati, dalam sehari dirinya bisa memproduksi 15 kg keripik dan meraup cuan hingga Rp 60 juta per bulan.

"Kalau sebelum pandemi itu produksi kripik bisa sampai 15 kg satu harinya. Karena dulu kan suka dibeli sama pembeli yg di bis. Kalau satu bis kan isinya bisa sampai 60-70. Satu orang bisa beli sampai 10-30 kadang 70 (pcs), saya menyediakan 500 pcs satu minggu. Itu cuma buat tamu doang belum yg lain," ujarnya.

Meski sempat tak memiliki modal untuk merintis usahanya beberapa tahun lalu, namun ia menyebut usaha produk olahan pisang miliknya bisa berkembang berkat bantuan modal dari BRI.

"Saya awal mula modal Rp 500 ribu dari modal sendiri. Lalu, dulu pernah pinjem Rp 2 juta dari BRI sampai sekarang juga masih pinjem. Ini digunain buat beli bahan beli kemasan untuk menambah pasar. Kan kalau produksinya banyak saya jadi menambah pasar juga, jadi kan muter," paparnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

(ncm/ega)