Cerita Perajin Keris Imogiri, Dapat Pesanan SBY hingga Jual Rp 100 Juta

Inkana Putri - detikNews
Kamis, 04 Mar 2021 13:14 WIB
Desa Banyusumurup Imogiri, Bantul, Yogyakarta, dikenal sebagai kampung keris. Ratusan warga di desa ini menjadi perajin keris.
Foto: Rifkianto Nugroho
Bantul -

Keris menjadi salah satu benda pusaka di Indonesia. Jika dahulu keris digunakan sebagai senjata pada zaman kerajaan, saat ini keris menjadi aksesori untuk busana adat Jawa. Di salah satu kawasan Kabupaten Bantul, Yogyakarta, terdapat sentra pembuatan keris. Produksi keris di wilayah tersebut sudah cukup dikenal, bahkan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggunakannya untuk acara pernikahan Edhie Baskoro alias Ibas.

Sejak tahun 1950-an, Dusun Banyusumurup, Girirejo, Imogiri memang telah terkenal dengan para perajin kerisnya. Konon, dulunya daerah ini juga bekas keraton Mataram dan ditinggali para empu pembuat keris. Tak heran hingga kini banyak masyarakat Banyusumurup yang melestarikan kerajinan keris.

Aladin (52), salah satu perajin keris mengatakan mayoritas masyarakat di sana merupakan perajin keris. Ia pun pada 1997 mulai membuka usaha kerajinan keris secara mandiri.

"Dari nenek moyang kita sudah ada kerajinan itu (keris), terus banyak yang menekuni, saya dari pemuda-pemuda (bilang) mari kita lanjutkan. Lama-kelamaan berkembang," katanya kepada detikcom baru-baru ini.

Aladin bercerita kemahirannya dalam membuat keris didapatkan dari prang-orang di sekitarnya. Kebanyakan perajin keris merupakan para bapak.

"Kita belajar sama yang sudah bisa. Misalnya tetangga, terus belajar di situ. Kebanyakan cowok kalau bikin keris. Kalau finishing putri-putri, yang (bagian) ngukir putri. Kalau bikin bilah mesti laki-laki, kan (butuh) tenaga kuat," katanya.

Kini usaha keris Aladin telah merambah pasar di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, Aladin juga sering mendapat kunjungan berbagai turis luar negeri yang datang khusus untuk belajar membuat keris.

"Seluruh nusantara. Kalau luar negeri, turis-turisnya yang datang. Australia, Belanda, Amerika, Malaysia, Brunei, Singapura. Pelajar Singapura malam-malam datang, besok mau lomba di sana. Pas saya punya keris bagus, lalu diambil. Malam itu juga langsung balik ke Singapura," ungkapnya.

Selama berpuluh-puluh tahun menggeluti usaha keris, Aladin juga kerap kali mendapatkan pesanan dari para pejabat, termasuk mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, bukan SBY langsung yang memesan kepada Aladin, melainkan juru rias pengantin yang dipercaya mempersiapkan kebutuhan rias anaknya, Ibas.

Desa Banyusumurup Imogiri, Bantul, Yogyakarta, dikenal sebagai kampung keris. Ratusan warga di desa ini menjadi perajin keris.Desa Banyusumurup Imogiri, Bantul, Yogyakarta, dikenal sebagai kampung keris. Ratusan warga di desa ini menjadi perajin keris. Foto: Rifkianto Nugroho

"Awal mulanya, Bu Tienuk itu kan perias yang dipesan Pak SBY untuk merias nikahan anaknya. Saat itu nggak ada permintaan khusus untuk kerisnya, yang penting bagus bentuk naga dan dilapis emas tapi hanya disepuh biar keliatan mengkilat," jelasnya

Aladin mengatakan keris pesanan SBY tersebut dijual seharga Rp 3,5 juta. Selain SBY, Aladin menyebut juga sering mendapatkan pesanan dari pejabat lainnya.

"Kemarin pesen 4 itu satu biji saya hargain Rp 3,5 juta. Waktu itu pernah juga dapat pesanan dari yang punya Hotel Marriot Jakarta, Ibu Ika Nilasari. Tahun 2004 dapat pesanan dari Staf Menteri Kehutanan dan ada juga dari Guru Besar UPN Veteran Yogyakarta," katanya.

Menariknya lagi, Aladin juga sempat menerima pesanan keris seharga Rp 100 juta. Ia mengatakan keris tersebut punya harga mahal karena berlumur emas. Bahan-bahan yang digunakan untuk keris tersebut juga bukan bahan biasa melainkan yang berkualitas.

"Kalau yang paling mahal bisa (sampai) Rp 100 juta. Pakai emas, (pesanan) orang Jakarta. Kan dikasih emas ukirannya, kalau (keris) biasanya (hanya) sepuh kuningan, tapi ini dikasih emas. Emasnya saja bisa sampai 20-25 gram. Lama itu (pembuatannya), paling nggak 4 bulan. Terus nanti kayunya kan juga dipilihkan yang bagus. Dan yang mahal itu rangkanya. Bisa Rp 10 juta (terbuat) dari kayu timoho," paparnya.

Dari bisnis keris, Aladin bisa mendapatkan omzet hingga Rp 10 juta per minggu. Untuk harga kerisnya mulai dari ratusan ribu hingga jutaan.

KerisKeris Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

"Keris untuk manten macam-macam, ada yang dari harga Rp 50.000- Rp 300.000. Kadang omzet lebih, rata-rata per minggu bisa Rp 10 juta, itu kalau omzet kotor," jelasnya.

Dalam merintis usaha keris, Aladin tentunya juga butuh perjuangan. Ia pun sempat keliling kota berjualan keris ke Surabaya, Solo dan Yogyakarta. Ia juga sempat meminjam modal dari BRI untuk memajukan usahanya.

"Awal-awal belum terkenal, terus lari ke Surabaya, memasarkannya itu ke Semarang, Solo, Yogya sendiri. Keliling, sana-sini ditawarkan. Terus pameran di Bandung dari Dinas Perindustrian, terus ke Jakarta," ungkapnya.

"Tahun 1996 itu saya pinjam bank. Setelah SMA terus saya menekuni ini. Mulai pinjam bank aja (untuk) modal. Dulu (awal pinjam) Rp 5 juta. Setelah itu, kita mengajukan lagi, buat nambah (modal). Karena kalau nggak gitu nggak maju (usahanya)," tandasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Gerabah Blitar Warisan Majapahit"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/ega)