Di Desa Ini Mahar Perkawinan Bisa Pakai Wayang Kulit, Ini Filosofinya

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Rabu, 03 Mar 2021 14:34 WIB
Wayang kulit
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Bantul - Syarat dalam pernikahan harus ada mahar alias mas kawin yang dibayarkan mempelai pria kepada mempelai wanita. Mahar menjadi lambang kesiapan suami untuk memberikan nafkah lahir kepada istri dan anak-anaknya nanti.

Pada umumnya, mahar diberikan dalam bentuk uang tunai ataupun perhiasan seperti emas. Namun mahar sebetulnya tak harus mahal apalagi memberatkan, tapi bisa juga diganti dengan hal lain yang unik dan bisa dikenang oleh pasangan sampai akhir hayat.

Seperti halnya kebiasaan warga di Desa Ukirsari, Imogiri, Bantul, yang menikah dengan mahar tak biasa, yakni sepasang wayang kulit. Ponidi Didot (41), seorang perajin sekaligus pemilik usaha wayang kulit asal Imogiri, Bantul mengatakan pemberian wayang mahar ini sudah berlangsung turun-temurun selama 3 generasi, sejak tahun 1980. Tidak hanya mengangkat mengenai budaya lokal, wayang mahar rupanya punya makna mendalam bagi kehidupan pernikahan yang akan diarungi oleh pasangan.

Misalnya saja tokoh pewayangan yang dibuat mahar adalah pasangan Ramayana dan Shinta serta Kamajaya dan Kamaratih.

"Mahar itu biasanya Rama-Shinta dan Kamajaya-Kamaratih, besarnya sekitar 20-30cm," tuturnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Dalam kisah pewayangan, Rama dan Shinta merupakan sepasang kekasih di mana cerita keduanya menggambarkan kasih, kesetiaan, dan kepercayaan. Meski telah melewati lika-liku yang panjang dan penuh pengorbanan, mereka akhirnya bisa bersanding dengan bahagia.

Kendati demikian, diungkapkan Didot beberapa pasangan tidak begitu senang dengan sosok pasangan Rama dan Shinta. Sebab, khawatir akan ada penculikan seperti yang dialami oleh Shinta.

"Rama Shinta juga bagus tapi kadang beberapa ada yang nggak seneng. Kadang kan mikirnya nanti takut diculik, tapi sebenernya buat lambang juga bagus," jelasnya.

Di samping itu, ada pula sosok pasangan Kamajaya dan Kamaratih. Kisah keduanya memang tak begitu terkenal dalam pewayangan. Namun, Kamajaya dan Kamaratih tidak pernah berpisah sehingga menjadi simbol kerukunan dari suami dan istri.

Kamajaya merupakan Dewa Cinta putera Sang Hyang Isma. Ia memiliki paras tampan, dan berhati lembut serta penuh kasih kepada istrinya. Begitu pula dengan Kamaratih atau Dewi Ratih. Ia adalah putri Sang Hyang Resi Soma yang berparas sangat cantik. Pemberian mahar wayang ini, diharapkan kedua mempelai bisa saling mencintai, rukun, dan setia seperti Kamajaya dan Kamaratih.

"Biasanya Kamajaya-Kamaratih, kalau Kamajaya kan itu dia pria yang paling tampan dan cewek yang paling cantik. Jadinya dia serukun itu sepasang sehidup semati, itu lambang yang paling bagus," kata Didot.

"Itu di mahar kan Kamajaya-Kamaratih, pasangan sejati kan sudah dilambangkan. Mereka itu pasangan sampai kakek nenek, sejati. Makanya untuk mahar karena kalau rumah tangga kan maunya pasangan selamanya," tambahnya.

Dia mengungkapkan, wayang untuk mahar memiliki ukuran bervariasi, mulai dari 20 cm, 30 cm, hingga 50 cm, yang kemudian dibingkai dalam pigura. Namun, umumnya calon mempelai memesan wayang berukuran 20 sampai 30 cm.

Lebih lanjut ia menyebut, pembuatan wayang untuk mahar bisa memakan waktu satu minggu, tergantung dari ukuran, desain, dan tingkat kerumitannya.

"Kalau buat wayang tergantung dari ukuran juga, kalau yang biasa sekitar 3 hari itu baru mahatnya. Kalau untuk proses finishing itu satu minggu," tuturnya.

Adapun untuk wayang berukuran 20 cm, Didot mematok harga Rp 50 ribu per 1 wayang. Jika sepasang menjadi Rp 100 ribu. Desain untuk mahar nantinya bisa disesuaikan, apakah akan ditambah aksesori dan detail lainnya atau tidak.

"Yang perlu mahar biasanya ada yang pesen wayangnya nanti didesain di rumah atau tempat pigura, entah nanti mau didesain pakai uang atau apa. Untuk mahar itu kalau wayang cuma Rp 50 ribu, jadi kalau sepasang Rp 100 ribu itu untuk ukuran 20 cm," ungkapnya.

Diakui Didot, dalam sebulan ia biasanya mampu memproduksi hingga 10 set wayang mahar. Namun, dikarenakan pandemi COVID-19, usaha wayang miliknya ikut terkena imbas. Bahkan, sejak pandemi melanda belum ada pesanan wayang mahar yang diterima Didot.

"Pemesanan wayang mahar sebulan biasanya 10 set. Sekarang kosong, sama sekali tidak ada. Untuk omzet penjualan wayang biasanya 1 bulan sekitar Rp 500 ribu-Rp 1 juta. Untuk omzet keseluruhan sekitar Rp 5 jutaan," terangnya.

Dalam mengembangkan usaha wayang dirinya terbantu dengan fasilitas KUR dari BRI. Ia mengajukan pinjaman Rp 25 juta untuk kebutuhan pengembangan usaha antara lain memperluas toko serta melengkapi jenis dan tokoh wayang yang dijual.

"Awal mula pinjam usaha dari BRI itu sekitar Rp 25 juta. Setelah pinjam BRI, saya juga buka usaha. Dulunya toko saya kecil akhirnya tokonya diperbesar, dulu wayang saya juga dikit sekarang saya komplitin," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri. (prf/ega)