Round Up

7 Fakta Teranyar Heboh Jual-Beli Pulau Lantigiang Selayar

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Rabu, 03 Feb 2021 06:34 WIB
Ilustrasi pulau di Taman Nasional Takabonerate, Selayar (Noval/detikcom).
Foto: Ilustrasi pulau di Taman Nasional Takabonerate, Selayar (Noval/detikcom).
Selayar -

Pulau Lantigiang di kawasan Taman Nasional Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, dijual seharga Rp 900 juta. Kasus jual beli kawasan konservasi itu terus diusut polisi.

Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate Faat Rudianto awalnya membenarkan bahwa pihaknya yang melaporkan dugaan penjualan Pulau Lantigiang ke polisi.

"Dijual ke pihak ketiga yang katanya orang di sana juga yang mengembangkan sarana wisata. Kalau transaksi itu kan tidak ada jual-beli pulau yang ada jual-beli tanah, tapi tanahnya lebih luas dari pulau. Pulaunya lah yang dijual karena ditransaksi tidak ada jual-beli pulau selalu kan jual-beli tanah," kata dia.

Pulau Lantigiang Selayar diketahui masuk wilayah Taman Nasional Taka Bonerate, Kepulauan Selayar. Pulau ini tidak berpenghuni dan berjarak 15 menit dari Pulau Jinato. Salah satu yang menarik di pulau ini adalah banyaknya penyu yang sedang bertelur sana.

Menindaklanjuti kasus ini, Polda Sulsel telah membentuk tim untuk mengusutnya.

Berikut 7 fakta teranyar heboh jual-Beli Pulau Lantigiang Selayar:


Selain Warisan, Penjual Klaim Pulau Lantigiang karena Tanam Pohon Kelapa

Syamsul Alam mengklaim memiliki Pulau Lantigiang Selayar karena pulau tersebut merupakan warisan nenek moyang, meski tidak memiliki dokumen kepemilikan. Tak hanya itu, Syamsul mengklaim memiliki Pulau Lantigiang Selayar karena menanam pohon kelapa.

"(Dasar klaim Syamsul Alam) Katanya warisan dari neneknya. (Dokumen) Tidak ada, kan tanah di sini tidak ada surat. Klaim saja," ujar Kasat Reskrim Polres Panakkukang Iptu Syaifuddin kepada detikcom, Selasa (2/2/2021).

Selain warisan nenek moyang, Syamsul Alam juga mengklaim lahan di Pulau Lantigiang dengan dasar telah menanam pohon kelapa di sana.

"Iya (dasar tanam pohon kelapa), pohon kelapa saja itu 2019 baru ada, baru 9 bulanan," kata Syaifuddin.

Atas fakta tersebut, Syaifuddin menyebut Syamsul Alam diduga hanya asal klaim karena tidak punya dasar yang kuat.

"Berbohong dia bahwa ini dia katakan bahwa ini tanahnya. Hanya mengaku-mengaku saja tidak ada surat, harusnya kan minimal PBB-nya, pajak, nggak ada pajak," katanya.

Atas fakta tersebut, penyidik Polres Selayar akan menjadwalkan kembali pemeriksaan terhadap Syamsul Alam dan keponakannya bernama Kasman. Selain itu, polisi juga akan memintai keterangan terhadap wanita Asdianti sebagai pembeli.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5 6