Pernyataan Lengkap Lapan soal Meteorit Timpa Rumah Warga Tapteng Josua

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 19 Nov 2020 19:26 WIB
Kisah Josua Hutagalung, penemu batu meteor asal Sumatera Utara: Saya jual Rp200 juta, ternyata harganya Rp26 miliar
Kisah Josua Hutagalung, penemu batu meteor asal Sumatera Utara. (BBC Magazine)
Jakarta -

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menjelaskan soal perlintasan benda antariksa yang masuk pantauannya. Disebutkan, Lapan kesulitan memantau perlintasan meteorit karena tidak bisa diperkirakan.

"Meteorit tidak dipantau oleh Lapan, karena lintasannya tidak dapat diprakirakan. Berbeda dengan meteorit, sampah antariksa dipantau oleh Lapan karena lintasannya dapat diprakirakan," ujar Lapan Koordinator Bidang Kehumasan, Jasyanto, dalam keterangannya, Kamis (19/11/2020).

Jasyanto menjelaskan benda jatuh antariksa merupakan benda dari luar angkasa yang memasuki atmosfer bumi hingga ketinggian kurang dari 120 km. Dijelaskan, benda-benda di luar bumi itu ada yang habis terbakar atmosfer, ada juga yang sampai ke bumi.

Dipaparkan, benda jatuh dari antariksa awalnya hanya benda-benda alami, seperti meteorit. Tapi sejak adanya peluncuran roket, benda jatuh itu bisa berupa benda buatan.

"Benda buatan yang jatuh ke bumi adalah bagian dari sampah antariksa karena tidak memiliki fungsi lagi. Meteorit adalah batuan antariksa yang berasal dari batuan di tata surya terdiri dari pecahan asteroid, komet, atau batuan tata surya lainnya," tuturnya.

Meteorit, kata Jasyanto, bisa jatuh ke bumi. Dan, secara umum meteorit ini bisa dimiliki siapa saja yang menemukan.

"Kecuali ada nilai ilmiah atau terkait keamanan dan keselamatan yang perlu ditindaklanjuti oleh Lapan," jelas dia.

Jasyanto kemudian menjelaskan soal meteorit yang jatuh di Tapanuli Tengah, Sumut. Dia mengatakan meteorit yang jatuh adalah meteorit yang umum dan tidak berbahaya.

Dari segi ukuran, lanjut dia, meteorit yang menimpa rumah Josua di Tapteng bukan sesuatu hal yang istimewa. Maka dari itu, Lapan tidak menindaklanjuti temuan meteorit tersebut.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, kata Jasyanto, sampah antariksa berbahaya jika jatuh ke bumi.

"Meteorit umumnya tidak berbahaya, kecuali dampak tumbukannya ketika jatuh ke Bumi, tetapi sangat kecil kemungkinan mengenai manusia. Sampah antariksa memiliki potensi bahaya dari kandungannya, seperti sisa bahan bakar yang beracun atau muatan nuklir," kata dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2