Sumpah Pemuda

Saat Demonstran Menggubah Sumpah Pemuda Jadi Sumpah Mahasiswa

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 14:20 WIB
Massa yang tergabung dari mahasiswa dan buruh melakukan aksi Long march dari Patung Kuda menuju Istana Negara, Jakarta, Jumat (20/10/2017).
Foto ilustrasi demonstrasi mahasiswa, tidak berhubungan langsung dengan berita. (Agung Pambudhy/deitkcom)
Jakarta -

Di momen peringatan Sumpah Pemuda, demonstrasi mahasiswa menyeruak. Itu pula yang terjadi di era Orde Baru. Demonstran menggubah Sumpah Pemuda menjadi Sumpah Mahasiswa yang terus dikumandangkan mahasiswa hingga sekarang.

Begini bunyi Sumpah Mahasiswa yang kesohor itu:

Sumpah Mahasiswa

Kami mahasiswa-mahasiswi Indonesia mengaku,
Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.
Berbangsa satu, bangsa yang gandrung keadilan.
Berbahasa satu, bahasa kebenaran

Pembuat Sumpah Mahasiswa itu adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1984 bernama Afnan Malay. Dia pertama kali mengucapkan Sumpah Mahasiswa saat berorasi di acara peringatan Sumpah Pemuda, di Gedung Litbang Fisipol, Sekip, Yogyakarta, 29 Oktober 1988, pagi hari.

"Saya yang buat Sumpah Mahasiswa, tahun 1988," kata Afnan kepada detikcom, Rabu (28/10/2020).

Sumpah Mahasiswa ada pada bagian penutup makalah orasinya yang berjudul 'Menghadang Si Pemerkosa'. Makalah itu berisi kritik atas cibiran pihak mahasiswa lain yang tidak setuju dengan aksi turun ke jalan. Afnan menganalogikan mahasiswa yang menghambat demonstrasi sebagai pemerkosa.

"Saat itu yang hadir di bawah 100 oranglah. Kita kemudian reli ke DPRD DIY pakai tali rafia karena takut dimasuki penyusup," kata Afnan.

Orasi dalam peringatan Sumpah Pemuda yang diadakan mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi ke Gedung DPRD DIY. Saat itu mereka menentang Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang diterapkan pemerintah Orde Baru rezim Presiden Soeharto. Ngomong-ngomong, dari mana inspirasi Sumpah Mahasiswa itu?

"Inspirasinya dari Sumpah Pemuda," kata mantan Ketua Presidium Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini.

Dia tidak merasa takut diciduk aparat Orde Baru gara-gara memelesetkan Sumpah Pemuda. Dia merasa Sumpah Mahasiswa bukan pelesetan Sumpah Pemuda, melainkan Sumpah Pemuda yang diberi roh baru.

"Saya menganggap, kita ini sudah bangsa Indonesia, tanah air kita sudah Indonesia, bahasa kita sudah Bahasa Indonesia. Terus mau apa? Saya mengisi roh, seharusnya tanah air tanpa penindasan dong, bangsanya harus gandrung keadilan dong, harus berbahasa kebenaran dong," tutur pria yang baru menerbitkan kumpulan puisi 'Tentang Presiden dan Pelajaran Membaca' ini.

Afnan Malay, pencipta Sumpah Mahasiswa. (Dok Pribadi)Afnan Malay, pencipta Sumpah Mahasiswa. (Dok Pribadi)

Menyebar ke seluruh Indonesia

Sumpah Mahasiswa yang dia bikin menyebar ke seluruh Indonesia. Sebab pertama, kata Afnan Malay, ada liputan dari majalah 'Jakarta Jakarta' yang menerbitkan laporannya soal demo 29 Oktober 1988 saat itu. Namun tak ada nama Afnan Malay di situ. Selain itu, Sumpah Mahasiswa rutin dibacakan di pertemuan-pertemuan mahasiswa.

"Kita berjejaring lewat pers mahasiswa, termasuk dengan Politika yang digawangi mahasiswa UNAS Amir Husain Daulay. Kita tiap tahun ketemu. Amir bikin stiker berisi Sumpah Mahasiswa. Tetap, tidak ada nama Afnan Malay di stiker-stiker itu," kata dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2