Satgas Luncurkan Sistem Monitoring Perubahan Perilaku, Libatkan TNI-Polri

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 17:39 WIB
Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito
Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito. (Foto: Satgas Penanganan COVID-19)
Jakarta -

Satgas COVID-19 meluncurkan sistem monitoring perubahan perilaku manusia di masa pandemi. Sistem ini bisa menghasilkan data terkait Corona secara real time ini membuat aduan pelanggaran protokol kesehatan.

"Sistem ini dirancang untuk menghasilkan data yang real time, terintegrasi, sistematis, interoperabilitas, dan sistem yang melibatkan koordinasi antar lintas sektor," kata Juru Bicara (Jubir) Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito, saat jumpa pers di akun YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (27/10/2020).

Wiku menerangkan dalam sistem yang diberi nama Bersatu Lawan COVID ini, pengguna bisa ikut memasukkan data terkait pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan secara real time. Laporan itu nantinya diolah menjadi data statistik untuk mengetahui lebih rinci mengenai lokasi terbanyak hingga ditemukannya pelanggaran.

Sistem BLC Monitoring Perubahan Perilaku.Sistem BLC Monitoring Perubahan Perilaku. (Foto: screenshoot video)

Lebih lanjut, data statistik itu juga bisa digunakan untuk mengoptimalkan operasi Yustisi. Fitur yang menonjol dalam sistem ini yakni kuesioner untuk melaporkan kerumunan baik individu maupun institusi.

"Fitur ini digunakan untuk melihat dan melaporkan kepatuhan individu dan institusi terhadap protokol kesehatan. Selain itu data yang dimasukkan dapat digunakan memetakan lokasi termasuk institusi yang masih perlu ditingkatkan kedisiplinannya terhadap protokol kesehatan," jelas Wiku.

Sistem ini sudah berjalan selama empat minggu. Dan, berdasarkan data per 26 Oktober kemarin sudah terpantau sebanyak 18 juta orang, lalu dipantau juga 3 juta titik di seluruh Indonesia, kemudian 495 kabupaten kota yang terpantau, dan seluruh Provinsi di Indonesia juga sudah dalam pemantauan.

"Melalui dashboard ini pula dapat dipetakan wilayah di Indonesia yang masih perlu ditingkatkan kedisiplinannya terhadap protokol kesehatan, data ini diolah, di dalam aplikasi nantinya dapat digunakan untuk menentukan kebijakan mendorong perubahan prilaku masyarakat di tengah pandemi COVID-19," ujar Wiku.

Dia menjabarkan sistem ini pada umumnya untuk mengantisipasi penularan virus antar manusia. Sebab salah satu kunci pencegahan yakni perubahan perilaku.

Data Satgag COVID-19 soal sistem BLC monitoring perubahan perilaku.Data Satgas COVID-19 soal sistem BLC monitoring perubahan perilaku. (Foto: screenshoot video)

Maka itu upaya preventif dan promotif terhadap pandemi, kata Wiku harus ada upaya kemitraan multi sektoral. Merujuk pada WHO, selain itu juga diperlukan edukasi dan aktivitas komunikasi sosial yang tujuannya untuk gaya hidup perilaku, termasuk komunikasi risiko.

"Dalam mengoperasikan sistem ini satgas betul-betul mempertimbangkan aspek kemitraan karena dalam menjalankan melawan virus ini kita tak bisa bekerja sendiri. Dari semua kalangan masyarakat kita sudah mulai bekerja sama salah satunya dari TNI, sekarang ada lebih dari 95 ribu orang di lapangan yang melaporkan setiap detik kepada kami di satgas. Begitu juga Polri hampir 200 ribu yaitu 196 ribu petugas di lapangan seluruh Indonesia. Kemudian relawan satgas bidang perubahan perilaku sebanyak 17 ribu dan Satpol PP," ucapnya.

Wiku mengingatkan tidak adanya toleransi terhadap pelanggaran protokol kesehatan.

"Ingat tidak ada toleransi dengan ketidakpatuhan protokol kesehatan, jika sudah ada bukti terkait pelanggaran harus ditindak dengan tegas," ucap Wiku.

(idn/imk)