Round-Up

Fenomena Pelajar Demo: Alasan Ikut Serta hingga Solusinya

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 07:22 WIB
Massa berlarian usai dibubarkan pasukan Brimob dengan menggunakan gas air mata di Gambir, Jakarta, Selasa (13/10/2020).
Ilustrasi polisi membubarkan demo ricuh. (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Pelajar ikut demo menjadi fenomena tersendiri belakangan ini. Dari ratusan pelajar yang diamankan Polres Jaksel, sebagian besar tidak mengerti apa yang didemo ataupun materi omnibus law UU Cipta Kerja itu.

Fenomena ini menimbulkan permasalahan baru. Karena mayoritas pelajar yang diamankan bukan mau menyampaikan unjuk rasa, tetapi mau membuat kericuhan dengan membawa batu, bambu, dan benda-benda lainnya.

Wakapolres Metro Jakarta Selatan AKBP Antoius Agus mengatakan para pelajar itu mengaku ikut demo karena ada ajakan di media sosial. Selama dua kali demo omnibus law UU Cipta Kerja, sudah ada 288 anak di Jakarta Selatan yang diamankan polisi karena ikut demo. Sebanyak 57 di antaranya masih berstatus sebagai siswa SMP dan SMA di 28 sekolah di Jakarta Selatan.

"Rata-rata, pertama, ajakan grup medsos ikut-ikutan. Kalau kita pahami, pandemi ini kan sudah berbulan-bulan, panas itu darahnya, ikut-ikutan pasti," kata AKBP Antonius di Polres Jaksel, Jumat (16/10/2020).

Mayoritas pelajar yang diamankan hendak berdemo ternyata tidak memahami apa itu omnibus law UU Cipta Kerja yang sedang didemo.

"Kedua, 'tahu nggak, ini yang didemokan, tahu nggak?'. Sebenarnya mereka nggak paham apa yang diinginkan. Ini kadang-kadang kita sedih, karena apa? Dari beberapa kasus memulai keributan, terlihat adik-adik ini memunculkan pertama. Jadi jangan sampai adik-adik ini dimanfaatkan sama pihak tak bertanggung jawab, disuruh duluan," tutur Antonius.

Meski begitu, Polres Jaksel tidak memilik sanksi blacklist Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) bagi pelajar demo karena dinilai tidak akan menyelesaikan masalah.

"SKCK di-blacklist itu tidak menyelesaikan masalah. Karena, bagaimanapun, kita bisa mengeksploitasi, intinya pembinaan," kata AKBP Antonius Agus kepada wartawan di Polres Jaksel, Jl Wijaya, Jakarta Selatan, Jumat (16/10/2020).

Antonius menilai para pelajar hanya dimanfaatkan oleh sekelompok oknum tidak bertanggung jawab. Sebab, faktanya, sebagian besar pelajar tidak mengerti persoalan apa yang tengah didemo.

Selanjutnya
Halaman
1 2