6 Bulan Corona di Aceh: Polemik Jam Malam-'Ledakan' Kasus Usai Dipuji Jokowi

Agus Setyadi - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 12:47 WIB
Suasana sepinya kota Banda Aceh di hari pertama Ramadhan (Agus Setyadi-detikcom)
Foto Ilustrasi Kota Banda Aceh (Agus Setyadi/detikcom)
Banda Aceh -

Pandemi virus Corona berdampak besar terhadap berbagai sektor di Aceh. Dunia pariwisata lumpuh hingga ledakan kasus besar-besaran terjadi usai libur hari raya Idul Adha 1441 H.

Kasus virus Corona di Aceh pertama terdeteksi pada akhir Maret 2020. Saat itu, satu orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) asal Lhokseumawe meninggal dunia. Tiga hari berselang, pasien berinisial AA (56) dinyatakan positif COVID-19.

Kasusnya pun kemudian sempat landai. Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan memberikan apresiasi kepada Pemerintah Aceh karena dinilai sangat bagus dalam melakukan penanganan Corona.

Pujian itu disampaikan Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Rabu (15/7). Lima belas hari berselang, Aceh mengalami ledakan kasus.

Berikut ini perjalanan penyebaran virus Corona dalam kurun sekitar 6 bulan di Aceh:

Kasus Positif Pertama

Virus Corona pertama di Aceh terdeteksi setelah seorang PDP asal Lhokseumawe meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh pada 23 Maret lalu. Pria berinisial AA (56) diketahui mempunyai riwayat perjalanan ke Bogor, Jawa Barat, serta sejumlah daerah.

Pemakaman AA dilakukan mengikuti protokol penanganan jenazah Corona. Tiga hari berselang, tim gugus tugas mengkonfirmasi AA positif COVID-19.

"PDP yang meninggal asal Lhokseumawe positif Corona," kata Direktur RSUZA Banda Aceh dr Azharuddin saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (26/3/2020).

Menurutnya, hasil tersebut diketahui setelah pihak rumah sakit mendapat informasi dari posko resmi Balitbangkes Kementerian Kesehatan di Jakarta.

"Ini merupakan kasus pertama positif untuk Aceh," jelasnya.

Gugus Tugas Aceh kemudian melakukan pelacakan kontak erat dengan AA. Namun tidak ada yang positif.

Tonton video 'Setengah Tahun COVID-19 di Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



Pemprov Berlakukan Jam Malam

Setelah kasus positif Corona diketahui, Pemerintah Aceh sempat memberlakukan jam malam untuk mencegah virus merebak. Jam malam berlaku sejak 29 Maret dan rencananya berlangsung hingga dua bulan.

Keputusan pemberlakuan jam malam diambil Pemerintah Aceh bersama unsur Forkopimda Aceh. Dalam edaran itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di luar rumah pada penerapan jam malam sejak pukul 20.30 WIB sampai pukul 05.30 WIB. Ketika memasuki jam malam, warga Tanah Rencong harus berada di rumah masing-masing.

Selain itu, maklumat juga mengatur pengelola kegiatan usaha tidak membuka warung kopi/kafe, tempat makan dan minum, pasar, swalayan, mal, karaoke, tempat wisata, tempat olahraga, dan angkutan umum pada penerapan jam malam.

"Kecuali bagi angkutan umum yang melayani kebutuhan pokok masyarakat, dilengkapi dengan surat tugas atau dokumen yang menjelaskan aktivitas kerja," isi maklumat tersebut seperti dikutip detikcom dari rilis Pemerintah Aceh, Senin (30/3/2020).

Namun setelah seminggu berlangsung, aturan jam malam dicabut. Warga kembali beraktivitas seperti biasa.

Pemprov Siapkan Rp 1,7 Triliun Tangani Corona

Pemerintah Aceh melakukan refocusing anggaran sebesar Rp 1,7 triliun untuk penanganan pandemi virus Corona. Dana itu bakal dipakai bila Tanah Rencong menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Dana sebanyak Rp 1,7 triliun itu adalah dana yang berpeluang untuk digunakan sebagai dana penanganan COVID-19 jika terjadi sesuatu," kata Sekretaris Daerah Aceh, Taqwallah dalam keterangannya, Kamis (7/5/2020).

Belum diketahui jumlah dana yang sudah dihabiskan untuk menangani pandemi.

Persentase Kemiskinan Menurun di Tengah Pandemi

Jumlah penduduk miskin di Aceh mengalami penurunan secara persentase di tengah pandemi Corona. Dalam data yang dirilis BPS Aceh, presentase penduduk miskin Aceh pada Maret 2020 yaitu 14,99 persen atau turun 0,02 persen dibandingkan September 2019. Enam bulan lalu, persentase penduduk miskin adalah 15,01 persen.

"Sedangkan dibandingkan Maret 2019 turun 0,33 persen," kata Kepala BPS Aceh Ihsanurrijal dalam konferensi pers virtual, Rabu (15/7/2020).

Meski secara persentase menunjukkan penurunan, jumlah penduduk miskin di Aceh mengalami penambahan sekitar 5 ribu orang. Pada Maret 2020, jumlah warga miskin di Tanah Rencong sebanyak 814,91 ribu orang atau bertambah dibandingkan September 2019 yang sebesar 809,76 ribu orang.

"Bila dibandingkan Maret 2019, berkurang 4,5 ribu orang sebanyak 819,44 ribu orang," ujar Ihsanurrijal.

Pujian dari Jokowi dan 'Ledakan' Kasus Setelahnya

Jokowi sempat memberikan apresiasi kepada Pemerintah Aceh karena dinilai bagus melakukan penanganan virus Corona. Pujian itu disampaikan Presiden Jokowi kepada Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, sebelum dimulainya rapat tentang percepatan penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2020, di Istana Kepresidenan Bogor, Rabu 15 Juli 2020, yang dihadiri puluhan gubernur dari seluruh Indonesia.

"Saya tadi dipanggil khusus oleh Presiden sebelum rapat, sekitar 7 menit. Presiden mengapresiasi bahwa Aceh itu masuk tiga besar penanganan COVID-19 terbaik," kata Nova seperti disampaikan dalam keterangan pers Badan Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta.

Nova merincikan ketiga daerah yang masuk tiga besar terbaik seluruh Indonesia dalam menangani COVID-19, di antaranya Yogyakarta, Bangka Belitung, dan Aceh.

"Itu tidak ada nomor satu sampai tiga. Karena semua dianggap baik. Dan Presiden mengapresiasi itu," ujarnya.

Namun, kasus Corona di Aceh mengalami lonjakan sejak 30 Juli lalu. Hari itu, ada penambahan 74 kasus positif sehingga totalnya menjadi 312 kasus.

"Total kasus hari ini 74 orang. Terbanyak di Banda Aceh," kata Kepala Dinas Kesehatan Aceh dr Hanif saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (30/7/2020).

Memasuki Agustus atau setelah Lebaran Idul Adha, ledakan kasus besar-besar terjadi. Pada Senin, 17 Agustus lalu, kasus positif di Aceh menembus 1.043 orang karena ada penambahan 168 kasus baru.

Kini kasus Corona di Tanah Rencong mencapai 1.793 orang.

"Jumlah akumulatif COVID-19 di Aceh per tanggal 3 September 2020, pukul 15.00 WIB, telah mencapai 1.793 orang. Rinciannya sebanyak 1.021 orang dalam perawatan, 700 orang dinyatakan sembuh, dan 72 orang meninggal dunia," kata Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani, kepada wartawan, Jumat (4/9/2020).

Pariwisata Lumpuh

Pandemi virus Corona berdampak besar terhadap dunia pariwisata. Dalam tiga bulan terakhir, tidak ada turis asing yang melancong ke Tanah Rencong.

Berdasarkan data dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, sejak Mei hingga Juli tidak ada seorang pun turis asing yang berwisata ke Serambi Mekah. Kondisi ini akibat pembatasan penerbangan dan pelayaran karena pandemi Corona.

"Selama pembatasan penerbangan dan pelayaran luar negeri, maka jumlah kedatangan wisatawan mancanegara pada bulan Juli pun menjadi tidak ada," kata Kepala BPS Aceh Ihsanurijal, Rabu (2/9/2020).

Pariwisata Aceh terakhir berdenyut pada Maret lalu dengan jumlah turis asing 2.389 orang. Pelancong terbanyak berasal dari Malaysia 2.047 orang, Jerman 30 turis, serta Singapura 28 turis.

Sebulan kemudian, jumlah kunjungan merosot drastis. Pada April, hanya ada satu turis yang berlibur ke provinsi ujung paling barat Indonesia.

"Jumlah wisman secara kumulatif dari Januari-Juli adalah sebanyak 10.402 orang, mengalami penurunan sebesar 35,65
persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019," jelas Ihsanurijal.

Pemprov Gebrak Masker

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh menyebar 19.735 orang hingga ke pelosok desa untuk mengkampanyekan Gerakan Masker Aceh (Gema). Program ini bagian dari kampanye Gebrak Masker yang digaungkan Pemerintah Pusat.

"Kita melibatkan semua stakeholder. Gema ini menyasar seluruh masyarakat sampai ke tingkat rumah tangga," kata Nova dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (1/9/2020).

Tim yang diberangkatkan tersebut bakal menggelar kampanye serentak pada Jumat 4 September mendatang. Kampanye pakai masker digelar di 3.883 mesjid serta 6.497 desa dengan pesan utamanya "Ingat COVID-Ingat Masker!"

"Pesan Gema akan disampaikan melalui khutbah Jumat dan media informasi baliho, spanduk dan poster," jelas Nova.

Nova mengatakan, program Gema dibikin karena angka kasus COVID-19 di Aceh saat ini sudah masuk kategori memprihatinkan. Tingkat penularan meningkat tajam.

"Berbagai upaya seperti pengobatan atas pasien dan pencegahan telah dilakukan. Namun upaya-upaya itu dinilai belum maksimal. Karena itu, pemerintah kemudian menggerakkan Gema, bagian gerakan Gebrak Masker yang dilakukan di seluruh Indonesia," jelas Nova.

(agse/haf)