Orang Tua Siswa di Zona Kuning: Sekolah Tatap Muka Bak Simalakama

Haris Fadhil, Danu Damarjati - detikNews
Senin, 10 Agu 2020 16:26 WIB
Petugas Pemadam Kebakaran Sektor 2 Koja melakukan penyemprotan di SMKN 1, Lagoa, Jakarta Utara, Senin (13/7). Penyemprotan ini dilakukan untuk mempersiapkan sekolah di Jakarta Utara bebas COVID-19 jika nantinya kembali belajar tatap muka di lingkungan sekolah.
Gambar ilustrasi ruang kelas sekolah yang disemprot disinfektan. (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah mengizinkan pembukaan kembali sekolah-sekolah di zona kuning penyebaran COVID-19. Reaksi para orang tua siswa beragam, ada yang khawatir, ada pula yang setuju.

Kota Serang Provinsi Banten menjadi salah satu dari 163 zona kuning per 2 Agustus. Muhammad Tohir yang bermukim di Kota Serang, Banten, berulang kali berpikir apakah nantinya akan mengizinkan anaknya berangkat ke sekolah atau melarangnya.

"Ini memang dilematis, seperti makan buah simalakama kalau kata pepatah mah," kata Tohir (36) saat berbincang lewat telepon kepada detikcom, Senin (10/8/2020).

Tohir punya dua anak, yang pertama adalah gadis kecil kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Si bungsu masih berusia setahun. Istrinya adalah ibu rumah tangga. Tohir menghidupi keluarganya dengan cara bekerja di perusahaan swasta di Cilegon. Duit Rp 150 ribu adalah nominal minimal yang bisa dipakai anaknya untuk ikut belajar daring.

"Kan sejak pandemi COVID-19, gaji dipotong sehingga uang sedikit saja saat ini sangat berarti. Kalau saat normal, uang Rp 150 ribu terasa biasa saja, tapi kalau sekarang berharga banget," kata Tohir.

Dia paham, sekolah tatap muka bisa mengurangi biaya belajar daring dari putrinya. Namun di sisi lain, sekolah tatap muka bisa berisiko menularkan COVID-19. Tapi dia lantas menggunakan logikanya.

"Tapi kalau harus memilih sih lebih baik sekolah tatap muka tapi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat," kata Tohir.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4