Round-Up

10 Fakta Akhir Pelarian Pembobol BNI Rp 1,7 T Maria Pauline Lumowa

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Jumat, 10 Jul 2020 06:16 WIB
Menko Polhukam Mahfud MD (kiri) didampingi 
Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly (kanan) menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait ekstradisi buronan pelaku pembobolan Bank BNI Maria Pauline Lumowa di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (9/7/2020). Tersangka pelaku pembobolan kas Bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif sebesar Rp1,7 triliun diekstradisi dari Serbia setelah menjadi buronan sejak 2003. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz.
  *** Local Caption ***
Maria Pauline Lumowa / Foto: ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA

Begini Lobi Diam-diam RI ke Serbia

Berbagai upaya lobi-lobi dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengekstradisi Maria Pauline Lumowa yang kini berkewarganegaraan Belanda.

"Ini adalah proses pencarian yang panjang yang kita lakukan untuk menunjukkan negara kita adalah negara hukum. Dan mencoba sebaik mungkin. Perjalanannya ini memang agak tertutup," ungkap Yasonna dalam konferensi pers di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Kamis (9/7/2020).

Menurut Yasonna, Maria Pauline Lumowa awalnya melarikan diri ke Singapura kemudian ke Belanda. Pemerintah Indonesia meminta agar perempuan yang buron selama 17 tahun tersebut diekstradisi ke Indonesia.

"Setelah melarikan diri ke Singapore dan melarikan diri ke Belanda, kita sudah melakukan upaya-upaya hukum juga untuk meminta agar yang bersangkutan diekstradisi dari Belanda, 2 kali ya. Tapi pemerintah Belanda menolak dengan alasan kita belum mempunyai perjanjian ekstradisi dengan Belanda," sebut Yasonna.

Kemudian 1 tahun lalu, Maria Pauline Lumowa berhasil ditangkap NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla, Serbia, pada 16 Juli 2019. Pemerintah Indonesia melakukan pendekatan kepada pemerintah Serbia.

Pasca-tertangkapnya kita terus memantau. Setelah pemberitahuan dari Pemerintah Serbia, Interpol Serbia, Dirjen AHU (Administrasi Hukum Umum) tahun lalu langsung mengirimkan surat permintaan percepatan permintaan ekstradisi tanggal 31 Juli 2019. Kemudian kita susul lagi dengan surat tanggal 3 September 2019 permintaan percepatan ekstradisi yang disampaikan surat dari AHU," paparnya.

Yasonna mengatakan pihaknya melakukan pendekatan tingkat tinggi agar Maria Pauline Lumowa bisa diekstradisi. Bahkan ia sendiri melakukan negoisasi langsung.

"Kemudian kita melakukan pendekatan-pendekatan high level dengan Pemerintah Serbia. Sebelum saya ke sana, staf dari Ditjen AHU, interpol kita terus melakukan upaya pendekatan. Setelah ada negoisasi, saya sendiri saya melaporkan melalui Mensesneg bahwa diperlukan langkah-langkah. Karena kalau kita lewat tanggal 16 mereka masa penahanannya akan berakhir dan mau tidak mau harus dibebaskan," ucap Yasonna.

Buron Maria Pauline Lumowa tiba di IndonesiaBuron Maria Pauline Lumowa tiba di Indonesia Foto: Luqman Arun/detikcom

Pesan Yasonna ke Maria dan Pemulihan Aset

Ada pesan dari Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly bagi buronan Maria Pauline Lumowa. "Jadi ini barangkali yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan apa yang kita lakukan ini baik untuk bangsa," kata Yasonna dalam jumpa pers di Bandara Soetta, Kamis (9/7/2020).

"Saya katakan you can run but you cannot hide," sebut Yasonna.

Yasonna mengaku memegang prinsip 'You can run but you cannot hide' yang artinya 'Anda bisa lari tapi tak bisa bersembunyi' itu.

"Ini barangkali yang mau kita, prinsip ini yang harus kita tegakkan terus," tegas Yasonna.

Selain itu, Yasonna menjelaskan aparat tak menutup kemungkinan melakukan pemulihan aset dari kasus Maria Pauline Lumowa. Ada kemungkinan aset Maria Pauline Lumowa di luar negeri juga bakal disasar setelah proses penyidikan tuntas.

"Melalui proses hukum ini, nanti setelah penyidikan tentunya, kami, penegak hukum lainnya, bersama-sama akan melakukan asset recovery kalau ada harta-harta diperkirakan masih ada dan belum dapat kita ada harta-harta yang di negera lain, termasuk Belanda," tegas Yasonna.

Halaman

(aan/imk)