PGRI soal Pesantren Dibuka: Tak Ada Jaminan Protokol Kesehatan Dijaga Ketat

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Jumat, 12 Jun 2020 06:26 WIB
Ketua PGRI Unifah Rosyidi
Foto: Ketua PGRI Unifah Rosyidi. (Fida-detikcom)
Jakarta -

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengusulkan agar pemerintah menunda untuk membuka pesantren di masa pandemi virus Corona (COVID-19). PGRI menilai potensi penularan Corona di pesantren besar karena banyak kegiatan yang dilakukan bersama-sama.

"Masukannya adalah pesantren, madrasah, sekolah itu sama. Jadi, kalau ditetapkan nanti (belajar tatap muka), ya, nanti. Karena siapa sih yang bisa menjamin? Di pesantren itu kan anak-anak tidur bareng, makan bareng, biasanya ruangannya itu bersama-sama. Itu kan nggak ada yang bisa menjamin bahwa itu protokol kesehatan bisa dijaga dengan ketat. Mereka nanti piring makan bersama, bercanda bersama, tidur bersama," kata Ketua Umum PB PGRI, Unifaf Rosyidi saat dihubungi, Kamis (11/6/2020).

Selain itu, Unifah menyebut tidak semua santri berasal dari dari daerah zona hijau. Menurutnya, pesantren yang berada di zona hijau tidak menjamin bahwa seluruh santri dan gurunya juga berasal dari zona hijau pula.

"Terus mereka datangnya dari orang tuanya apakah orang tuanya (zona) hijau, kuning, merah, kan kita nggak tahu. Di pesantrennya daerahnya hijau, tapi asal dari santrinya kan dari berbagai macam, juga dari gurunya, dari ustadnya," jelasnya.

"Dari surveinya PGRI-kan sekolahnya daerah hijau, guru-gurunya banyak tinggal di daerah merah, karena lintas. Misalnya di Jakarta, dia ada di Jabodetabek di daerah mana yang kebetulan merah. Jadi, menurut saya, sangat riskan," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2