Diplomasi Nasi Kuning dan Pesan Alam di Paviliun Indonesia

Laporan dari Madrid

Diplomasi Nasi Kuning dan Pesan Alam di Paviliun Indonesia

Mei Amelia Rahmat - detikNews
Rabu, 04 Des 2019 21:39 WIB
Paviliun Indonesia. (Foto: Mei Amelia/detikcom)
Paviliun Indonesia. (Foto: Mei Amelia/detikcom)
Madrid - Paviliun Indonesia pada konferensi perubahan iklim (COP25) di Madrid, Spanyol, telah resmi dibuka. Pembukaan paviliun ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung di COP25.

Paviliun Indonesia dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar, Rabu (4/12/2019) waktu setempat. Opening ceremony ini dihadiri oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong, Duta Besar RI untuk Spanyol Hermono hingga sejumlah delegasi RI.

Untuk menarik perhatian pengunjung, delegasi RI menampilkan pertunjukan kesenian berupa Tari Ksatria dari Bali. Tidak hanya itu, Indonesia juga menyiapkan kuliner khas budaya, seperti nasi kuning, teh hingga kopi nusantara.

Paviliun Indonesia.Paviliun Indonesia. (Foto: Mei Amelia/detikcom)




Sajian nasi kuning membuat pengunjung di paviliun Indonesia membludak. Para pengunjung dari negara-negara lain rupanya tertarik mencicipi nasi kuning Indonesia.

Salah satunya, Sonya dari Angola terkesan dengan penampilan Paviliun Indonesia yang menonjolkan budaya lokal.

"Ya, menarik. Di dalam saya lihat (backdrop) rumah dari bambu, menarik sekali," kata Sonya.



Dan tentunya, Sonya pun terkesan dengan sajian nasi kuning di paviliun Indonesia.

"Enak, ini enak," kata dia.

Paviliun Indonesia.Paviliun Indonesia. (Foto: Mei Amelia/detikcom)


Pesan Alam

Tidak hanya itu, Indonesia juga menampilkan kesenian Indonesia yakni Tari Kesatria sari Bali. Tarian tersebut menceritakan seorang kesatria yang berinteraksi dengan Hanoman (tokoh pewayangan) di hutan.

Tarian itu sendiri menjadi sebuah pesan kepada manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Gede Putu Witsen (19), yang membawakan tarian menyebut bahwa salah satu aksi nyata untuk mengatasi perubahan iklim adalah dengan menjaga keseimbangan alam yang sesuai dengan filosofi Tri Hita Karana.



"Ini kan ajang climate change, kalau mau memperbaiki climate change ini perlu harmoni dengan Tuhan, alam dan manusia, ini harus koneksi," kata Gede.

"Jadi bagaimana kita hidup, bagaimana kita ngomong dan berinteraksi dengan alam itu sangat penting," sambung Gede.

Diplomasi Lunak

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Alue Dohong menyebutkan bahwa paviliun Indonesia merupakan bentuk diplomasi lunak. Diharapkan, dengan adanya diplomasi lunak ini Indonesia mendapatkan dukungan negara-negara lain dalam menentukan sikap dalam upaya menangani perubahan iklim.

"Iya tentunya paviliun ini menjadi bagian soft diplomacy kita, selain kita melakukan hard diplomacy berupa negosiasi di sidang pleno," kata Alue.



Salah satu poin penting yang menjadi fokus Indonesia dalam COP25 ini adalah mencapai kesepakatan pada artikel 6 Persetujuan Paris. Indonesia sendiri mempertahankan mekanisme nonpasar untuk mengurangi emisi karbon.

Indonesia sendiri memiliki target dalam upaya mengurangi peningkatan suhu udara 1,5 derajat celcius adalah dengan menekan emisi udara sebanyak 29 persen dari usaha sendiri dan bantuan dunia 41 persen. (mea/idn)