Olahan Sabut Kelapa Lamongan Terbang ke China Hingga Negara Eropa

Eko Sudjarwo - detikNews
Minggu, 26 Des 2021 11:25 WIB
hasil olahan sabut kelapa terbang ke china
Coco crasher yang menyulap sabut kelapa menjadi cocofiber dan cocofeat (Foto: Eko Sudjarwo)
Lamongan - Pandemi bukan penghalang untuk inovasi. Ini yang dilakukan warga Lamongan yang menyulap sabut kelapa menjadi produk yang diminati pasar luar negeri. Dua produk itu adalah cocofeat atau serbuk buah kelapa dan cocofiber yang kini sudah tembus pasar China.

Adalah Eko Yuliansyah, warga Kecamatan Pucuk yang mampu menyulap limbah serat kelapa menjadi dua produk unggulan yang diminati China. Sembilan bulan Eko berusaha mengelola serabut kelapa secara benar sesuai kebutuhan dan permintaan customer untuk dijadikan cocofeat atau serbuk buah kelapa dan cocofiber.

"Limbah serat kelapa saat ini lagi tren untuk dimanufacturing dan 9 bulan terakhir ini saya berusaha keras mengolah serabut kelapa secara benar sesuai kebutuhan permintaan customer," kata Eko Yuliansyah saat berbincang dengan wartawan, Minggu (26/11/2021).

Eko menuturkan, setelah 9 bulan itu ia akhirnya sukses mengolah limbah serat kelapa menjadi cocofeat (serbuk buah kelapa) yang biasanya digunakan sebagai media tanaman. Selain itu, Eko juga menjadikan limbah serat kelapa itu menjadi cocofiber (serat buah kelapa) yang digunakan untuk membuat matras, jok mobil, cocomess, dan wiremess.

hasil olahan sabut kelapa terbang ke chinaSabut kelapa yang sudah diolah menjadi serat kelapa (Foto: Eko Sudjarwo)

"Permintaan datang dari Jepang, Korea, China, Dubai, Uni Emirat Arab, Israel dan beberapa negera Eropa. Tapi permintaan paling besar itu dari China," kata pria lulusan Fakultas Teknik Mesin ITS Surabaya 2004 ini.

Eko mengungkapkan Cocomess itu seperti wiremess tapi dianyam menjadi tali tambang yang berfungsi sebagai pengikat beton agar tidak patah seperti yang sering dijumpai di desa-desa. Sedangkan cocofeat, menurut Eko, memiliki keunggulan bisa menyimpan air meski dalan kondisi panas.

"Hasil olahan limbah yang diproses ini untuk cocofiber yang dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan matras, jok mobil, cocomess dan wiremess. Kalau Cocofeat disiram dan dioplos dengan pupuk," terang Eko.

Eko mengungkapkan untuk cocofeat ia mengirimkannya tidak dalam bentuk curah melainkan sudah dipress berbentuk blok. Karena, aku Eko, jika cocofeat curah harganya sangat murah. Jika dijual dalam bentuk curah, lanjut Eko, hanya seharga sekitar Rp 10 ribu per zak dengan berat 29 kg sementara kalau di ekspor ke China dan negara lainnya harga bisa berkali-kali lipat tapi harus di-press berbentuk blok.