Psikis Pasien dan Nakes RSLI Surabaya Terdampak Lonjakan Kasus COVID-19

Esti Widiyana - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 20:44 WIB
Konsultan Media Kejiwaan Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya, dr Kadek Ratna mengatakan, ada pendampingan untuk para nakes yang berkaitan dengan pekerjaan. Sejak kasus Corona di Bangkalan melonjak, pihaknya secara terbuka memberikan pelayanan konsultasi dan terapi untuk nakes.
Konsultan Media Kejiwaan Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya, dr Kadek Ratna/Foto: Esti Widiyana/detikcom
Surabaya -

Kasus COVID-19 di Jatim terus naik, terlebih sejak kasus di Bangkalan melonjak. Sejumlah nakes terpapar COVID-19 dan psikis mereka juga terdampak.

Konsultan Media Kejiwaan Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya, dr Kadek Ratna mengatakan, ada pendampingan untuk para nakes yang berkaitan dengan pekerjaan. Sejak kasus Corona di Bangkalan melonjak, pihaknya secara terbuka memberikan pelayanan konsultasi dan terapi untuk nakes.

"Kinerja yang tinggi saat ini memang ada pendampingan untuk nakes supaya psikisnya tidak bermasalah. Kita welcome untuk konsultasi, bukan cuma sharing para nakes juga akan diberikan terapi pendampingan," kata Ratna kepada wartawan di RSLI, Selasa (15/6/2021).

Menurutnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi psikis nakes, selain kelelahan saat ada lonjakan kasus COVID-19. Sebagian nakes juga tidak bisa memenuhi target karena jumlah pasien Corona lebih banyak.

"Beban pikiran juga bisa menjadi salah satu keluhan mereka. Kelelahan dan kurang istirahat karena menangani rumah sakit yang over. Makanya dari pihak kami meminta tambahan tenaga kesehatan karena saat ini tenaga kesehatan kami hanya ada 50an. Sedangkan pasien berjumlah 370 yang tengah dirawat," jelasnya.

Ia menambahkan, psikis pasien COVID-19 juga ikut terdampak, khususnya yang dari Madura. Pasalnya, pasien belum siap untuk diisolasi dan tidak merasa sakit meski positif COVID-19.

"Di sini pasiennya belum siap secara psikis, banyak yang mengeluh stres di sini. Jadi lebih emosi," ujarnya.

Pasien COVID-19 mengira akan ditahan, ditangkap, sehingga berpengaruh secara emosi. Saat emosi, pasien mengeluh sulit tidur, cemas dan ingin pulang bertemu keluarga.

"Banyak keluhan, banyak pasien ini emosinya lebih meledak karena belum siap. Pasien COVID-19 di sini diterapi sulit tidur, karena sangat mempengaruhi imunitas tubuh dia, pikiran, hormon dalam tubuhnya nggak stabil. Keluhan jadi bermacam-macam seperti berdebar karena ga ada sakit," urainya.

"Awalnya tidak ada batuk, pilek, jantung, tapi jadi sesak berat, cepat lelah, lemes, tak ada nafsu makan, disamping memang menyebabkan keluhan fisik. Normal memang tekanan psikis berat keluhannya, psikisnya stres gejalanya ke fisik," tambahnya.

Maka, ia melanjutkan, perlu dilakukan pendekatan dengan berkomunikasi atau terapi. "Obat jiwa, obat-obatan yang dipakai terbatas, cuma masih bisa diberikan ke pasiennya. Obat penenang ada jenis obat jiwa macam-macam, kalau cemas dikasih obat anticemas, debar, sesak, padahal batuk nggak, rontgen normal. Ada beberapa kita kasih obat biar cepat stabilnya," pungkasnya.

(sun/bdh)