Petani di Bojonegoro Merugi Gara-gara Harga Gabah, Pemerintah Kok Impor Beras

Ainur Rofiq - detikNews
Jumat, 19 Mar 2021 15:01 WIB
petani di bojonegoro
Petani di Bojonegoro (Foto: Ainur Rofiq)
Bojonegoro -

Rencana pemerintah yang akan mengimpor beras 1 juta ton disesalkan para petani di Bojonegoro. Tak ada impor saja harga gabah sudah anjlok, Bagaimana jika nanti beras impor jadi masuk ke Indonesia.

Di bumi Angling Darmo, harga gabah dinilai sangat rendah hanya Rp 3.500 per kilogram. Rendahnya harga gabah saat ini tentunya membuat para petani sangat merugi.

Junaidi (40), petani asal Suwaloh, Balen Bojonegoro meminta pemerintah bisa menstabilkan harga gabah. Terlebih saat ini sedang musim panen datang.

"Kami tak bisa berbuat apa-apa, wong cilik selalu jadi yang kalah. Sudah harga pupuk mahal, obat mahal, kini harga gabah hancur. Kami minta tolong pemerintah turun ke bawah, jangan asal ngomong mau impor beras saja. Apalagi bulog katanya stok beras melimpah," Keluh Junaidi kepada detikcom, Jumat (19/3/2021).

Senada dengan Junaidi, petani asal Desa Margomulyo, Masduki (45), mengaku rugi saat panen kali ini. Dia harus memutar otak agar kerugiannya tak banyak. Gabah yang hanya dihargai Rp 3.500/kilogram tak sepadan dengan biaya pupuk dan pemeliharaan yang dia lakukan.

Masduki terpaksa tak menjual semua hasil panennya. Sebagian dia simpan dan dibuat stok beras. Meski untuk itu dia harus keluar biaya lagi untuk menyelep beras.

"Kami hanya ingin harga gabah bisa stabil saja, kalau tahun lalu bisa 4.000 hingga 5.000 perkilogramya. Kini kok anjlok padahal harga beras masih tinggi di kisaran paling murah 8.500 per kg," kata Masduki.

Anjloknya harga gabah saat ini memang membuat petani menjerit. Apalagi kabar pemerintah akan impor beras tentunya membuat petani kelimpungan karena khawatir gabah mereka malah tidak laku dijual.

Para petani di Bojonegoro juga belum ada rencana beralih menanam yang lain, karena juga terbentur modal. Apalagi pandemi COVID-19 masih belum selesai.

(iwd/iwd)