Harga Gabah Murah, Petani Keluhkan Kebijakan Pemerintah Impor Beras

Eko Sudjarwo - detikNews
Jumat, 19 Mar 2021 12:36 WIB
Petani Lamongan mengeluhkan anjloknya harga gabah. Kekecewaan mereka bertambah dengan adanya rencana pemerintah impor beras.
Persawahan di Lamongan/Foto: Eko Sudjarwo/detikcom
Lamongan -

Petani Lamongan mengeluhkan anjloknya harga gabah. Kekecewaan mereka bertambah dengan adanya rencana pemerintah impor beras.

Sebagian wilayah Lamongan sudah memasuki awal musim panen. Namun, harga gabah di tingkat petani jauh dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Harga gabah kering di tingkat petani saat ini Rp 4 ribu per kilogram. Padahal, HPP gabah di Lamongan mencapai Rp 4.200 per kilogram.

"Saat ini gabah berada di kisaran harga Rp 4 ribu per kilogram," kata salah seorang petani dari Kecamatan Tikung, Sasmito pada wartawan, Jumat (19/3/2021).

Harga ini, menurut Sasmito, sudah sedikit naik jika dibandingkan saat awal-awal panen beberapa minggu lalu, yang hanya berkisar antara Rp 3.700 hingga Rp 3.900 per kilogram.

"Beberapa minggu yang lalu sempat anjlok parah. Tapi sekarang sudah berangsur naik," imbuh Sasmito.

Untuk wilayah lain di Lamongan, harga gabah di tingkat petani juga sudah berangsur naik. Seperti di Kecamatan Laren. Di mana harga gabah yang dipanen menggunakan mesin combine sudah naik sesuai dengan HPP yaitu Rp 4.200 per kilogram.

"Sekarang sudah berangsur naik, gabah hasil mesin combine sekarang sudah di harga Rp 4.200 per kilogram," kata Nuril, salah seorang petani di Kecamatan Laren.

Meski harga gabah berangsur naik, Sasmito dan para petani lain di Lamongan berharap rencana pemerintah untuk melakukan impor beras ditinjau ulang. Pasalnya, serapan gabah di tingkat petani saat ini masih belum maksimal.

Jika impor diberlakukan, lanjut Sasmito, petani takut harga gabah akan kembali terjun bebas dan tidak menguntungkan petani. "Kami berharap agar kebijakan impor beras tersebut ditinjau ulang karena merugikan kami para petani," harapnya.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi beberapa waktu lalu juga menegaskan, beras di Lamongan dalam posisi aman bahkan saat ini dalam kondisi surplus. Jadi, menurut Yuhronur, Lamongan tidak memerlukan impor beras meski sedang menghadapi pandemi COVID-19.

Selanjutnya
Halaman
1 2