Ogoh-ogoh Tetap Digelar Saat Nyepi di Banyuwangi, Tapi Tanpa Penonton

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 12 Mar 2021 19:59 WIB
nyepi di pulau merah banyuwangi
Ogoh-ogoh di Pulau Merah Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani/detikcom)
Surabaya -

Pada peringatan Hari Raya Nyepi tahun 2021 ini, umat Hindu di Banyuwangi sepakat untuk melangsungkannya secara sederhana. Namun tradisi Ogoh-ogoh tetap dilakukan.

Rencananya tradisi menjelang Nyepi ini hanya di tiga titik saja dan disepakati tanpa acara pawai atau arak-arakan secara besar-besaran.

Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Kabupaten Banyuwangi menyebutkan pelaksanaan tradisi membakar patung berwujud raksasa ini tidak boleh dilakukan selain di titik yang telah disepakati.

"Sesuai kesepakatan kemarin, ada 3 titik yang melangsungkan tradisi Ogoh-ogoh se-Banyuwangi. Itupun dengan ketentuan yang harus dipenuhi," kata Ketua PHDI Kabupaten Banyuwangi, Suminto kepada wartawan, Jumat (12/3/2021).

Tradisi Ogoh-ogoh ini pun digelar dengan syarat tanpa penonton. Selain itu, bagi Pura yang melangsungkan tradisi ini diminta untuk tidak mengadakan arak-arakan. Artinya, tradisi Ogoh-ogoh hanya dilakukan di sekitar Pura saja. Panitia, harus membentangkan spanduk berupa larangan kepada warga yang ingin menonton.

"Hanya pada pura yang sudah disepakati saja, untuk lainnya tidak diperbolehkan mengadakan Ogoh-ogoh ini. Harus ada spanduk larangan menonton. Karena ini kepentingan upacara keagamaan, bukan untuk tontonan," tegas Suminto.

Dijelaskan Suminto, Ogoh-ogoh ini merupakan sebuah tradisi menyambut Nyepi yang digelar pada malam sebelum Nyepi. Ogoh-ogoh berbentuk sebuah patung besar dengan wujud raksasa besar. Atau dalam istilah Jawa disebut 'Buto'.

Ogoh-ogoh ini mewakili roh jahat dan ditujukan untuk menyucikan lingkungan alami dari setiap polutan spiritual yang dipancarkan dari aktivitas makhluk hidup, termasuk manusia.