Apa Pemicu Longsor Nganjuk, Ini Kata Peneliti Bencana ITS

Esti Widiyana - detikNews
Rabu, 24 Feb 2021 19:39 WIB
longsor di nganjuk
Longsor di Nganjuk (Foto: Istimewa)
Nganjuk -

Peneliti bencana dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Ir Amien Widodo MSi memberikan opini ilmiahnya terkait longsor Nganjuk. Menurut Amin, hujan deras sebagai sebab terjadinya banjir dan longsor adalah kurang mendidik dan sebaiknya diperbaiki.

"Pasalnya, hampir setiap terjadi bencana hidrometeorologis, pemerintah mengeluarkan pernyataan hujan adalah pemicunya," kata Amin dalam siaran pers yang diterima detikcom, Rabu (24/2/2021).

Padahal, hujan hanyalah salah satu faktor yang mendorong terjadinya bencana hidrometeorologis. Jika terus menerus menyalahkan hujan, generasi yang akan datang tidak akan belajar dari kesalahan dan hanya akan melakukan kesalahan yang sama.

"Hampir semua orang pernah mempelajari bagaimana karakteristik gerak benda pada bidang miring saat di bangku sekolah. Benda tersebut dapat bergerak saat faktor rekatan, lebih umum dianggap gaya gesek, berkurang atau mengecil. Sebab lainnya, adalah karena adanya penambahan beban pada benda, serta membesarnya sudut kemiringan bidang miring itu," jelasnya.

Sama halnya peristiwa longsor, pergerakan tanah lebih rentan terjadi di lereng-lereng gunung yang memiliki kemiringan. Tanah yang menempel pada lereng gunung dapat dianalogikan seperti suatu benda pada bidang miring. Jika pembebanan tidak bertambah berat dan sudut kemiringan jauh dari titik kritis, maka berkurang kemungkinan terjadinya pergerakan tanah atau longsor.

longsor di nganjukFoto: Istimewa

"Tanah gunung tersebut terbentuk karena adanya proses pelapukan yang dipengaruhi iklim, topografi, batuan, vegetasi, dan waktu. Iklim, khususnya hujan dan panas, dapat mempercepat terjadinya proses pelapukan. Iklim tropis di Indonesia kemudian dapat memicu pelapukan batuan lebih sering terjadi, sehingga tanah di Indonesia memiliki lapisan lebih tebal daripada yang lain," ujarnya.

Seiring dengan bertambahnya waktu, tanah gunung menebal dan pohon-pohon membesar. Akar-akar pepohonan itulah yang berperan memegangi tanah agar tidak terjadi longsor. Pembebanan berlebih pun juga dapat ditahan, dan tanah menjadi lebih stabil karena tidak mudah bergeser lagi.

Menurut Amin, berdasarkan prinsip gerak benda pada bidang miring, stabilitas tanah gunung bisa berubah tidak stabil karena beberapa hal. Pertama, pengurangan vegetasi jelas menjadi satu penyebab tanah menjadi tidak stabil. Kondisi ideal dan stabil muncul saat akar serabut membantu meningkatkan sifat kohesi tanah, sedangkan akar tunjang menjadi anchor atau paku pada batuan penyokong di bawahnya.

Seperti masih banyak terjadi, hilangnya vegetasi umumnya dikarenakan penebangan. Baik secara legal maupun ilegal (liar). Selain itu, dapat hilang karena adanya kebakaran hutan. Baik secara alami atau dibakar secara sengaja, keduanya sama-sama membawa dampak. Banyak pohon ambruk juga kebanyakan dari terjangan angin kencang.

Simak video 'Lereng Gunung Wilis Nganjuk Longsor, 16 Orang Masih Tertimbun':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2