Self Assessment IKM, Penyebaran COVID-19 di Surabaya Kategori Risiko Rendah

Esti Widiyana - detikNews
Rabu, 14 Okt 2020 22:21 WIB
Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara
Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara (Foto: Esti Widiyana/File)
Surabaya -

Surabaya disebut telah menunjukkan kategori risiko rendah penyebaran COVID-19. Hal itu berdasarkan Hasil monitoring self assessment Indikator Kesehatan Masyarakat (IKM).

Penilaian monitoring self assessment IKM itu dilakukan pada Minggu ke-29, yakni mulai 28 September sampai 04 Oktober 2020. Hasilnya, Surabaya menunjukkan kategori risiko rendah dengan nilai 2.58.

"Hasil monitoring telah dilaporkan ke Provinsi dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes)," kata Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya, Febriadhitya Prajatara, Rabu (14/10/2020).

Febri mengatakan penilaian yang dilakukan terdiri dari 14 indikator, yaitu penurunan jumlah kasus positif selama 2 minggu terakhir dari puncak, penurunan jumlah kasus ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir dari puncak, penurunan jumlah meninggal dari kasus positif selama 2 minggu terakhir dari puncak hingga mortality rate (angka kematian) kasus positif per 100,000 penduduk.

Sebagai pelengkap atau untuk triangulasi, pemkot menambahkan indikator ke-15, yakni Rt angka reproduksi efektif kurang dari satu.

Untuk mencapai kategori risiko rendah, kata Febri, tak sedikit upaya yang dilakukan Surabaya untuk memutus mata rantai COVID-19. Sebelum pandemi pun, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sudah gencar melakukan pencegahan.

"Bagaimana perjuangan ibu wali kota dengan sumber daya yang terbatas saat itu, belum ada rapid test ataupun reagen, beliau melakukan beberapa inovasi," ujarnya.

Salah satu inovasinya yaitu memberikan berbagai intervensi bagi kontak erat maupun pasien terkonfirmasi COVID-19 yang tengah isolasi mandiri. Seperti memberikan permakanan, peralatan mandi, hingga peralatan makan seperti sendok dan piring.

Selain itu juga melakukan berbagai strategi, salah satunya gencar tracing masif, menyiapkan Kampung Wani Jogo Suroboyo dan menerapkan mini blocking di kampung yang ditemukan kasus.

"Tracing masif yang dilakukan pemkot memang bertujuan untuk mencari tahu berapa banyak warga yang terkena COVID-19. Dengan begitu, dapat diketahui bagaimana pola untuk penanganan selanjutnya. Karena ketika sudah diketahui maka pemkot tahu bagaimana penanganan dan langkah-langkah kebijakan yang harus diambil selanjutnya," jelasnya

Pemkot juga menyiapkan fasilitas bagi OTG di Hotel Asrama Haji. Ibu hamil hingga guru di sekolah juga diberikan swab gratis. Hingga membentuk tim swab hunter per kecamatan untuk patroli mencari pelanggar protokol kesehatan. Hingga menyediakan fasilitas pemeriksaan sampel swab di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

"Alhamdulilah pola-pola penanganan strategi yang dipikirkan oleh Ibu Wali Kota ini menunjukkan hasil yang baik. Terbukti, dengan self assessment sampai 4 Oktober 2020, Kota Surabaya dikategorikan risiko rendah," pungkasnya.

(iwd/iwd)