Ngerinya Tsunami Saat Terjang Banyuwangi Tahun 1994 Lalu

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 25 Sep 2020 18:56 WIB
tsunami di banyuwangi
Tsunami 1994 memporak-porandakan Banyuwangi (Foto: Istimewa)
Banyuwangi -

Tragedi tsunami 1994 di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, masih melekat di benak masyarakat pesisir selatan. Tragedi yang terjadi Jumat Pon ini, meratakan rumah penduduk dan menewaskan ratusan orang.

Tsunami Pancer terjadi pada 3 Juni 1994 sekitar pukul 02.00 WIB. Tak hanya di Dusun Pancer, tsunami juga menerjang wilayah Rajegwesi, Lampon dan Pantai Grajagan dan Taman Nasional Alas Purwo. Sementara korban meninggal dunia sekitar 300 orang.

Disadur dari Wikipedia, tsunami Pancer muncul setelah adanya gempa bumi tektonik yang berpusat di Samudera Hindia yang terjadi pada tanggal 2 Juni 1994 sekira pukul 18.17 WIB. Selanjutnya, 7 jam berselang sejak gempa bumi tersebut terjadi, gelombang tsunami kemudian menghantam pesisir pantai selatan Jawa Timur bagian timur tepatnya di wilayah Kabupaten Banyuwangi pada 3 Juni 1994 dini hari.

Bencana tsunami akibat gempa bumi tektonik ini menyebabkan kerusakan total yang melanda pemukiman penduduk di pesisir selatan Kabupaten Banyuwangi seperti Pantai Plengkung, Pantai Pancer dan Pantai Rajegwesi yang rata dengan tanah. Korban meninggal diperkirakan mencapai 215 jiwa. Korban jiwa sangat banyak dikarenakan peristiwa tsunami tersebut terjadi pada dini hari sekitar pukul 01.00 WIB dan warga banyak yang masih tertidur lelap.

Menurut Siti Fatimah warga Dusun Pancer, tragedi tsunami 1994 di Banyuwangi disebut tragedi Jumat Pon karena terjadi pada Jumat Pon. Saat itu, Fatimah mengaku masih berusia 14 tahun. Dia bisa selamat setelah ibunya mengikatkan tubuhnya ke papan kayu. Dia ditemukan selamat di atas bukit.

"Saya hanya bisa nangis waktu itu. Ibu saya hanyut diterjang tsunami. Semuanya rata dengan tanah. Karena tinggi ombak itu setinggi pohon kelapa," ujarnya kepada detikcom, Jumat (25/9/2020).

Wanita yang kini berusia 40 tahun itu bercerita bahwa rumahnya terangkat ombak yang tiba-tiba muncul Jumat dinihari. Saat itu, ibunya terjaga dan langsung mengangkat dirinya dan lari melalui genting.

"Rumah terangkat, kemudian ibu itu langsung narik saya ke genting. Gelap kondisinya karena sudah malam. Setelah diangkat oleh ibu, saya hanya nangis," katanya membuka kembali sejarah 26 tahun lalu.

Sementara itu, Budi (50) salah satu warga Dusun Pancer yang selamat bercerita ombak tsunami menabrak rumahnya seperti kereta api. Tiba-tiba saja tembok rumahnya roboh diterjang ombak setinggi hampir 10 meter. Keras dan berwarna gelap. Rumahnya yang hanya sekitar 50 meter dari bibir pantai, rata dengan tanah.

"Sempat mengintip di jendela seperti kereta api gitu. Besar dan gelap. Langsung kena terang itu seperti ditabrak kereta api," kata Budi.

Budi sempat mengamati keanehan Perairan Pantai Pancer. Karena pada saat itu pantai surut beberapa meter. Dirinya mengamati setelah pulang dari menonton wayang di sekitar rumahnya.

tsunami di banyuwangiTsunami 1994 menewaskan ratusan orang di Banyuwangi/ Foto: Istimewa

"Memang ada kabar gempa, tapi tidak terasa di pantai. Kalau tidak salah di sekitar Malang. Namun di sini yang kena tsunami pada saat itu," tambahnya.

Tsunami 1994 menyisakan trauma bagi warga Pancer yang selamat. Sebagian warga yang meninggal dunia diletakkan di sekitar masjid yang menjadi satu-satunya bangunan yang masih berdiri. Selanjutnya, jenazah korban tsunami dimakamkan di sekitar dusun. Mereka pun membuat monumen korban tsunami di sekitar pemakaman.

Pada saat itu, Presiden Soeharto pun turun ke Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, melihat dari dekat kondisi warga pascatsunami.

(fat/fat)