Peneliti LIPI: Mitos Ratu Kidul Merekam Peristiwa Tsunami Masa Silam

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 25 Sep 2020 17:22 WIB
Lukisan Ratu Kidul (Sumber: Situs Kemdikbud)
Lukisan Ratu Kidul (Sumber: Situs Kemdikbud)
Jakarta -

Penelitian terbaru dari ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap potensi tsunami setinggi 20 meter. Sejak dahulu kala, ternyata tsunami besar sudah terjadi di selatan Pulau Jawa. Peristiwanya diyakini terekam dalam mitos Ratu Kidul.

Peneliti paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bernama Eko Yulianto adalah orang yang menemukan hal ini. Dia memadukan catatan geologi dengan karya sastra Jawa masa lalu untuk menemukan catatan mengenai peristiwa tsunami besar di era silam.

"Kesimpulan saya, mitos Ratu Kidul muncul berkaitan dengan peristiwa gempa dan tsunami 400 tahun lalu," kata Eko kepada detikcom, Jumat (25/8/2020).

Awal cerita

Mulanya, Eko meneliti dua sampel lapisan tanah di Pangandaran, Jawa Barat, pada 2006. Dari hasil uji ilmiah ditemukan, lapisan itu menunjukkan adanya tsunami pada 400 tahun lalu.

"Seandainya itu benar ada tsunami raksasa di masa lalu, maka yang terpikir adalah peradaban apa yang mengalami peristwa itu. Peristiwa sejarah apa yang berkaitan dengan peristiwa itu," kata Eko.

Peneliti paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bernama Eko Yulianto (Dok Pribadi) (Dok Eko Yulianto)

Asumsi Eko melayang ke empat abad silam. Saat itu adalah momentum berdirinya Kerajaan Mataram Islam. "Jika benar ada tsunami besar di masa itu, pastilah peristiwa itu tercatat dalam kebudayaan," kata dia.

Bukankah jarak antara Pangandaran dan Yogyakarta (lokasi Mataram Islam) sangat jauh? Zona subduksi di selatan Jawa tidak pendek, melainkan merentang dari Selat Sunda hingga kepulauan Nusa Tenggara. Panjangnya lebih dari 1.890 km.

"Dengan panjang segitu, diasumsikan bila runtuh bersamaan maka bisa menghasilkan gempa skala 9,6. Itu skenario terburuk. Kalau itu terjadi, maka tsunami besar akan terjadi," kata Eko.

Di sisi lain, Robert McCaffrey lewat karyanya 'Global frequency of magnitude 9 earthquakes' dalam jurnal Geology edisi 36 tahun 2008 memberikan penjelasan mengenai tsunami masa lalu.

"McCfrey menyatakan ada perhitungan perulangan gempa setiap 675 tahun. Tapi kejadian perulangan ini tidak selalu tetap sama. Kalau saya asumsikan, maka setidaknya dari sekarang sampai 675 tahun yang lalu ada satu kejadian gempa dan tsunami," kata Eko.

Peneliti paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bernama Eko Yulianto (Dok Pribadi)Peneliti paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bernama Eko Yulianto (Dok Pribadi)

Selanjutnya
Halaman
1 2 3