Pakar ITS Sarankan Dibentuk Masyarakat Tangguh Hadapi Potensi Tsunami 20 Meter

Hilda Meilisa - detikNews
Jumat, 25 Sep 2020 17:26 WIB
Ilustrasi tsunami
Ilustrasi tsunami (Foto: Thinkstock)
Surabaya -

Institut Teknologi Bandung (ITB) menyebut tsunami 12 hingga 20 meter berpotensi terjadi di pantai selatan Jawa. Berpotensi juga gempa besar (megathrust) akan terjadi.

Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr Amien Widodo mengatakan gempa besar yang berujung tsunami bisa terjadi kapanpun. Selain merusak infrastruktur, namun juga menelan korban yang tidak sedikit.

Amien mengatakan membentuk masyarakat tangguh tsunami merupakan hal yang paling penting dan mutlak dilakukan. Tujuannya untuk mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak.

Amien mencontohkan keberhasilan masyarakat di Pulau Simeulue Aceh yang melakukan deteksi dini saat terjadi tsunami 26 Desember 2004 lalu.

"Keberhasilan komunitas dalam mencegah jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar akibat bencana alam tentu bukan sesuatu yang muncul secara instan. Masyarakat Pulau Simelue Aceh misalnya. Peristiwa gempa dan tsunami yang pernah terjadi di wilayah tersebut membuat masyarakat di sana aktif mengembangkan sistem deteksi dini berbasis kearifan lokal yang mereka sebut semong," papar Amien kepada detikcom, Jumat (25/9/2020).

"Istilah yang berarti air laut surut ini telah ada sejak tahun 1900. Kearifan lokal yang diceritakan secara turun-temurun hingga melekat dan membudaya ini mengajarkan agar semua orang segera berlari menuju ke bukit apabila mendapati air laut tiba-tiba surut. Berkat teriakan semong inilah hampir seluruh masyarakat Pulau Simelue selamat dari amukan bencana tsunami pada 26 Desember 2004 lalu. Padahal, secara geografis letak pulau ini sangat dekat dengan pusat gempa saat itu," tambah Amin.

Amien menambahkan tsunami merupakan gelombang laut berskala besar yang disebabkan oleh gangguan tiba-tiba, baik yang berasal dari lantai dasar maupun permukaan samudra. Tsunami umumnya terjadi karena tiga hal, yakni gempa, letusan gunung berapi, dan longsor.

Di Indonesia, Amien menyebut tsunami yang timbul akibat gempa lebih banyak dikenal dari pada tsunami akibat letusan gunung berapi maupun longsor. Hal ini tak lepas dari ketersediaan alat peringatan dini untuk tsunami karena faktor kegempaan.

"Sementara, untuk dua faktor terakhir yakni tsunami karena letusan gunung berapi dan longsor, hingga kini belum ada alat yang memadai. Sehingga peringatan dini masih belum bisa dilakukan," ungkapnya.

Untuk itu, Amien mengatakan penting membentuk masyarakat yang tangguh menghadapi bencana tsunami. Amien menyebut banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah dengan menggandeng masyarakat mulai lingkup terkecil.

(hil/iwd)