Warga Cerita Anak-anak Wadas Terintimidasi Polisi Patroli, Ini Kata Kapolres

Rinto Heksantoro - detikNews
Kamis, 04 Nov 2021 17:26 WIB
Kapolres Purworejo AKBP Fahrurozi, Kamis (4/11/2021).
Kapolres Purworejo AKBP Fahrurozi, Kamis (4/11/2021). (Foto: Rinto Heksantoro/detikcom)
Purworejo -

Seorang warga mengungkap anak-anak di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, takut berangkat sekolah gegara desa mereka dipatroli polisi. Menanggapi hal tersebut, polisi angkat bicara.

"Jadi saya pikir terlalu mengada-ada omongan-omongan tersebut. Masyarakat yang benar-benar asli Purworejo pasti tahu situasi sebenarnya yang berkembang seperti apa. Karena itu bukan pure murni pergerakan warga Wadas. Bahkan yang tua-tua itu malah meminta kita patroli. Jadi menurut saya suatu hal yang kontradiktif dengan kenyataannya apa yang diungkapkan tersebut, saya yakin masyarakat sudah cerdas sudah bisa menilai bahwa apa yang terjadi adalah sebaliknya," kata Kapolres Purworejo AKBP Fahrurozi saat dihubungi detikcom, Kamis (4/11/2021).

Fahrurozi menjelaskan patroli yang dilakukan jajarannya merupakan langkah-langkah dalam rangka Pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Harkamtibmas). Selain itu, kata Fahrurozi, polisi juga memberikan bantuan sembako kepada warga Desa Wadas.

"Jadi gini, pada prinsipnya patroli itu kan dalam rangka harkamtibmas, karena di Desa Wadas itu kan ada pro dan kontra berkaitan dengan proyek strategis nasional pembangunan Bendungan Bener dalam hal ini di Wadas berkaitan dengan quarry-nya. Nah dalam pelaksanaannya pihak pro ini sering lapor ke polisi merasa terintimidasi oleh warga kontra tidak boleh ke ladang tidak bisa bebas ke lahannya sendiri sehingga kita laksanakan patroli," jelasnya.

"Patroli itu juga patroli dialogis, jadi anggota datang memberikan arahan kalau yang nggak pakai masker ya disuruh pakai masker kalau nggak ada maskernya kita kasih masker. Selain itu juga ada bantuan sosial, jadi kita tidak membedakan warga yang pro dan kontra yang kita cegah itu terjadinya bentrokan fisik antara pro dan kontra kita nggak mau itu," kata Fahrurozi.

Patroli tersebut, disebutnya bukan hanya dilaksanakan di Desa Wadas saja melainkan desa-desa lain di sekitarnya. Fahrurozi juga mengatakan patroli itu juga tak berlangsung tiap hari.

"Kemarin juga ada bhabinkamtibmas yang memang kewajibannya ke desa itu juga malah dicegat. Isu yang mengatakan sampai takut sekolah menurut saya nggak benar lah malah yang terjadi sebaliknya, anak-anak yang seharusnya sekolah jadi nggak sekolah nungguin ngadang polisi nggak boleh masuk merasa terintimidasi padahal sebaliknya itu mereka yang mengintimidasi," sebutnya.

Dia membantah jika pelaksanaan patroli telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Menurutnya dalam setiap melaksanakan patroli, semua anggota polisi yang bertugas sudah diberi arahan agar sesuai prosedur dan didampingi oleh provos.

"Pelaksanaannya kita juga berpedoman pada HAM. Kalau pelaksanaan patroli, SOP, prosedur segala macam juga kita tekankan untuk humanis diajakin senyum, diajak omong baik-baik, intinya hindari benturan. Provos juga kita libatkan untuk mengawasi anggota dalam pengawasan patroli," lanjutnya.

Diberitakan sebelumnya, sebagian warga Desa Wadas merasa terintimidasi dengan kehadiran polisi saat melaksanakan patroli. Mereka merasa trauma dengan peristiwa bentrokan yang terjadi pada bulan April lalu.

"Bahkan karena warga trauma penangkapan dan intimidasi polisi 23 April silam, terutama ibu-ibu dan anak-anak banyak yang takut bersekolah," kata salah seorang warga Desa Wadas, Arofah, di Kantor Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta, hari ini.

Ia mengungkapkan, setiap ditanya warga, polisi beralasan patroli ketertiban. Alasan tersebut tetap sulit diterima karena patroli dilakukan hampir setiap hari.

"Tapi yang berhasil kami dokumentasikan hanya 16 kali. Kami merasa ini seperti intimidasi terhadap perjuangan warga atas ancaman proyek tambang batu andesit," ujarnya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...