Pesisir Semarang Diprediksi Tenggelam 50 Tahun Lagi, Begini Kondisi Terkininya

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Sabtu, 07 Agu 2021 12:30 WIB
Suasana kawasan Tambak Lorok, Semarang yang semakin tenggelam, Sabtu (7/8/2021).
Suasana kawasan Tambak Lorok, Semarang yang semakin tenggelam, Sabtu (7/8/2021). (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang -

Kota Semarang bagian utara diprediksi akan tenggelam 50 tahun lagi akibat penurunan muka tanah atau land subsidence dan ditambah dengan naiknya permukaan laut. Seperti apa kondisinya saat ini?

Di stasiun Pompa Darinase Kota Semarang, terdapat alat ukur penurunan tanah yang ada di 4 sisi salah satu gedung. Alatnya berupa besi yang masuk ke lubang dan dari situ terlihat ada penanda sejak tahun 2012 dan terus menurun sampai sekitar 1 meter.

"Ini adalah untuk alat ukur penurunan tanah di lokasi kami. Dibuat 2012 dimana tahun 20212 ada di (tanda) paling atas. Ini sampai Juni 2021 penurunan sekitar 1 meter, setelah hitung setiap bulan rata-rata 0,5 cm," kata Kkepala UPTD Pengelola Pompa Banjir Wilayah Tengah II Semarang, Yoyok Wiratmoko, kepada wartawan sambil menunjukkan alat tersebut, Jumat (7/8/2021).

Gedung-gedung utama di rumah pompa tersebut memiliki fondasi kuat dan ditanam cukup dalam sehingga tidak ikut turun saat muka tanah turun. Sehingga terlihat perbedaan ketinggian muka tanah antara halaman tempat parkir dan bangunan-bangunannya.

"Ini dulunya sejajar dengan paving-paving di sini, sekarang ambles. Ya amblesnya ini bertahap tidak langsung," jelasnya.

Kepala UPTD Pengelola Pompa Banjir Wilayah Tengah II Semarang dan petugasnya menunjukkan  alat ukur manual penurunan tanah, Sabtu (7/8/2021).Kepala UPTD Pengelola Pompa Banjir Wilayah Tengah II Semarang dan petugasnya menunjukkan alat ukur manual penurunan tanah, Sabtu (7/8/2021). (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)

Bagaimana dengan kondisi di permukiman? detikcom mendatangi salah satu daerah yang terdampak yaitu RW 15 Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang utara atau yang dikenal sebagai kawasan kampung nelayan Tambaklorok.

Permukaan lantai rumah-rumah di lokasi itu dibuat lebih tinggi dari jalan sehingga rumah-rumah itu kini terlihat pendek. Rumah Ketua RW 15, Slamet Riyanto, juga ikut menjadi yang pendek. Permukaan lantai kedua rumahnya kini sudah hampir sejajar dengan permukaan jalan di depan rumahnya. Sedangkan jika berdiri di lantai pertama rumahnya, kepala orang dewasa akan nyaris menyentuh eternit rumah.

Suasana kawasan Tambak Lorok, Semarang yang semakin tenggelam, Sabtu (7/8/2021).Suasana kawasan Tambak Lorok, Semarang yang semakin tenggelam, Sabtu (7/8/2021). Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

"Yang saya rasakan wilayah kita memang ada penurunan tanah. Ini kan rumah mertua, dulu ketinggian (lantai pertama) hampir 2 meter," kata istri Slamet, Sri Wahyuni.

Ia kemudian menunjukkan beberapa perubahan di rumahnya seperti memasang tanggul di depan rumah karena selalu tergenang rob hampir setiap pagi. Kemudian tempat meteran listrik dan saklar listrik juga dipindah ke posisi yang lebih tinggi agar lebih aman.

"Kalau kekhawatiran ada tapi mau bagaimana lagi dari kecil banyak yang tinggal di sini, kayak suami saya dari lahir di sini sudah adaptasi, mau bagaimana lagi," ujarnya.

Pihak Pemkot pernah berkunjung ke wilayah itu dan berjanji berupaya memasang sabuk pantai lagi. Ia berharap hal itu segera terealisasi agar air rob yang masuk bisa teratasi.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya...

Saksikan video 'Blak-blakan Dr Heri Andreas, Pekalongan & Semarang Lebih Dulu Tenggelam':

[Gambas:Video 20detik]