Guru Besar Undip Prediksi Semarang Tenggelam 50 Tahun Lagi, Ini Uraiannya

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 18:24 WIB
Dibanding Jakarta, ternyata kondisi penurunan tanah di kawasan pesisir Pekalongan, Semarang, dan Demak lebih mengkhawatirkan. Setiap tahun penurunannya sekitar 15-20 cm.
Banjir di Kota Semarang awal tahun 2021 lalu (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang -

Pesisir di Kota Semarang, Jawa Tengah, dan sekitarnya diprediksi bakal tenggelam sekitar 50 tahun lagi. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (Undip) Prof Dr Denny Nugroho Sugianto, ST, M.Si menyebut prediksi itu diperkuat dengan hujan yang memicu banjir di Kota Semarang awal tahun lalu.

"Jadi bisa lebih cepat dari 50 tahun. Yang tergenang itu sekarang di daerah Semarang Utara itu, di Tugu juga sudah mulai parah, perbatasan dengan Demak juga," kata Denny yang juga peneliti senior di Pusat Kajian Mitigasi Bencana dan Rehabilitasi Pesisir (PKMBRP) Undip, saat dihubungi detikcom, Rabu (4/8/2021).

"Keparahan terlihat ketika hujan awal tahun yang sampai banjir di Unissula, itu membuktikan drainase sudah tidak bisa membuang air ke laut dengan gravitasi karena tanahnya lebih rendah dari air laut," sambungnya.

Denny menyebut penyebab tenggelamnya Kota Semarang terjadi karena penurunan muka tanah akibat pengambilan air tanah yang masif. Selain itu, penurunan muka tanah di Semarang beragam dengan rata-rata 10-12 sentimeter per tahun.

"Penurunan tanah beragam ada 2 cm, 3 cm, 5 cm, sampai rata-rata 10-12 cm per tahun. Penggunaan air tanah berlebihan, jadi tanah cepat turun. Selain itu sifat sedimentasi di pantai Semarang itu sedimentasi aluvial. Pernah dengar kan dulu Semarang itu sampai daerah Sam Po Kong adalah perairan? Nah, ini seperti mau kembali," jelasnya.

Dia menambahkan pemanasan global juga berdampak pada meningkatnya air laut. Dia pun berharap pemerintah tegas dalam penataan ruang berbasis mitigasi rob.

"Penataan ruang harus berbasis mitigasi rob. Daerah kantong air tidak boleh lagi dilakukan pembangunan baik komersil atau pemukiman," terang pengajar di Departemen Oseanografi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip ini.

Tak hanya itu, Denny berharap proyek Tol Semarang-Demak yang dirancang sekaligus sebagai tanggul bisa terwujud sesuai desain teknis. Sehingga diharapkan bisa menjadi solusi banjir rob di Semarang dan Demak.

"Tol Semarang-Demak itu kan untuk jalan, untuk pemanfaatan tanggulnya harus sangat hati-hati, Mudah-mudahan bisa mengatasi masalah," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Laboratorium Geodesi dari ITB, Dr Heri Andreas memprediksi Kota Pekalongan, Demak dan Semarang terancam tenggelam karena penurunan permukaan tanah. Heri mengungkap penurunan tanah di Pekalongan-Demak itu mencapai 15-20 cm per tahun.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyebut sudah ada kajian soal tenggelamnya ketiga daerahnya itu. Menurutnya, hal yang harus dilakukan ialah bersama-sama menjaga lingkungan. Sementara pemerintah harus disiplin dalam memberikan izin penggunaan lahan sesuai fungsinya.

"Kajiannya sudah ada," kata Ganjar usai meninjau isolasi terpusat di SDN Cemara Dua, Solo, Rabu (4/8).

"Akan tenggelam kalau semua tidak menjaga lingkungan, maka tata ruang harus dikendalikan, penanaman dilakukan. Sehingga kalau kita mau memanfaatkan ruang itu harus betul-betul disiplin," ujar dia.

Simak video 'Blak-blakan Dr Heri Andreas, Pekalongan & Semarang Lebih Dulu Tenggelam':

[Gambas:Video 20detik]



(ams/sip)