Round-Up

Fakta-fakta Mendukung Prediksi Semarang-Pekalongan-Demak Akan Tenggelam

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 07:31 WIB
Salah satu rumah tenggelam di Tambaklorok, Semarang 8/4/2021
Salah satu rumah tenggelam di Tambaklorok, Semarang 8/4/2021. (Foto: Angling AP/detikcom)
Semarang -

Kepala Laboratorium Geodesi dari ITB, Dr Heri Andreas memprediksi Kota Pekalongan, Demak dan Semarang terancam tenggelam. Permasalahan yang dihadapi hampir sama, yaitu soal massifnya pengambilan air tanah dan kondisi tanahnya yang merupakan sedimen aluvial.

Diprediksi 50 tahun lagi Semarang bagian Utara dan beberapa daerah di sekitarnya akan tenggelam. Penanganan dan antisipasi harus lebih giat karena kondisinya saat ini makin parah dan malah memungkinkan tenggelam kurang dari 50 tahun.

"Jadi bisa lebih cepat dari 50 tahun. Yang tergenang itu sekarang di daerah Semarang Utara itu, di Tugu juga sudah mulai parah. Perbatasan dengan Demak juga. Keparahan terlihat ketika hujan awal tahun yang sampai banjir di Unissula, itu membuktikan drainase sudah tidak bisa membuang air ke laut dengan gravitasi karena tanahnya lebih rendah dari air laut," kata Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (Undip), Denny Nugroho Sugianto, saat dihubungi detikcom, Rabu (4/8).

Penelitian dari Pusat Kajian Mitigasi Bencana dan Rehabilitasi Pesisir (PKMBRP) itu menjelaskan kondisi alam menjadi faktor terjadinya penurunan muka tanah, dan hal itu diperparah dengan masifnya pengambilan air tanah sehingga rata-rata penurunan muka tanah mencapai 10-12 cm pernah tahun.

"Penurunan tanah beragam ada 2 cm, 3 cm, 5 cm, sampai rata-rata 10-12 cm pernah tahun. Penggunaan air tanah berlebihan, jadi tanah cepat turun. Selain itu sifat sedimentasi di pantai Semarang itu sedimentasi aluvial. Pernah dengar kan dulu Semarang itu sampai daerah Sam Po Kong adalah perairan? Nah, ini seperti mau kembali," jelasnya.

Menurutnya pemerintah harus tegas agar tidak ada lagi pembangunan komersial atau pemukiman dia daerah kantong air. Selain itu pemerintah harus bisa lebih banyak menyediakan akses air bersih agar sehingga tidak mengambil air tanah.

Sementara itu hasil pengukuran Badan Geologi Nasional dari dua patok dalam BM (Benchmark) yang dipasang di sekitar Stadion Hoegeng dan di Pekalongan Selatan menyebutkan penurunan muka tanah di Pekalongan per bulan mencapai 0,5 cm, artinya 6 cm per tahun.

"Kalau kita lihat rata-rata per bulan, ada penurunan tanah 0,5 cm itu patok dalam di Stadion Hoegeng, penurunannya 6 cm per tahun," kata Kepala Bappeda Kota Pekalongan, Anita Heru Kusumorini saat dihubungi wartawan, Rabu (4/8/2021).

Sedangkan di Kabupaten Demak, Bupati Demak, Eisti'anah mengatakan sudah memikirkan soal potensi tenggelamnya daerah pesisir. Penanganan bekerjasama dengan pemerintah pusat, termasuk dengan membangun tol Semarang-Demak yang difungsikan untuk tanggul laut

"Kita sudah merancangnya, dan menggait (menggandeng) dari (Pemerintah) Pusat, dan sebenarnya sudah ada penanganan termasuk salah satunya tol (Semarang-Demak) itu," kata Eisti, Rabu (4/8).

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan sudah ada kajian soal penanganan tenggelamnya pesisir utara Jateng. Menurutnya, hal yang harus dilakukan ialah bersama-sama menjaga lingkungan. Sementara pemerintah harus disiplin dalam memberikan izin penggunaan lahan sesuai fungsinya.

"Kajiannya sudah ada," kata Ganjar kepada wartawan di Solo, Rabu (4/8).

"Akan tenggelam kalau semua tidak menjaga lingkungan, maka tata ruang harus dikendalikan, penanaman dilakukan. Sehingga kalau kita mau memanfaatkan ruang itu harus betul-betul disiplin," ujar dia.

(alg/mbr)