Tembus Seribuan Kasus Harian, BOR RS Corona di Bantul Hari Ini 97%

Pradito Rida Pertana - detikNews
Rabu, 21 Jul 2021 14:34 WIB
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Bantul, Sapta Adisuka Mulyatno, Rabu (21/7/2021).
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Bantul, Sapta Adisuka Mulyatno, Rabu (21/7/2021). Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menyebut dalam sehari kasus baru positif virus Corona atau COVID-19 di wilayahnya mencapai angka ribuan. Hal itu membuat tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) pasien Corona saat ini mencapai 97 persen dan untuk bed critical penuh.

"Kalau BOR dikatakan kita sudah penuh terus setiap hari karena keluar masuk ya. Tapi kalau dikatakan tempat tidur yang melakukan perawatan kita penuh dan tempat pelayanan memang sudah penuh," kata Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Bantul, Sapta Adisuka Mulyatno, saat ditemui di Kantor Dinkes Bantul, Rabu (21/7/2021).

Sapta menyebut BOR Corona di Bantul secara persentase melebihi 95 persen. Sedangkan untuk critical bed atau perawatan intensif sudah tidak ada lagi yang kosong.

"Ya 96-97 persen, itu dari total sekitar 325 bed untuk yang isolasi saja. Nah, untuk yang perawatan intensif atau critical ada 39 bed, dan posisinya sekarang terpakai semua," ujarnya.

Oleh sebab itu, Sapta terus melakukan pemantauan di shelter kalurahan, shelter kabupaten, rumah sakit lapangan hingga rumah sakit rujukan Corona di Bantul. Sapta membuat sistem berjenjang agar pasien COVID-19 yang membutuhkan penanganan bisa mendapatkan pelayanan sesuai kondisinya.

"Tapi sebisa mungkin kita tidak boleh pasrah. Kita buat sistem shelter kalurahan, shelter kabupaten, rumah sakit lapangan hingga rumah sakit rujukan, itu berjenjang," ujarnya.

"Jadi seandainya dari rumah sakit rujukan tadi kondisi sudah membaik, meskipun masa isolasi belum selesai kita turunkan ke shelter, sehingga yang butuhkan rumah sakit rujukan bisa segera masuk. Itu yang kita lakukan terus saat ini," lanjut Sapta.

Selain itu, Sapta mengaku terus melakukan pemantauan terhadap masyarakat yang melakukan isolasi mandiri (isoman). Hal itu untuk memastikan masyarakat yang melakukan isoman terpantau kondisinya.

"Kemudian isoman banyak sekali dan itu jadi beban Puskesmas. Apalagi Puskesmas harus melakukan 3T (tracing, testing dan treatment). Karena itu Puskesmas harus meningkatkan pengawasannya," ucapnya.

Untuk diketahui, pada Selasa (20/7/2021) hingga pukul 15.30 WIB, kasus positif Corona di Bantul bertambah 1.078 sehingga total menjadi 34.182 kasus. Selain kasus positif juga ada 321 warga yang dinyatakan sembuh, sehingga total kasus pulih dari Corona di Bantul berjumlah 21.862 orang.

Sedangkan untuk pasien meninggal bertambah 18 orang sehingga total menjadi 794 kasus. Selain itu, pasien yang terkonfirmasi positif Corona yang menjalani isolasi dan perawatan dokter ada 11.526 orang.

Dinkes Kabupaten Bantul juga menilai selama PPKM darurat kasus baru terkonfirmasi positif COVID-19 di Bantul masih tinggi. Menurutnya, hal itu karena masifnya penularan COVID-19, terlebih muncul varian delta di DIY.

"Menurut saya belum ada penurunan yang signifikan, data kita masih fluktuatif dan belum bisa menjelaskan ini trennya naik apa turun," kata Kepala Dinkes Bantul Agus Budi Raharja kepada wartawan, hari ini.

Bahkan, dia menyebut jika rata-rata ada sekitar 500 kasus baru di Bantul dalam sehari. "Rata-rata 500-an sehari, saya bilang rata-rata karena tidak bisa bicara harian. Karena data harian itu kompilasi data dan dari kita ada yang baru masuk malam hari dan ada yang baru di-entry besoknya," ucapnya.

Menyoal tingginya kasus COVID-19 di Bantul, dia mengaku karena penularan yang masif dan munculnya varian delta. Di mana varian tersebut penularannya 7 kali lebih cepat.

"Di Bantul penularan masih masif, masih tinggi. Dan varian Delta itu penularannya sangat cepat dan ternyata tingkat keparahannya relatif lebih tinggi. Saat ini kasusnya banyak dan lebih banyak yang bergejala sedang sampai berat," katanya.

"Pada hakikatnya, bahwa dengan varian ini penularan lebih masif dan inilah yang terjadi, dan untuk itu ada PPKM darurat untuk mengendalikan dari hulu bisa direm," lanjut Agus.

(rih/sip)