Viral Rumah Dianggap Tutup Jalan di Pemalang, Begini Faktanya

Robby Bernardi - detikNews
Selasa, 16 Mar 2021 14:17 WIB
Mediasi pihak keluarga Suharto dan Sukendro yang bersengketa soal akses jalan di Polsek Petarukan, Pemalang, Sabtu (13/3/2021)
Penampakan bangunan rumah yang diviralkan menutup akses jalan empat KK di Pemalang. (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Pemalang -

Satu unit rumah di Kecamatan Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah diviralkan menutup akses jalan tiga rumah yang berisi 4 KK hingga terisolir. Polisi hingga Bupati Pemalang turun tangan mengecek persoalan ini. Seperti apa faktanya di lapangan?

Persoalan ini terjadi antara dua keluarga besar yakni keluarga Sukendro dan keluarga Suharto. Rumah yang diviralkan menutup akses jalan yakni rumah milik keluarga Sukendro.

Rumah keluarga Sukendro yang baru dibangun ini berada di depan tiga rumah keluarga Suharto. Semula sebelum rumah milik Sukendro ini dibangun, area rumah tersebut menjadi akses jalan bagi keluarga Suharto. Kasus ini pun sudah dimediasi polisi, Sabtu (13/3) lalu.

"Jadi ada tiga rumah, ada empat KK, akses jalanya yang biasa digunakan tanah milik tetangganya Pak Haji Sukendro, karena dibangun pemilik lahan, akses jalan menjadi tertutup. Namun demikian, masih ada akses jalan lainnya sebenarnya melalui samping tanah milik Bapak Anshori," kata Kapolsek Petarukan AKP Heru Irawan, di Mapolsek Petarukan, seusai mediasi.

Heru menyebut selain lewat tanah yang kini menjadi rumah milik keluarga Sukendro, akses jalan menuju rumah keluarga Suharto bisa lewat dua jalur di samping rumah yang dipersoalkan itu. Salah satunya melewati tanah milik Anshori yang bisa diakses menggunakan sepeda motor.

"Jadi pemberitaan selama ini, yang menyampaikan terisolir tidak benar. Jadi masih ada akses jalan lain," terang Heru.

Saat mediasi itu, polisi juga mengklarifikasi kabar soal Sukendro sengaja membangun tembok permanen untuk menutup akses rumah milik Keluarga Suharto, Kismanto, Agus, dan Amsori karena kalah Pilkades. Setelah mendengar keterangan dari kedua belah pihak, Heru menegaskan permasalahan akses jalan ini tak ada kaitannya dengan Pilkades.

Sebab, tanah yang dipersoalkan itu ternyata sudah mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB). Saat pembangunan rumah pun, mulanya keluarga Suharto juga tidak mempermasalahkannya.

"Itu tanah pribadi, bukan akses jalan, sertifikat atas nama ibu saya Mindarwati dan tidak ada hubunganya dengan Pilkades," kata anak Sukendro, Susatyo Andrianto, saat ditemui di Mapolsek Petarukan usai mediasi, Sabtu (13/3).

Susatyo mengaku pihak keluarga sempat mendapatkan penawaran pembelian tanah dari keluarga Suharto pada Februari 2020 lalu. Tanah selebar 3 meter lebih, dengan panjang 25 meter itu sempat ditawar seharga Rp 100 juta dan dia mengaku telah menerima uang muka Rp 50 juta. Namun, karena ada kabar yang kurang mengenakkan, pihak keluarga Sukendro membatalkan penjualan tanah itu dan mengembalikan uang muka pada Maret 2020 silam.

"Persoalan itu Februari, sedangkan saya nyalon kades kan Desember 2020, sama sekali tidak ada kaitannya, lha kok beritanya begitu, keluarga kami tidak menerima," ujar Susatyo.

Dia pun menegaskan bangunan rumah yang sedang dibangun itu tidak membuat rumah di belakangnya terisolasi. Hanya saja diakuinya mobil tidak bisa lewat.

"Sebenarnya masih ada akses di belakang buat lewat motor, tapi mobil tidak bisa. Tapi karena pemberitaan itu asumsi orang yang tidak tahu kan dikira saya menutup akses jalan umum, padahal itu tanah pribadi," cetusnya.

Pihak keluarga Sukendro pun menuntut permintaan maaf dan uang ganti rugi imateriil senilai Rp 150 juta dari keluarga Suharto terkait tudingan pencemaran nama baik gegara akses jalan ini. Pihak Sukendro pun mau membuka akses jalan meski tidak selebar yang diharapkan keluarga Suharto. Kini pihak keluarga Sukendro sudah memberikan tanahnya sekitar 25 meterX60 sentimeter untuk akses jalan menuju rumah keluarga Suharto tanpa meminta ganti rugi.

Sementara itu, pihak keluarga Suharto yang diwakili anaknya yakni Tri Budi menolak dituding memviralkan peristiwa ini ke media. Budi juga mengaku sudah meminta maaf terkait kasus ini.

"Saya tidak memviralkan ke media, bisa di cek ke sosial media saya. Kita sudah minta maaf. Ya mungkin ada kekeliruan pembicaraan atau masalah hati saat melakukan mediasi. Namanya orang Jawa ada unggah-ungguh (sopan santun), salah tidak salah kita harus minta maaf," kata Tri Budi Utomo usai mediasi di Polsek Petarukan, Sabtu (13/3) lalu.

Selengkapnya soal kasus sengketa akses jalan ini yang bikin Bupati Pemalang turun tangan ke lokasi...