Round-Up

Aturan PPKM Jateng-PTKM Yogya yang Diubah di Tengah Jalan

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 16 Jan 2021 15:46 WIB
Penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) diberlakukan di Jawa-Bali. Sejumlah aturan diterapkan, salah satunya batasi jumlah pengunjung restoran jadi 25%.
PPKM diberlakukan di sebagian Jawa-Bali. (Foto: Rifkianto Nugroho)
Yogyakarta - Perubahan regulasi secara mengejutkan terjadi pada hari pertama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Solo (Kota Surakarta), Jawa Tengah. Jam malam untuk pengusaha kuliner akhirnya dibatalkan.

Pada Jumat (8/1) malam, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo bersama instansi lain merumuskan aturan PPKM 11-25 Januari 2021. Isinya antara lain diberlakukannya batasan jam operasional sampai 19.00 WIB untuk mal, tempat hiburan, restoran, kafe, angkringan dan pedagang kaki lima (PKL).

"Kuliner malam sama aturannya, 25 persen tempat duduk dan jam operasional sampai 19.00 WIB," kata Rudy kepada detikcom di Loji Gandrung, Sabtu (9/1).

Dia menyarankan kepada masyarakat agar membawa pulang makanan yang dibeli. Petugas akan menempelkan sosialisasi di warung-warung agar pembeli makan di rumah.

Petugas Satpol PP dan tim gabungan akan melakukan patroli penegakan protokol kesehatan setiap hari. Sanksi bagi pemilik warung mulai dari teguran hingga pencabutan izin usaha.

"Kalau nekat kita minta tutup dan diberi teguran. Kalau diulangi, bisa kita cabut izin usahanya," kata Rudy.

Namun secara mendadak, aturan untuk pengusaha kuliner diubah. Pada Senin (11/1) sore, tersebar Surat Edaran (SE) Wali Kota Solo tentang perubahan dari SE 067/036.

Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas COVID-19 Solo, Ahyani, membenarkan adanya SE perubahan itu. Dia menegaskan perubahan hanya terjadi pada usaha kuliner, sementara mal dan pertokoan tetap dibatasi pukul 19.00 WIB.

"Pokoknya ya sesuai jam dia buka. Pesan antar juga boleh. Berlaku mulai hari ini," kata Ahyani saat dihubungi wartawan, Senin.

Menurutnya, aturan diubah karena adanya desakan dari pedagang kaki lima (PKL). Sebab mereka biasanya baru membuka lapak saat petang setelah pertokoan tutup.

"Itu kan karena diprotes sama pedagang-pedagang warungan itu. Itu hanya memberi ruang untuk warung-warung, hik (angkringan) sama PKL warungan. Kan mereka jam operasionalnya enggak jelas," kata dia.

Meski demikian, Pemkot Solo tetap membatasi kapasitas untuk makan di tempat, yakni 25 persen. Selain itu, patroli tim gabungan tetap dilaksanakan untuk menegakkan protokol kesehatan.

"Aturan kapasitas 25 persen tetap berlaku. Warung juga harus tetap menerapkan protokol kesehatan. Dan kita imbau agar makanan dibawa pulang," ujar Sekretaris Daerah Kota Solo itu.

Banyak pedagang tutup

Karena aturan perubahan terjadi mendadak, banyak pedagang yang sudah terlanjur tutup lebih awal, bahkan sengaja libur. Hal tersebut seperti dikatakan Ketua Paguyuban Galabo Malam, Agung.

"Baru tahu sore ini ada perubahan. Banyak yang sudah terlanjur berencana tidak buka hari ini. Mungkin besok akan buka," katanya saat dihubungi wartawan, Senin (11/1).

Dia mengaku lega dengan adanya kelonggaran dari pemerintah. Pedagang pun siap menerapkan pembatasan 25 persen kapasitas dan menjaga jarak.

"Kita bisa lega karena bisa buka sesuai jam operasional. Kita tetap menyiapkan tempat cuci tangan, thermogun sampai membatasi kapasitas," ujar dia.

Terlihat jalan-jalan yang biasa dipenuhi pedagang kaki lima (PKL) menjadi lengang malam ini. Seperti di Jalan Yos Sudarso, Jalan Rajiman, Jalan Menteri Supeno dan Jalan Slamet Riyadi hampir tak ada warung buka.

Tim gabungan kepolisian, TNI dan Satpol PP tetap melaksanakan operasi yustisi sekaligus sosialisasi PPKM. Beberapa orang pembeli kedapatan tidak mengenakan masker saat makan di angkringan, namun mereka hanya mendapatkan teguran.

"Hari ini kebanyakan pada tutup, besok dan seterusnya kita pantau lagi. Tadi kebanyakan hanya kita sosialisasikan agar menjaga jarak dan membatasi kapasitas," kata Sukarda di sela-sela patroli, Senin malam.

Selanjutnya, Klaten juga ubah aturan PPKM...

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4