Sejarawan Bicara Interpretasi Soal Mitos Ratu Kidul Rekam Peristiwa Tsunami

Pradito Rida Pertana - detikNews
Senin, 28 Sep 2020 18:54 WIB
Lukisan Ratu Kidul (Sumber: Situs Kemdikbud)
Foto: Lukisan Ratu Kidul (Sumber: Situs Kemdikbud)
Yogyakarta -

Peneliti paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto menyebut tsunami besar sudah terjadi di selatan Pulau Jawa dan peristiwanya diyakini terekam dalam mitos Ratu Kidul. Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Sri Margana menyebut hal itu sebagai pendapat atau interpretasi.

"Itu kan interpretasi saja, semua orang boleh berinterpretasi. Kan orang LIPI ini tidak memberikan data persisnya kapan itu ada tsunami di pantai selatan Yogya," kata Sri Margana saat dihubungi detikcom, Senin (28/9/2020).

Menurutnya, pada Babad Tanah Jawi, cerita Ratu Kidul adalah sebuah simbol legitimasi kekuasaan. Legitimasi itu terkait syarat untuk menjadi raja, termasuk adanya cerita pertemuan dan perkawinan antara Senopati dan Ratu Kidul.

"Kalau di naskah Jawa, Babad Tanah Jawi itu, cerita Ratu Kidul itu untuk legitimasi kekuasaan. Jadi Sutowijoyo itu hanya keturunan seorang petani, Ki Ageng Pemanahan itu orang desa, dari dinasti petani. Sementara untuk menjadi raja, menurut kepercayaan orang Jawa dia harus trah ing kusumo rembesing madu artinya seorang harus berdarah bangsawan atau seorang intelektual atau pujangga atau ulama. Selain itu tidak bisa, tidak legitimate," ujarnya.

Oleh karena itu, sebagai bentuk legitimasi maka Panembahan Senopati harus menguasai kekuatan besar. Yang mana menurut pandangan orang Jawa, sumber kekuatan besar itu berasal dari dua sumber yakni sumber yang tampak dan tak tampak.

"Jadi untuk salah satu untuk melegitimasi kekuasaannya adalah dengan cara menguasai sebuah kekuatan yang besar. Nah, kekuatan besar itu adalah kalau orang Jawa itu punya dua pandangan, yang tampak dan tak tampak. Nah, yang tak tampak itu seperti dunia batin dan spiritual, supranatural termasuk tokoh-tokoh figuratif seperti Ratu Kidul," ujarnya.

Sehingga, kata Margana, meskipun Senopati tidak berdarah bangsawan dia telah mendapat dukungan dari Ratu Kidul yang dipercaya sebagai penguasa laut selatan yang memiliki kekuatan gaib yang besar. Hal itu ditunjukkan ketika Senopati dan pasukan Mataram berperang melawan Kerajaan Pajang, di mana saat itu dia dibantu oleh Ratu Kidul.

Cerita ini dibangun berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa khususnya di pesisir selatan yang percaya bawa Ratu Kidul adalah penguasa laut selatan. Dalam cerita tersebut, Ratu Kidul dipercaya memiliki kekuatan yang dahsyat untuk menghancurkan umat manusia dengan ombak besar dari laut selatan.

"Jadi sebelum Senopati menjadi raja memang mitos Ratu Kidul sudah lama dikenal sehingga kemudian dia sebagai penguasa laut selatan. Jadi di babad diceritakan kalau dia berhasil menikahi Ratu Kidul, itu kan berarti dia didukung oleh kekuatan besar untuk menjadi raja, jadi dia berkuasa tidak hanya di dunia nyata tapi juga di dunia batin, supranatural dan sebagainya, itu salah satu upaya untuk melegitimasi kekuasaan, Senopati," lanjut Margana.

Ketika ditanya soal kandungan makna dari penggalan narasi di Babad Tanah Jawi mendeskripsikan kejadian tsunami besar di pesisir selatan Jawa pada awal berdirinya Mataram Islam, Margana menyebut hal itu sebagai simbolisme.

"Tsunami fenomena lama di Indonesia, sebetulnya ada interpretasi lain mengenai itu. Bahasa Ratu Kidul itu sebetulnya simbolisme," katanya.

"Jadi Babad Tanah Jawi Senopati bertemu dan menikah dengan penguasa laut selatan. Ini simbolisme bahwa ada sebuah kekuatan besar yang membantu Senopati dalam mendirikan Mataram, kekuatan besar itu siapa? Kekuatan besar itu adalah penguasa laut," lanjut Margana.

Diberitakan sebelumnya, penelitian terbaru dari ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap potensi tsunami setinggi 20 meter. Sejak dahulu kala, ternyata tsunami besar sudah terjadi di selatan Pulau Jawa. Peristiwanya diyakini terekam dalam mitos Ratu Kidul.

Selanjutnya
Halaman
1 2