Populer di Jateng Pekan Ini

Ganjar Imbau 9 Wilayah di Daerahnya Segera 'Injak Rem' Atasi Corona

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Sabtu, 19 Sep 2020 15:12 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)
Semarang -

Awal pekan lalu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta 9 daerah agar mulai 'injak rem' dalam penanganan penyebaran virus COVID-19 atau Corona. Ganjar menekankan agar tidak ada event-event yang mengundang kerumunan.

"Saya sampaikan ada beberapa kabupaten/kota yang hari ini butuh perhatian maka saya mohon bupati/wali kota agar menjaga dan lebih ketat lagi, rem agak diinjak. Ada Kabupaten Pati, Kabupaten Rembang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen, Kota Semarang, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Tegal," kata GanjarSenin (14/9/2020) lalu.

Ia meminta tidak ada event yang berpotensi mengundang keramaian. Selain itu dalam penegakkan sanksi bagi yang tidak patuh protokol kesehatan, Ganjar meminta penegak hukum tetap menjalankan razia dan memperhatikan aktivitas masyarakat yang tidak terduga.

"Ada beberapa tren yang kemudian meningkat dari aktivitas masyarakat. Contoh tiba-tiba lari di depan, Jalan Pahlawan, balapan lari, ternyata trennya nasional. Kita tidak pernah tahu maka yang inilah kita mesti lakukan pencegahan, patroli jadi sangat penting. Bu Fat kena restorannya. Kalau warung-warung seperti Bu Fat kena maka ada potensi warung lain juga," jelasnya.

Terkait injak rem, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi atau Hendi menjelaskan pihaknya sudah melakukan itu dengan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) bahkan tanpa batas waktu. Ia meminta agar masyarakat tidak meremehkan Corona, terutama anak muda yang ternyata pelanggaran protokol kesehatan di Kota Semarang adalah anak muda.

"Pesan saya buat anak muda, jangan pernah berpikir Corona itu hoaks, rekayasa. Yang meninggal 600 lebih, yang positif sekarang 500 lebih. Warga semarang, anak muda Semarang mari kita jaga kota ini, lingkungan, keluarga. Tidak usah gaya kumpul tanpa masker, 'aku ra popo', lha keluargamu piye? Bagaimana lingkungan, keluarga," pesan Hendi Selasa (15/9/2020).

"Soal event balap liar. Namanya anak muda. Udah kami tertibkan, mudah-mudahan tidak diulangi lagi," imbuhnya.

Sementara itu Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Kabupaten Boyolali, Masruri mengatakan Boyolali kasusnya meningkat karena masifnya screening dengan tes massal.

"Boyolali (kasus positif COVID-19) banyak, itu karena screening kita yang masif. Kita screening ke pasar-pasar, pasar sapi, kita swab itu masif sekali, sehingga hasilnya mesti banyak. Rata-rata itu kalau kita swab itu sehari 300-400 orang," ujar Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Kabupaten Boyolali, Masruri, kepada detikcom, Selasa (15/9/2020).


Selanjutnya
Halaman
1 2