Terpopuler di Jateng: Jasad Bukan Pasutri Bertumpuk-Siswi SMP Disiksa

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 15 Feb 2020 10:22 WIB
Kamar tempat pasangan selingkuh tewas di Baturraden
TKP Penemuan mayat bukan pasutri tewas bertumpuk di Baturraden (Foto: Dok. Polresta Banyumas)

Akibat penganiayaan itu siswi mengalami luka lebam di bagian pinggang. Hingga Jumat (14/2) kemarin, siswi tersebut juga belum masuk sekolah. Ibu korban bernama SR mengaku nelangsa saat tahu anaknya menjadi korban penganiayaan keji di sekolahnya.

Raut wajah sedih terpancar di wajah SR saat menceritakan kisah pilu penganiayaan keji yang dialami putri bungsunya itu. Sesekali dia menyeka air mata yang menetes di pipi dengan kedua tangannya. Selama ini, SR tak menaruh curiga ketika putrinya kerap pulang dan mengeluh sakit di beberapa bagian tubuhnya. Namun, SR mengaku tak berusaha mencari tahu penyebab keluhan itu.

"Anaknya sambat-sambat (mengeluh) sering sakit, saya kira karena sering guyon (bercanda) sama temannya karena anaknya aktif, saya kira cuma dorong-dorongan gitu atau gimana kan biasa. Dia juga sering minta keluar sekolah, tapi saya nggak ngeh," kata SR saat berbincang dengan detikcom, Jumat (14/2).

Dia menyerahkan kasus ini ke polisi dan berharap putri bungsunya itu mendapatkan keadilan. Sementara itu pihak sekolah menyebut para siswa yang melakukan penyiksaan merupakan pindahan baru. Lewat pernyataan sikap yang dikeluarkan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purworejo bersama Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah mereka menyatakan keprihatinannya.

Ada 8 poin yang disampaikan terkait terjadinya aksi perundungan tersebut. Selain menyatakan rasa keprihatinan, PDM Purworejo dan Majelis Dikdasmen PWM Jateng juga menegaskan bahwa tindakan ketiga siswa tersebut bukan menunjukkan karakter yang terbentuk di SMP Muhammadiyah Butuh.

"Dengan kejadian ini, kami bertekad untuk menata ulang dan merevitalisasi sekolah tersebut dengan pola baru, menjadi sekolah inklusi berbasis karakter dan ramah anak. Program ini akan bekerja sama dengan Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Muhammadiyah Purworejo," demikian salah satu butir pernyataan.

Pernyataan sikap tersebut dikeluarkan di Semarang melalui surat resmi tertanggal 14 Februari 2020. Saat dikonfirmasi detikcom, Ketua PDM Purworejo, Pudjiono membenarkan surat edaran yang memuat pernyataan resmi pihaknya.

"Nggih, leres (ya betul) Itu hasil koordinasi dan kesepakatan dengan PWM dan nasihat Pak Haedar (Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah)," katanya ketika dihubungi detikcom, Jumat (14/2) malam.

Halaman

(ams/ams)