Kejari Kabupaten Sukabumi Janji Berantas Penjual Elpiji Harga Mahal

Syahdan Alamsyah - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 19:49 WIB
Pekerja memindahkan tabung gas LPG 3 kilogram subsidi di salah satu agen gas di kawasan Karet Tengsin, Jakarta, Kamis (30/12/2021). Kenaikan harga LPG nonsubsidi mendorong terjadinya peralihan pola konsumsi masyarakat menjadi lebih memilih gas LPG 3 kilogram bersubsidi atau gas melon, karena memiliki harga yang lebih murah.
Ilustrasi elpiji tiga kilogram (Foto: Rengga Sencaya/detikcom)
Sukabumi -

Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Sukabumi membidik penjual elpiji tiga kilogram untuk masyarakat miskin yang dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Saat ini lembaga Adhyaksa tersebut masih menyelidiki dan memeriksa sejumlah oknum agen yang menjual elpiji dengan harga mahal.

Kasi intelijen Kejari Kabupaten Sukabumi, Aditia Sulaeman mengatakan pihaknya menerima pengaduan dari masyarakat soal harga elpiji 3 kilogram yang dijual dengan harga Rp 18 ribu dan Rp 19 ribu. Aditia menyebut ada harga elpiji yang dijual di atas Rp 20 ribu.

"HET elpiji tiga kilogram itu Rp 16 ribu, kemarin itu pangkalan yang ada yang menjual Rp 18 ribu sampai Rp 19 ribu malahan di pangkalan lain ada yang jual antara Rp 20 ribu sampai Rp 21 ribu," kata Aditia kepada detikcom, Rabu (19/1/2022).

Tidak hanya terpaku pada HET, Aditia mengatakan, pihaknya menyelidiki mulai dari mekanisme pengawasan oleh para agen ke tingkat pangkalan yang kemudian didistribusikan ke warung-warung. Menurutnya, semua itu ada aturan main yang harus dipatuhi.

"Kemudian pengawasan dari agen juga seperti apa, terkait adanya penjualan di luar HET dari pangkalan kan itu ada tupoksi pengawasan dari agen dan lain-lainnya. Praktik penjualan elpiji tiga kilogram di atas HET ini harus diberantas karena merugikan mereka yang memang masyarakat kurang mampu. Ada itu aturan detailnya," tutur Aditia.

Dia membenarkan pihaknya telah memanggil agen penyalur elpijinya. Agen tersebut diminta untuk menjelaskan soal mekanisme penyaluran atau distribusi ke pangkalan hingga penetapan soal harga elpiji.

"Dirugikan itu adalah masyarakat kurang mampu. Ada aturan seperti pembatasan pembelian misalkan satu orang satu. Orang jualan atau pedagang penerima manfaat gas elpiji tiga kilogram bisa beli satu dan bisa beli lagi tiga hari kemudian. Ada aturannya soal itu. Kita akan lakukan pemeriksaan dan penyelidikan mendalam soal ini," ujar Aditia.

Simak juga video 'Harga LPG Non Subsidi Naik, Warga Mulai Beralih ke Gas Melon 3 Kg':

[Gambas:Video 20detik]