Murid PAUD Meninggal Pascavaksinasi di Cianjur Ternyata Alami Stunting

Ismet Slamet - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 15:10 WIB
Vaksinasi Anak di Ciamis
Ilustrasi vaksinasi anak (Foto: Dadang Hermansyah)
Cianjur -

ZL (6,5), murid PAUD di Kecamatan Pasirkuda Kabupaten Cianjur meninggal usai divaksinasi. Diketahui jika murid tersebut ternyata memiliki riwayat penyakit dan mengidap stunting.

Bupati Cianjur Herman Suherman, mengatakan setelah munculnya kasus tersebut, tim dari Dinas Kesehatan langsung turun ke lokasi untuk melakukan penelusuran informasi, memastikan penyebab kematian ZL.

Menurut dia diketahui jika ZL ternyata memiliki riwayat penyakit, dimana saat masih balita pernah mengalami demam tinggi dan kejang.

"Selain itu ZL juga mengidap stunting. Jadi memang ada riwayat penyakit. Namun orangtuanya mungkin tidak jujur atau tidak mengetahui anaknya dalam kondisi yang belum memungkinkan untuk vaksin," ungkap dia, Rabu (19/1/2022).

Menurutnya Dinkes sudah melaporkan kasus yang diduga KIPI tersebut ke Komnas KIPI. "Untuk keputusannya apakah KIPI atau ada penyebab lain, kami menunggu dari Komnas," ungkap dia.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Irvan Nur Fauzy, mengatakan meninggalnya murid PAUD tersebut ternyata memiliki ambang batas demam yang mengakibatkan kejang yang rendah.

"Jadi ambas batas demamnya yang berujung kejang itu di suhu 38 derajat hingga 39 derajat celcius. Biasanya kalau yang normal jika hingga kejang itu suhu tubuhnya di atas 40 derajat," ungkap dia.

Menurut Irvan, untuk kejangnya sendiri tidak menjadi penyebab kematian, karena kejangnya sendiri tidak berat. Namun penanganan darurat yang kurang tepat saat kejang, diduga yang menjadi pemicu.

Selain itu, diduga juga ada cairan yang masuk ke paru-paru saat terjadi kejang.

"Ada beberapa kemungkinan yang mengakibatkan murid meninggal setelah vaksin. Diantaranya saat kejang, cairan yang harusnya keluar lewat mulut teralihkan ke paru-paru akibat ada penyumbatan," ungkap dia.

Menurutnya dari kronologis tersebut, ZL meninggal bukan karena KIPI murni. "Bukan KIPI murni, tapi dalam istilah medis dinamakan KIPI koinsiden atau ada penyerta lainnya," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, ZL meninggal sehari setelah menjalani vaksinasi SD Banyuwangi Kecamatan Pasirkuda, dengan diantar ibunya pada Senin (17/1) pagi.

Setelah menjalani tahap pemeriksaan dan mendapat persetujuan orang tua anak tersebut pun disuntikan vaksin.

Sekitar pukul 12.30 WIB, orangtua murid tersebut melaporkan pada petugas jika anaknya mengalami demam. Petugas puskesmas pun memberi obat pereda demam dengan dititipkan pada gurunya.

Pada pukul 19.30 Wib, ZL kembali mengalami demam hingga kejang-kejang. Orangtuanya pun segera membawanya ke puskesmas untuk diperiksa.

Namun pada Kamis (18/1) pagi, ZL kembali demam dan kejang, sehingga pihak Puskesmas merekomendaso agar murid tersebut dirujuk ke RSUD Pagelaran. Namun orangtua ZL menolak anaknya dirujuk ke rumah sakit.

Kamis Siang, sekitar pukul 10.15 WIB, anak tersebut dinyatakan meninggal dunia di ruang IGD Puskesmas.

(yum/bbn)