Orang Pinggiran

Menilik Penghuni 'Istana Sisi Rel' di Cimahi

Whisnu Pradana - detikNews
Selasa, 19 Okt 2021 21:35 WIB
Penghuni Pinggir Rel di Cimahi
Keseharian aktivitas warga yang rumahnya berdekatan dengan rel kereta di Cimahi, (Foto: Whisnu Pradana/detikcom)

Asal Mula Permukiman Pinggir Rel di Cimahi

Permukiman di pinggiran rel di Kota Cimahi kini kian padat. Bangunan-bangunan semi permanen hingga bertembok beton tak lagi bisa dibendung.

Tak ada sekat dan tidak ada jarak antarsatu bangunan dengan bangunan yang lain. Entah untuk rumah tinggal maupun untuk bangunan usaha. Menilik sejarah terbentuknya permukiman di pinggiran rel, pegiat sejarah di Kota Cimahi Machmud Mubarok mengatakan hal itu erat kaitannya dengan kedatangan kaum urban dari daerah-daerah di sekitar Cimahi.

Mereka mencoba mencari peruntungan di kota besar demi menunjang kehidupan. Lalu untuk memenuhi kebutuhan akan hunian, mereka merambah daerah-daerah kosong dan tak bertuan, memulainya dengan hunian sementara, kemudian semi permanen, hingga kemudian permanen.

"Kalau bangunan di sepanjang rel, zaman kemerdekaan sebetulnya enggak ada. Karena saya ada beberapa foto rel di Cimahi zaman dulu itu kosong. Tahun 1910 lalu 1949 kosong. Sepertinya mulai zaman orde baru, karena tahun 1970 itu perumahan militer di Cimahi (Sriwijaya) itu dibangun. Nah kemudian di pinggir relnya mulai bermunculan, jadi ada kemungkinan berkaitan dengan situ, yang membangunnya bilang itu bagian dari Sriwijaya padahal ya bukan," tutur Machmud.

"Sejak zaman belanda sebetulnya sudah ada aturan empat sampai enam meter di pinggir rel tidak boleh ada bangunan, kemudian diadopsi oleh kita. Entah bagaimana, satu-dua warga berani menempati lahan itu, tapi tidak ada penindakan dari pemerintah. Akhirnya yang lain menyusul. Nah ini akhirnya berlanjut, di sepanjang rel penuh bangunan, harusnya kan kosong," kata Machmud.

Sementara kaum urban yang disinyalir menjadi penghuni awal di sepanjang pinggiran rel di Cimahi juga awalnya tak membangun hunian secara permanen. Namun kehidupan yang membaik akhirnya membuat mereka berani melangkah maju memperbaiki 'istana sisi rel' mereka.

"Orang-orang yang datang dari kampung kan di sini belum juga dapat rumah. Akhirnya memilih tinggal di pinggir rel. Awalnya kan bangunan sementara, tapi kehidupannya membaik kemudian membangun sampai permanen," tuturnya.

Di balik nekatnya orang-orang membangun hunian di pinggir rel, Machmud justru menyoroti longgarnya pengawasan dari pemerintah saat itu yang mengadopsi sistem perkeretaapian Belanda, termasuk soal zona aman rel kereta api. "Persoalannya dibiarkan dan ada yang memungut pajaknya. Karena tidak mungkin mereka bisa aman kalau tidak ada yang membekengi. Jadi awalnya ya itu, ada satu yang dibiarkan dan diizinkan akhirnya yang lain menyusul," ucap Machmud.

Membahas sedikit soal sejarah jalur kereta api di Cimahi, awalnya dibangun sebagai perpanjang jalur kereta dari Jakarta, Bogor, Sukabumi, Cianjur yang terlebih dahulu dibangun pada tahun 1881-1882. Kemudian diresmikan pada tahun 1884 setelah jalurnya diteruskan ke Bandung.

Jalur kereta dari Jakarta ke Bandung kemudian diteruskan ke arah selatan sampai ke Cilacap. Cimahi sendiri dulu hanya berfungsi sebagai halte, bukan stasiun. Namun kemudian pada tahun 1905, halte kereta api di Cimahi dipugar menjadi stasiun yang beroperasi hingga saat ini dengan mempertahankan arsitektur zaman dulu.


(bbn/bbn)