Orang Pinggiran

Kadma Hidup Berdampingan dengan Rel Kereta

Sudirman Wamad - detikNews
Selasa, 19 Okt 2021 13:01 WIB
Warga Pinggir Rel Kereta Cirebon
Rumah warga di Cirebon yang berdampingan dengan rel kereta. (Foto: Sudirman Wamad/detikcom)
Cirebon -

30 tahun lalu, Kadma merasa sulit tidur saat memutuskan untuk tinggal bersama istrinya di RW 5 Kebon Kelapa Timur, Kelurahan Kejaksan, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon. Kadma saat itu masih berusia 25 tahun.

Rupanya Kadma belum terbiasa dengan suara lalu lintas kereta api. RW 05 Kebon Kelapa Timur merupakan perkampungan padat penduduk yang berdekatan dengan rel kereta api. Kampung ini tak jauh dari Stasiun Cirebon.

Ia yang sejak kecil tinggal di sekitar Terminal Gunungsari, saat ini sudah menjadi salah satu kawasan pusat perbelanjaan tersohor di Kota Cirebon. Sejak kecil telinga Kadma akrab dengan bisingnya jalanan, suara knalpot bus kota dan angkot kota lainnya. Namun, gendang telinganya kaget saat pindah ke RW 05 Kebon Kelapa Timur.

Suara kereta api saat malam hari lebih terdengar nyaring ketimbang saat siang. Suara kereta mendominasi. Tak beradu dengan kendaraan lainnya. Getaran dan bising kereta saat malam itu rupanya mengganggu kenyamanan Kadma. Ia pun mengalami kesulitan tidur saat pertama kali tinggal bersama istrinya.

"Ya begitulah. Awalnya memang belum terbiasa. Susah tidur," ucapnya saat berbincang dengan detikcom di warungnya, beberapa waktu lalu.

Siang itu, pekan kedua Oktober 2021. Kadma sibuk menyiapkan dokumen pelantikannya sebagai Ketua RW 05 Kebon Timur, Kelurahan Kejaksan, Kota Cirebon. Kadma menggantikan ketua sebelumnya yang mangkat. Lokasi warungnya ini tak jauh dari kediamannya yang berada di samping rel.

"Kalau di terminal kan dulu tak terlalu berisik di samping rel. Wajar penyesuaian, beberapa hari susah tidurnya. Tidak sampai berbulan-bulan," ujar Kadma seraya tersenyum.

Kadma mengaku terbiasa hidup berdampingan dengan kereta api. Ia pun aktif dalam kegiatan masyarakat. Sebelum diangkat menjadi ketua RW, dia sempat menjabat sebagai RT dan sekretaris RW.

"Aman dan nyaman saja. Tidak ada masalah. Sudah terbiasa," ujar Kadma.

Dia menyebutkan totalnya ada empat RT yang berlokasi persis di samping rel kereta api. Selama ini warganya sudah biasa menjalani hidup sebagai warga kampung pinggir rel.

"Dulu tidak sepadat sekarang. Masih ada jarak, ada kebon-kebon dan lainnya," kata Kadma.

Pria berusia 55 tahun itu mengapresiasi upaya PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam mengedukasi warganya terkait keselamatan. KAI membangun tembok pembatas antara rel dan pemukiman, serta jembatan penyeberangan.

"Dulu mah belum ada. Tembok pembatas membuat warga aman," ucap Kadma.

Warga Pinggir Rel Kereta CirebonWarga Pinggir Rel Kereta Cirebon Foto: Sudirman Wamad

Sama halnya dengan Kadma, Ade Ali warga asal Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, mengaku kesulitan untuk merasakan tidur nyenyak saat pertama kali tinggal di Kampung Kebon Kelapa Timur. Usai mempersunting gadis asal Kampung Kebon Kelapa Timur pada 2010, Ade pun memilih menetap di situ

"Ya awalnya jelas kaget. Saya setengah bulan baru terbiasa di sini," kata pria berusia 38 tahun itu.

Bagi Ade, mendengar suara bising kereta dalam hitungan menit sudah terbiasa. Sekalipun itu malam hari. Telinganya tak terganggu.

Saat ditemui detikcom, Ade tengah asik bermain gitar di warung milik keponakannya. Ia memainkan sejumlah lagu pop. Sesekali suara gitarnya beradu dengan bisingnya kereta api saat melintas di Kebon Kelapa Timur. Ade tetap asik. Tak merasa terusik.

"Nyaman-nyaman saja sekarang mah. Warga sini mah terbiasa. Tidak masalah," ucap Ade.