Orang Pinggiran

Menilik Penghuni 'Istana Sisi Rel' di Cimahi

Whisnu Pradana - detikNews
Selasa, 19 Okt 2021 21:35 WIB
Penghuni Pinggir Rel di Cimahi
Keseharian aktivitas warga yang rumahnya berdekatan dengan rel kereta di Cimahi, (Foto: Whisnu Pradana/detikcom)

Segala opini tentang kehidupan masyarakat 'Penghuni Sisi Rel', tentunya juga perlu dibandingkan dengan pengakuan langsung dari pelakunya. Salah satunya Romli Hidayat (43), warga yang tinggal di pinggiran rel di Cigugur Tengah.

Pria yang hobi memelihara ayam jago itu sudah menghuni rumah di pinggir rel sejak tahun 1990 silam. Ia datang dari Kuningan untuk mengadu nasib di Kota Bandung. Namun nasib membawanya ke Cimahi yang bertetangga dengan Bandung. Kini ia menjadi pedagang pulsa dan kartu perdana untuk handphone.

"Yang penting usaha, daripada cuma diam. Tapi kalau saya di sini ngontrak, belum punya rumah sendiri," kata Romli saat ditemui di sela kegiatannya, beberapa waktu lalu.

Seperti biasa, setiap pagi ayah dua anak itu memiliki ritual memandikan dan menjemur ayam jagonya. Ada tiga, semuanya diperlakukan sama. Ritual itu dilakukan tepat di pinggir rel kereta api, tak takut tersambar karena ia mengklaim sudah tahu kereta melintas di jalur mana dengan melihat kedipan lampu.

"Kita juga kan jaraknya enggak terlalu dekat dengan rel, kalau ada kereta ya agak mundur jadi enggak akan tersambar. Di Cimahi dari dulu memang agak susah cari kontrakan murah, jadi dapatnya di sini (pinggir rel). Ya nyaman aja," cerita Romli.

Selama tinggal berdampingan dengan rel kereta api, ia tak banyak mengeluh. Syukur-syukur sudah punya tempat tinggal buat berteduh dari panas dan hujan. Meskipun suatu saat, ia ingin punya rumah sendiri di lingkungan permukiman yang lebih baik.

"Ya awal-awal kalau ada kereta kadang terganggu karena berisik, tapi lama-kelamaan ya terbiasa. Lagian kan lewatnya enggak sering, lebih berisik suara motor yang lewat jalan depan rumah," tutur Romli,

Penghuni Pinggir Rel di CimahiAnak-anak bermain layangan di pinggir rel saat kereta melintas. (Foto: Whisnu Pradana/detikcom)

Bahaya tinggal di pinggiran rel juga mengintai bocah-bocah yang tak punya lapangan bermain. Demi memuaskan hasrat mereka, tak jarang rel kereta api jadi tempat bermain. Misalnya saja Muhammad Ridwan, bocah 11 tahun yang gemar bermain layangan.

Ketiadaan tanah lapang di tempat tinggalnya, belum lagi kawasan permukiman yang rumahnya berdempetan satu sama lain membuat dirinya menantang maut dengan bermain layangan di tengah perlintasan kereta api.

Sambil menenteng gulungan nilon dan layangan yang diselempangkan di punggungnya, Ridwan bersama teman-teman seperjuangannya mulai berburu layangan yang putus setelah beradu dengan layangan lainnya. Jika hasil buruannya sudah banyak, barulah ia akan menerbangkan layangannya.

"Iya senang main layangan, setiap sore main layangan. Ya di sini (rel) mainnya, soalnya enggak ada lapangan," kata Ridwan.

Ridwan sadar bahaya mengintainya lantaran bermain di perlintasan kereta api. Apa lagi ia sering mendengar mitos jurig bonge yang kerap membuat orang yang berjalan di atas perlintasan kereta api tak mendengar dan tak menyadari datangnya kereta.

"Ya takut ketabrak, terus sering dengar cerita jurig bonge juga dari orang tua. Tapi ya kan sudah tahu kalau mau ada kereta. Dari jauh juga sudah kelihatan, jadi bisa minggir dari rel dulu," kata Ridwan keukeuh.

Dari beberapa obrolan dengan warga setempat, tak cuma anak-anak saja yang senang bermain layangan. Bahkan orangtua ada juga yang keranjingan melakoni permainan tradisional itu. Bedanya mereka menjadikan layangan sebagai hiburan dan ajang mencari peruntungan dengan berjudi.

Sayangnya sejak beberapa bulan lalu tak lagi terlihat adanya aktivitas tersebut. Entah karena pandemi COVID-19 yang melanda atau karena alasan lain. Sehingga pemain layangan kini hanya dilakoni bocah-bocah kecil.