Jabar Hari Ini: Pria Rusak Masjid-Hujan Es Terjang Sejumlah Daerah

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 23 Sep 2020 20:22 WIB
Sebuah masjid di Bandung dilempar seorang priapria hingga mengakibatkan kaca pecah. Pria yang diketahui berinisial DB itu tiba-tiba datang dan melakukan pelemparan.
Perusakan masjid di Bandung (Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom).

Sekeluarga di Bandung Tinggal di Rumah Nyaris Ambruk

Heri Pandi (58) sapaan akrab Eri, salah satu warga di Jalan Garuda Dalam I, RT 6 RW 3 Desa Dungus Cariang, Kecamatan Andir, Kota Bandung butuh bantuan untuk biaya pembenahan rumahnya dan pengobatannya. Saat ini dia dan keluarganya bertahan di rumah dengan kondisi yang memprihatinkan.

Rumah dengan ukuran kurang dari 4x5 meter terpaksa dihuni oleh lima jiwa. Atap dan kusennya sudah tidak berbentuk, ditambah dengan genting yang mulai ditumbuhi dengan tumbuhan liar karena tidak terurus.

Saat detikcom menyambangi di kediamannya, Eri tampak kesulitan bernafas. Rupanya dia mengidap penyakit paru-paru. Bukan tak ingin untuk memperbaiki rumah dan memulihkan kesehatannya, namun Eri menuturkan tidak memiliki kemampuan dari segi biaya.

"Bekas orang tua (rumah), cuman kebetulan orang tua kondisi ekonominya juga kekurangan ditambah buta atau tunanetra. Saya anak terakhir yang ngurus orang tua," kata Eri saat ditemui, Rabu (23/9/2020).

Dia mengatakan, selama mengurus ibunya 'nyambil' bekerja sebagai tukang servis barang elektronik. "Kerjanya buruh serabutan. Ngurus orang tua jadi ngambil yang bisa dikerjain di rumah. Elektronik juga autodidak, asal bisa betulin tv dan radio," tuturnya.

Selama dua tahun terakhir, kondisi rumahnya lebih parah dan tidak terurus sama sekali karena penyakitnya yang membatasi. Sebelum sakit, kata dia, kerusakan ringan di rumahnya masih sempat ia benahi. "Tapi sekarang buat naik ke atap aja ga sanggup," ujarnya.

"Kalau udah dengar 'geludug' (petir) udah dag dig dug, banjir sama bocor itu udah pasti. Banjir-banjir ke sini, di sini (bagian dalam rumah) keluar air. Makanya kena penyakit eksim karena airnya kotor," kata Eri.

Dua anak laki-laki, satu keponakan, dan istrinya tinggal di tempat yang sama. Seringkali anak-anak tidak tidur di rumah dan menginap di temannya. "Ya karena udah pada besar-besar dan kasian kalau tidur di sini. Bapak juga pisah tidurnya di tengah karena sakit jadi takut nularin ke yang lain," akunya.

Usaha Eri untuk memenuhi kebutuhan keluarganya tidak cukup sampai di situ. Ia bersama dengan beberapa tetangganya sempat mengajukan bedah rumah ke kelurahan setempat. Namun sayang, persyaratan administrasi menyulitkannya mendapatkan bantuan tersebut.

"Udah beberapa kali yang datang dari Paguyuban, RT, RW, dan Lurah. Udah foto-foto tapi juga belum ada tindak lanjutnya. Katanya saya tidak punya sertifikat tanah," imbuh Eri.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5 6