Pertikaian antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki hari ketiga.
Serangan AS-Israel terhadap Iran berubah menjadi perang regional setelah Iran melancarkan gempuran ke sejumlah negara Arab yang disebut sebagai sekutu AS.
Eskalasinya terus meningkat. Sejumlah negara turut bertindak. Salah satunya, UK yang kini mengizinkan AS menggunakan pangkalan militernya di Siprus.
Masih terlalu dini untuk mengetahui kapan dan bagaimana akhir dari pertikaian ini. Sebab begitu perang dimulai, sulit untuk mengendalikannya.
Meski demikian, berikut adalah beberapa cara yang diinginkan oleh pihak-pihak yang bertikai untuk mengakhiri pertempuran ini.
Definisi kemenangan Trump
Sejak awal, Presiden Trump telah menggambarkan definisi konsep kemenangan sesuai dengan bayangannya.
"Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka hingga rata dengan tanah. Sekali lagi, dihancurkan sepenuhnya," ujar Trump dalam pesan video yang direkam di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, AS.
"Kami akan menghancurkan angkatan laut mereka. Kami akan memastikan bahwa proksi teroris di kawasan tersebut tidak lagi dapat mengganggu stabilitas kawasan bahkan stabilitas dunia, tidak bisa juga menyerang pasukan kami, dan tidak lagi menggunakan IED atau bom pinggir jalan yang menyebabkan luka parah dan kematian ribuan orang, termasuk banyak warga Amerika."
Persoalan rudal Iran ini memang selalu dijadikan alasan Trump untuk mengambil aksi militer terhadap Iran. Baginya, kemenangan dikaitkan dengan kehancuran rudal-rudal Iran.
Sebab, ia mengklaim Iran sedang mengembangkan rudal yang bisa mencapai AS. Pernyataan berulang ini tidak didukung oleh penilaian intelijen AS.
Ia juga mengklaim Iran nyaris berhasil mengembangkan senjata nuklir. Hal ini bertentangan dengan pernyataannya sendiri pada musim panas lalu bahwa AS telah "menghancurkan" fasilitas nuklir Iran.
Adapun melalui pesan video yang sekaligus mengumumkan dimulainya perang, Trump tampak mengenakan kemeja berkerah terbuka dan topi bisbol putih yang ditarik rendah menutupi matanya.
Ia memaparkan daftar tuduhan yang panjang dengan mengklaim Iran telah menjadi ancaman yang mendesak bagi AS sejak Revolusi Islam pada 1979.
Untuk momen penting dan genting semacam ini, presiden lain sebelum Trump kemungkinan akan memilih pidato yang serius dari balik meja Resolute di Ruang Oval, Gedung Putih. Bukan dari rumah dengan mengenakan setelan santai.
- Apa yang terjadi jika Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur minyak global?
- Apakah negara-negara Teluk akan membalas serangan Iran dan bakal terseret dalam perang?
- Ormas-ormas keagamaan di Indonesia kompak kecam serangan AS-Israel ke Iran
Upaya Trump disambut Israel yang juga memiliki ambisi melumpuhkan rezim di Teheran. Jika rezim tersebut tidak menyerah, Trump ingin mereka dihancurkan sehingga rakyat Iran akan memiliki kesempatan untuk turun ke jalan dan merebut kekuasaan:
"Ketika kami selesai, ambil alih pemerintah kalian. Itu akan menjadi milik kalian. Ini mungkin satu-satunya kesempatan kalian dalam puluhan tahun ini. Selama bertahun-tahun, kalian telah meminta bantuan Amerika Serikat, tetapi kalian tidak pernah mendapatkannya. Tidak ada presiden yang bersedia melakukan seperti yang saya lakukan malam ini. Sekarang kalian memiliki presiden yang memberikan apa yang kalian inginkan. Jadi mari kita lihat bagaimana respons kalian."
Ucapannya ini seolah demokratis karena membuka ruang dan tanggung jawab bagi rakyat Iran untuk bisa mengubah rezim diktator yang bertahan selama puluhan tahun dengan bergerak mandiri.
Padahal, bisa jadi ini hanya taktik Trump agar kelak bisa menghindar, apabila rezim yang disasar ternyata tetap bertahan.
- Pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, wafat dalam serangan AS dan Israel
- Ayatollah Ali Khamenei wafat, siapa penerusnya dan apa yang mungkin terjadi selanjutnya?
- AS-Israel serang Iran, di mana Rusia dan China?
Sebab, peluang untuk menggulingkan rezim hanya dengan serangan udara sangat kecil.
Selama ini, belum ada pergantian rezim atau kemenangan perang melawan musuh yang bersenjata lengkap hanya dengan menggunakan kekuatan serangan udara.
Pada 2003, AS dan sekutunya, termasuk UK, mengirim pasukan darat ke Irak untuk menggulingkan Saddam Hussein.
Pada 2011, Kolonel Muammar Gaddafi di Libia digulingkan oleh pasukan pemberontak yang dibekali oleh NATO dan negara-negara Teluk, serta dilindungi oleh angkatan udara mereka.
Rencana Trump saat ini, yang mendorong agar rakyat Iran turun ke jalan guna menggulingkan rezim, merupakan pertaruhan besar.
Apakah mungkin terjadi kudeta pro-Barat dari dalam? Tidak mustahil, tapi tentu belum terlihat pada hari ketiga perang.
Justru kemungkinan yang terbuka saat ini adalah para pemimpin rezim akan bertahan dan meluncurkan lebih banyak rudal.
Tindakan tersebut didorong oleh ideologi dan keyakinan bahwa mereka dapat menahan penderitaan lebih lama daripada AS, Israel, atau negara-negara Teluk Arab.
Hitung-hitungan Netanyahu
Seperti Trump, Benjamin Netanyahu juga telah membuat pernyataan yang mendorong warga Iran untuk mengambil tindakan sendiri.
Namun, jika mereka tidak dapat mengalahkan pasukan keamanan rezim yang kejam, prioritas Netanyahu adalah menghancurkan militer Iran dan kemampuannya untuk membangun kekuatan milisi di seluruh wilayah yang dapat mengancam Israel.
Selama puluhan tahun, Benjamin Netanyahu memandang Iran sebagai musuh paling berbahaya bagi Israel. Ia meyakini bahwa penguasa Republik Islam Iran ingin membangun senjata nuklir untuk menghancurkan negara Yahudi.
Pada Minggu (01/03), ia berdiri di atas atap di Tel Aviv dan menjelaskan pandangannya mengenai bagaimana perang ini akan berakhir.
Ia berkata Israel dan AS bersama-sama akan mampu "melakukan apa yang telah ingin dicapai selama 40 tahun, yaitu menghancurkan rezim teror secara total".
Ia menegaskan akan mewujudkan janji itu menjadi kenyataan.
- Konflik meluas: Iran ancam 'bakar' kapal-kapal di Selat Hormuz, Kedubes AS di Riyadh diserang drone
- 'Korban pertama perang ini adalah 40 anak di Minab' Respons warga Iran atas serangan AS-Israel
- Apakah negara-negara Teluk akan membalas serangan Iran dan bakal terseret dalam perang?
Perang selalu memiliki dimensi politik dalam negeri. Layaknya Trump, Netanyahu akan menghadapi pemilu pada akhir tahun ini. Berbeda dengan Trump, posisi Netanyahu jauh lebih rentan dan terancam.
Sebab, banyak warga Israel menyalahkan Netanyahu atas kelalaian keamanan yang memberi Hamas kesempatan untuk menyerang pada 7 Oktober 2023. Ia akan memperoleh pengampunan politik apabila bisa meraih kemenangan telak atas Iran. Dengan hasil itu, ia bisa tak akan terkalahkan dalam pemilu.
Apakah pemerintah Iran akan runtuh atau makin kuat?
Pembunuhan pemimpin tertinggi Iran dan penasihat militer utamanya merupakan pukulan besar bagi pemerintah Iran. Namun, bukan berarti rezim tersebut akan runtuh.
Hampir 50 tahun yang lalu, Ayatollah Ruhollah Khomeini dan pendiri Republik Islam Iran merancang berbagai institusi agar pemerintah dapat bertahan dari perang dan pembunuhan.
Rezim ini bukanlah sistem yang bergantung pada satu orang. Negara Suriah di bawah Al-Assad dan Libia di bawah Gaddafi dibangun oleh keluarga penguasa.
Ketika keluarga-keluarga tersebut dihilangkanGaddafi dibunuh dan Bashar al-Assad melarikan dirimaka rezim-rezim tersebut runtuh.
Rezim Iran adalah sistem negara yang berlandaskan jaringan institusi politik dan agama yang kompleks. Sistem ini dirancang untuk bertahan dari perang dan pembunuhan.
Definisi kemenangan bagi pemerintah Iran adalah kemampuan untuk bertahan. Untuk itu, pemerintah Iran mengelilingi diri dengan tingkat perlindungan yang sangat kuat.
Antara lain, dengan aparat keamanan, penindasan, dan paksaan yang kuat dan kejam. Pada Januari 2026, aparat turun ke jalan-jalan, mengikuti perintah untuk membunuh ribuan demonstran.
Hingga saat ini, tidak ada tanda-tanda bahwa pasukan bersenjata rezim tersebut melemah, seperti yang terjadi pada pasukan Assad pascamelarikan diri ke Moskow pada Desember 2024.
Selain pasukan bersenjata konvensional dan polisi yang dilengkapi senjata, ada Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang memiliki mandat eksplisit untuk melindungi rezim di dalam dan luar negeri. IRGC hadir sebagai perpanjangan tangan velayat-e faqih atau perwalian ahli hukum Islam dalam teori politik Syiah, yang diwujudkan melalui kekuasaan ulama.
Itu adalah doktrin kunci Revolusi Islam di Iran, yang membenarkan kekuasaan pemimpin agama Syiah.
IRGC diperkirakan memiliki 190.000 personel aktif dan 600.000 personel cadangan. Selain doktrin agama, IRGC juga mengendalikan sebagian besar ekonomi. Pemimpinnya memiliki alasan finansial maupun ideologis untuk tetap setia.
- Presiden Prabowo tawarkan jadi juru runding konflik AS-Israel dengan Iran 'Sangat tidak realistis'
- Harga minyak dunia melonjak setelah kapal-kapal diserang di dekat Selat Hormuz
- Bagaimana status program nuklir Iran, dan ancaman apa yang mungkin ditimbulkan?
IRGC didukung oleh Basij, pasukan paramiliter sukarelawan. Dengan sekitar 450.000 anggotanya, Basij dikenal karena kesetiaan mereka terhadap rezim dan bersedia melakukan tindak kekerasan.
Basij bertindak di Teheran sebagai garis pertahanan pertama rezim saat protes terhadap pemilu yang kontroversial pada 2009. Mereka mengancam dan memukul para demonstran di jalanan dengan tongkat dan pentungan karet.
Di belakang mereka terdapat polisi bersenjata berat dan anggota IRGC. Basij juga memiliki tim khusus yang beroperasi dengan sepeda motor, berkeliling kota untuk menangani aksi protes.
Trump mengancam IRGC dan Basij dengan kematian kecuali mereka menyerahkan senjata. Ancaman tersebut kemungkinan besar tidak akan mengubah pikiran mereka.
Republik Islam dan Islam Syiah dipenuhi dengan pemikiran tentang mati syahid.
Pada Minggu (01/03), pembaca berita stasiun televisi negara mengumumkan kematian Khamenei dengan mengatakan bahwa ia telah meneguk minuman manis dan murni syahid.
Beberapa analis Iran menduga Ayatollah melanjutkan pertemuan di kompleksnya di Teheran dengan penasihat seniornya meski serangan akan segera terjadi. Hal ini diperkirakan dilakukannya demi mati syahid.
Rezim tersebut didukung oleh warga yang begitu loyal.
Ribuan orang turun ke jalan-jalan Teheran setelah Khamenei wafat. Mereka berkumpul di alun-alun umum dengan menyalakan lilin dan senter ponsel mereka, di tengah kepulan asap ledakan dari serangan udara AS dan Israel.
Preseden buruk
AS dan Israel meyakini kekuatan militer mereka dapat memaksakan perubahan rezim pada musuh tanpa menimbulkan bencana.
Namun, presedennya tidak baik. Penggulingan Saddam Hussein di Irak pada 2003 menyebabkan perang bertahun-tahun yang melahirkan gerakan ekstremis jihadis yang masih ada hingga kini.
Libia, negara yang memiliki cadangan minyak cukup besar untuk kesejahteraan masyarakatnya, kini hancur dan miskin.
Bahkan Libia menjadi negara gagal sepanjang 15 tahun setelah Gaddafi digulingkan dan dibunuh.
Negara-negara Barat yang merayakan kejatuhan Gaddafi dan turut andil di dalamnya, memilih mencuci tangan dari tanggung jawab setelah negara itu hancur.
Iran adalah negara yang luas, hampir tiga kali lipat ukuran Irak, dengan populasi multietnis lebih dari 90 juta jiwa. Jika rezim di Iran runtuh, skenario terburuknya adalah kekacauan dan pertumpahan darah seperti perang saudara yang menewaskan ratusan ribu orang di Suriah dan Irak.
Aksi militer AS dan Israel sedang menghancurkan kapasitas militer Iran. Hal ini mengubah dinamika di Timur Tengah, bahkan jika rezim tersebut bertahan.
Sebagian besar warga Iran bisa jadi akan bersuka cita jika rezim tersebut runtuh.
Namun, menggantikan rezim yang digulingkan paksa dengan sesuatu yang damai dan teratur akan menjadi tantangan yang sangat besar.
Taruhan Trump bahwa perang ini akan membuat Timur Tengah menjadi tempat yang lebih baik dan aman, jelas sangat menantang.
More from InDepth
- 'Korban pertama perang ini adalah 40 anak di Minab' Respons warga Iran atas serangan AS-Israel
- Konflik meluas: Iran ancam 'bakar' kapal-kapal di Selat Hormuz, Kedubes AS di Riyadh diserang drone
- AS-Israel serang Iran, di mana Rusia dan China?
- Apa yang terjadi jika Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur minyak global?
Simak juga Video 'Iran: Yang Coba Alihkan Perhatian-Menyesatkan, Kita Tolak!':
(ita/ita)