INTERMESO
“Jangan kaget jika dalam waktu lima tahun akan ada presiden lagi dengan nama Obama.”
Barack Obama Senior, ayah mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama
Foto: dok. Getty Images
Barack Obama memang lahir di keluarga yang tak biasa. Bahkan hubungan Barack Obama dengan saudara-saudara tirinya pun agak lain dari yang lain. Ya, maklum saja, mereka lahir di dunia yang jauh beda, terpisah benua dan budaya.
Satu di antara saudara tiri mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama adalah Abongo Malik Obama. Dia merupakan kakak tiri Barack Obama. Sesama menyandang nama Obama, Malik juga percaya, dalam tubuhnya mengalir bakat jadi orang hebat. Malik merupakan anak sulung Barack Obama Sr. dari istri pertamanya, Kezia Aoko.
“Ayahku selalu menekankan bakat itu ada pada diri kami semua,” kata Malik kepada Daily Mail beberapa tahun lalu. “Dia selalu mengatakan, ‘Apa pun yang terjadi, selalu ingat bahwa kamu yang terbaik, karena aku berasal dari darah yang terbaik. Selalu ingat hal itu dalam benakmu’”.
Sebelum adik tirinya, Barack Obama, menjadi Presiden Amerika, Malik Ibrahim bukanlah siapa-siapa, tak ada yang kenal siapa dia. Tapi, begitu adiknya—meski adik tiri dan bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka pernah bertemu—jadi orang nomor satu di Gedung Putih, kontan Malik, juga adik-adiknya yang lain, jadi orang terkenal. Total, Obama Senior punya delapan anak, tujuh di antaranya laki-laki, dari empat perempuan.
Malik tumbuh besar di Kenya, kampung halaman Obama Senior, dan lulus dari jurusan akuntansi Universitas Nairobi. Menjadi saudara tiri Presiden Amerika mungkin bisa mendatangkan berkah, tapi bisa pula malah jadi beban. “Semua orang menganggap kami setengah atau seperempat dari saudara tiri kami,” Malik menuturkan kepada majalah GQ dengan nada sebal.
Malik mungkin jengkel terus dibandingkan dengan adik tirinya. Dia merasa tak kalah hebat dari Obama. Dia percaya bahwa takdir akan menjadikannya presiden dan pembawa kemakmuran bagi Kenya. “Jika saudaraku bisa menjadi Presiden Amerika, mengapa aku tak bisa melakukan sesuatu untuk rakyat Kenya?” kata Malik.
Baca Juga : Cinta Putih Barack Obama

Malik Obama, saudara tiri Barack Obama
Foto: dok. African Courier
Sempat bertahun-tahun tinggal dan bekerja di Amerika, setelah adiknya menjadi Presiden Amerika, Malik pulang ke Kenya. Tiga tahun lalu Malik mencalonkan diri sebagai Gubernur Siaya. Slogan kampanyenya kurang-lebih seperti ini: Obama di sini, Obama di sana.
Dalam setiap kampanyenya, Malik tak jarang “menjual” klaim kedekatannya dengan sang adik tiri. Kata Malik, dia setiap saat bisa menelepon Barack Obama di Gedung Putih. Hasilnya, Malik gagal jadi Kepala Daerah Siaya. Nama Barack Obama saja sepertinya tak jadi jaminan untuk menang di Kenya.
Secara fisik, tak ada kemiripan di antara keduanya. Barack Obama sangat terasah di atas podium dan lihai memilih kata-kata saat berpidato, sedangkan Malik bukanlah calon pemimpin yang pidatonya bisa menyihir khalayak. Bukan Barack Obama yang salah, tapi Malik memang tak kurang masalah. Malik, kini 59 tahun, pernah 12 kali menikah. Dia menolak berterus terang, dari 12 perempuan yang pernah dia nikahi, berapa orang yang masih bertahan jadi istrinya.
Satu perempuan, Sheila Anyango, dia nikahi saat masih berumur 17 tahun. Saat itu, pada 2010, Malik sudah berumur 52 tahun. “Menikahi dia merupakan kesalahan terbesar dalam hidupku…. Dia sering memukuliku. Dia jahat dan suka bikin keributan,” kata Sheila.
Kalah di Siaya tak memudarkan keyakinan Malik. Dia tetap percaya pada “takdir”-nya. “Jangan kaget jika dalam waktu lima tahun akan ada presiden lagi dengan nama Obama,” kata Malik masih dengan percaya diri.
* * *
Menurut Malik Obama, dialah yang mengundang dan menjadi “tuan rumah” saat Barack Obama datang ke kampung halaman ayahnya, Kenya, pada 1988. Hubungan mereka makin akrab setelah Malik hijrah dan bekerja di Amerika selama belasan tahun. “Hubungan kami dekat, tapi kami hidup tak saling bergantung pada yang lain,” kata Malik.
Saat Malik menikah, Barack datang. Demikian pula ketika Barack menikah dengan Michelle Robinson. Dalam memoarnya, Barack Obama menulis soal kedatangan Malik pada resepsi perkawinannya. “Orang yang membuatku bangga adalah Roy (panggilan Malik sebelum dia memeluk agama Islam). Dia memeluk Islam dan menjauhi daging babi, rokok, serta alkohol. Gaya hidupnya membuat dia lebih langsing dan pikirannya jernih.”
Baca Juga : Gadis-gadis Barack Obama
Barack Obama (kedua dari kiri) berfoto bersama kerabatnya di Kogelo, Kenya.
Foto: dok. Getty Images
Namun entah bagaimana mulanya, hubungan dua bersaudara satu ayah itu makin renggang. Malik makin sering bersuara miring soal adik tirinya itu. Dia mengkritik Presiden Obama, yang dianggapnya tak banyak berbuat untuk Kenya. “Aku bangga kepadanya, tapi aku berharap dia melakukan lebih banyak, paling tidak untuk keluarganya di Kenya,” kata Malik.
Harian Washington Post menulis, kemarahan Malik kepada adiknya mungkin berkaitan dengan Yayasan Barack H. Obama yang dia dirikan di Kogelo, kota kelahiran ayah mereka berdua. Lewat yayasan itu, Malik mengumpulkan sumbangan dari sejumlah negara. Konon, dana itu akan dipakai untuk sejumlah program pemberantasan kemiskinan di Kenya. Tapi sejumlah lembaga mempertanyakan transparansi pemakaian sumbangan tersebut.
Sejak awal, kata Malik kepada New York Post, Barack Obama tak setuju dengan pendirian yayasan yang “mencatut” namanya itu. “Adikku tak membantu sama sekali. Dia malah memintaku menutupnya,” Malik menuturkan. Kemarahan Malik kepada adik tirinya makin bertumpuk setelah dia kalah dalam pemilihan Gubernur Siaya. Jangankan menyokongnya, Presiden Obama malah tak menelepon Malik sama sekali sepanjang masa kampanye.
Tak ada lagi kata-kata manis Malik kepada adik tirinya. Pada awal 2015, Malik melayani wawancara dengan Joel Gilbert, mantan pemain band yang banting setir menjadi pembuat film dokumenter amatir. Gilbert-lah yang membuat video “dokumenter” kontroversial soal akta kelahiran Barack Obama. Menurut Gilbert, Barack tak lahir di Hawaii. Belakangan, banyak pihak menyanggah “bukti-bukti” yang disampaikan Gilbert.
Kepada Joel Gilbert, Malik menuturkan Barack sudah berbohong soal pemakaman Zeituni Onyango. Bertentangan dengan pernyataannya sendiri beberapa bulan sebelumnya, Malik mengatakan Barack tak memberikan duit sepeser pun untuk membiayai pemakaman Zeituni, bibinya sendiri, pada 2014.
Baca Juga : Mereka yang Mencukur Presiden Amerika
Malik Obama menghadiri debat ketiga kandidat Presiden Amerika Serikat di Thomas & Mack Center, Las Vegas, 19 Oktober 2016
Foto: dok. Getty Images
Sarah Obama, Barack Obama dari garis ayahnya, di Kogelo, Kenya
Foto: dok. Getty Images
“Donald Trump merupakan penjelmaan Malcolm X…. Dia Malcolm X kulit putih.”
Malik Obama, kakak tiri mantan Presiden Barack ObamaKemarahan Malik kepada adiknya makin berkobar saat Presiden Obama melawat ke Kenya pada 2015. Di Nairobi, Presiden Obama mengundang beberapa kerabatnya di negara itu untuk bersantap bersama. Tapi nama Malik tak ada di daftar undangan. “Itu suatu penghinaan besar…. Dia sudah tak mau lagi berurusan denganku,” kata Malik kepada Boston Globe.
Kemarahan Malik kepada adiknya itulah yang jadi alasannya untuk menyokong Donald Trump, lawan politik Barack Obama dan Partai Demokrat. “Buat apa aku mendukung Barack dalam politik kalau dia tak menyokongku berpolitik,” ujar Malik. Entah benar-benar percaya pada janji-janji kampanye Donald Trump atau gombal belaka, Malik, yang juga punya status warga negara Amerika, memberikan suaranya kepada pengusaha properti itu.
“Donald Trump merupakan penjelmaan Malcolm X…. Dia Malcolm X kulit putih,” Malik menyamakan Trump dengan pejuang persamaan hak warga kulit hitam itu. Tak terang benar apa pertimbangan dia menyamakan Donald Trump dengan Malcolm X. Saat Donald Trump akhirnya ditetapkan sebagai Presiden Amerika, Malik langsung nge-tweet. “All thanks and praises to Allah, God Almighty. I prayed for Barack Obama, he won; I prayed for Mr. Trump, he won. God does as He pleases.”
James Otieno, tetua suku di Kogelo, mencerca dukungan Malik kepada Donald Trump. “Kami telah mengutuknya…. Dia bukan lagi bagian dari kami karena telah ‘makan bersama’ musuh,” kata James dikutip Washington Times. Martin Ogada, tetua suku lainnya, mengatakan mereka selalu setia kepada Barack Obama. “Sebagai satu keluarga, kami tak mau dikaitkan dengan siapa pun yang memusuhi anak kami, Barack Obama.”
Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.