SAINS
NASIB JADI ORANG KIDAL
“Kita tahu kecenderungan mereka untuk berbuat kejahatan dan mengabaikan perintah Gereja Katolik."
Foto: Chip Somodevilla/Getty Images
Jika angka statistik jadi ukuran, mestinya ada satu lagi syarat bagi calon Presiden Amerika Serikat: dia harus orang kidal. Dari lima Presiden Amerika terakhir, tiga di antaranya orang "kiri": George H.W. Bush, Bill Clinton, dan Barack Obama. Hanya George W. Bush yang benar-benar lahir dan tumbuh besar dengan tangan kanan lebih dominan.
Kepada majalah Left Handed belasan tahun lalu, Ronald Reagan, yang berkuasa di Gedung Putih pada 1981-1989, mengakui bahwa dia lahir sebagai bocah kidal. Namun, lantaran tekanan orang tua dan lingkungan sekitar, Reagan mati-matian belajar menggunakan tangan kanan.
Pada pemilihan Presiden Amerika 1992, ketiga kandidat, yakni George H.W. Bush, Bill Clinton, dan Ross Perot, semuanya bertangan kidal. Selain Presiden Clinton, Bush Senior, dan Presiden Obama, masih ada beberapa Presiden Amerika yang orang "kiri", seperti James Garfield dan Harry Truman.
Konon, Abraham Lincoln juga lahir sebagai bocah kidal. "Jika ada yang mengatakan bahwa orang-orang kidal punya masalah dalam berkomunikasi, hal itu jelas tak berlaku pada Bill Clinton," kata Norton Smith, peneliti di Universitas George Mason. Bill Clinton yang kidal jago orasi. Obama pun pintar memilih kata-kata.

Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, merupakan orang bertangan kidal
Foto: David Ramos/Getty Images
Padahal, menurut sejumlah penelitian, orang kidal rentan rupa-rupa masalah. Menurut Amar Klar, biolog di National Institute of Health, orang-orang kidal punya risiko tiga kali lebih tinggi ketimbang orang-orang "kanan" terkena autisme, schizophrenia, atau bipolar.
Di kampus MIT, hampir seperempat profesor di jurusan matematika kabarnya orang-orang bertangan kidal."
Lebih dari seabad lalu, Cesare Lombroso, dokter dari Italia, menyimpulkan bahwa orang-orang "kiri" punya potensi sepuluh kali lebih besar menjadi kriminal. Jack Paraskovich menulis soal prasangka buruk dan perlakuan diskriminatif terhadap orang-orang kidal ini dalam bukunya, The Wrong View of History.
Kardinal Jose Floriberto Cornelis, pemimpin Gereja Katolik di Alagoinhas, Brasil, pada akhir 1980-an mengatakan, "Kita tak tahu mengapa mereka menjadi orang kidal.... Tapi kita tahu kecenderungan mereka untuk berbuat kejahatan dan mengabaikan perintah Gereja Katolik."
Pada 1990-an, Stanley Coren dan Diane Halpern, keduanya psikolog dari Amerika Serikat, menulis artikel soal orang-orang "kiri" di jurnal ilmiah kondang Nature. Dari penelitian di California, mereka menyimpulkan, rata-rata orang kidal berumur lebih pendek ketimbang orang-orang "kanan".
Chris McManus, penulis buku Left Hand Right Hand dan profesor psikologi di Universitas College London, juga beberapa peneliti lain, mempersoalkan kesimpulan Stanley dan Diane. "Tak masuk akal," kata Chris kepada BBC. Menurut Chris, Stanley dan Diane membuat kesalahan fatal. "Mereka hanya melihat data kematian."
Penelitian Amy Deep Soboslay dan tim dari Lieber Institute for Brain Development terhadap ratusan orang, termasuk pasien-pasien schizophrenia, tak menemukan perbedaan risiko schizophrenia antara orang-orang kidal dan orang-orang "kanan". Beberapa penelitian lain malah membuktikan bahwa orang-orang kidal bisa sama hebatnya dengan orang-orang bertangan kanan.
Mereka menjadi si jenius Leonardo Da Vinci, seniman hebat seperti Michelangelo dan Albrecht Durer, gitaris James "Jimi" Hendrix, anggota The Beatles, Paul McCartney, pemimpin besar Napoleon Bonaparte, petinju kondang Manny Pacquiao, dan orang-orang tajir seperti Bill Gates dan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg.
Deretan nama kondang bertangan kidal ini tak lantas membuktikan bahwa orang-orang "kiri" lebih hebat daripada orang-orang "kanan" atau sebaliknya. Di kampus Massachusetts Institute of Technology (MIT), salah satu kampus paling top di dunia untuk sains dan teknologi, hampir seperempat profesor di jurusan matematika kabarnya orang-orang "kiri".
Saat masih kuliah matematika di Universitas Princeton dan Universitas Stanford, dua kampus prestisius di Amerika, menurut Adam Rosenberg, hampir separuh dari teman-temannya juga bertangan kidal. Mengingat rata-rata populasi orang kidal hanya 10 persen, begitu banyaknya orang-orang "kiri" di jurusan matematika di kampus Stanford, Princeton, dan MIT tentu satu hal yang menarik.
Kemampuan matematika orang bertangan kidal jauh lebih baik ketimbang anak-anak lain."
Benarkah orang-orang kidal lebih jago dalam urusan angka dan ilmu berhitung? Gabungan tim dari Universitas Liverpool, Inggris, dan Universitas Milan, Italia, meneliti 2.300 pelajar berumur 6-17 tahun. Mereka mencari bukti apakah benar ada kaitan antara orang kidal dan kemampuan matematika. Ribuan pelajar itu diminta mengerjakan rupa-rupa jenis soal matematika.
Kesimpulannya, menurut Giovanni Sala, ketua tim peneliti, tak terang benar. Hubungan orientasi tangan dengan kemampuan mengerjakan soal matematika ternyata sangat bervariasi untuk setiap kategori umur. Anak-anak yang sangat "kiri" dan sangat "kanan" punya kemampuan matematika lebih rendah dibanding teman-temannya.
Keistimewaan orang-orang kidal itu baru tampak nyata pada laki-laki menjelang dewasa. "Kemampuan matematika mereka jauh lebih baik ketimbang anak-anak lain," kata Sala, dikutip ScienceDaily. Tapi Giovanni Sala mengingatkan bahwa bukti yang dia peroleh masih jauh dari cukup untuk menyokong hipotesis bahwa orientasi tangan ada kaitan kuat dengan kelihaian berhitung.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.