Analisis Zuhairi Misrawi

Tunisia dan Peradaban Masjid

Zuhairi Misrawi - detikNews
Selasa, 25 Jan 2022 14:00 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi (Foto: istimewa)
Jakarta -

Minggu ini, sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia, saya mengundang Komunitas Sarrajine, para mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Universitas Zaitunah ke KBRI Tunis. Mereka menamakan komunitasnya Sarrajine, pembuat pelana kuda. Mereka adalah komunitas penggiat literasi yang berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain di Tunisia untuk menulis, baik sekadar catatan, kolom, maupun buku. Mereka baru menerbitkan sebuah buku, 19 Menara Lintas Peradaban: Antologi Masjid Bersejarah di Kota Tunis.

Beberapa hari lalu, mereka diterima oleh Menteri Agama Tunisia M Ibrahim Al-Shaibi, dan mendapat apresiasi langsung dari pemerintah Tunisia karena telah mengenalkan peradaban Islam Tunisia kepada masyarakat di Tanah Air. Komunitas Sarrajine telah mampu menjadi jembatan emas bagi hubungan bilateral Indonesia-Tunisia. Pasalnya, selama ini tidak banyak informasi dan buku yang bisa menjelaskan tentang Peradaban Tunisia secara gamblang.

Yang dilakukan komunitas Sarrajine memang harus diapresiasi setinggi-tingginya karena mampu mengenal sekaligus mengenalkan peradaban Tunisia, khususnya masjid sebagai salah peradaban penting di negeri yang mempunyai sejarah dan khazanah luar biasa ini. Saya sangat bangga karena mereka mampu melahirkan karya yang mampu membanggakan Tunisia dan Indonesia.

Dalam sejarah dan khazanah Islam, masjid menjadi instrumen penting dalam perjalanan peradaban Islam sejak zaman Nabi Muhammad hingga sekarang ini. Saat Nabi SAW melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah, yang dibangun pertama kali adalah masjid, yang kemudian dikenal dengan al-Masjid al-Nabawi atau Masjid Nabi Muhammad SAW.

Pada masa itu, masjid tidak hanya menjadi pusat peribadatan, melainkan juga menjadi pusat pendidikan, sosial, bahkan kegiatan sehari-hari Nabi yang terkait dengan pelayanan publik. Bahkan, Nabi juga tinggal di kawasan masjid.

Para sejarawan dan ulama menyebut pilihan Nabi menjadikan masjid sebagai titik-tolak membangun peradaban mendapatkan apresiasi yang sangat luar biasa dari para penduduk Madinah, khususnya umat Yahudi dan sejumlah suku. Sebab Nabi Muhammad tidak membangun istana kerajaan yang megah dan mentereng, justru membangun tempat ibadah yang sangat sederhana, yang secara simbolik ingin menegaskan bahwa ajaran Islam pada hakikatnya ingin menata hati dalam rangka membangun persaudaraan sejati.

Hal tersebut tercermin dalam Piagam Madinah yang di dalamnya menegaskan bahwa seluruh komunitas yang berada di Madinah pada hakikatnya merupakan umat yang satu, ummatun wahidatun. Masjid adalah tempat untuk mendekatkan hamba dengan Tuhan (hablum minallah) sekaligus untuk memperkokoh persaudaraan di antara sesama umat manusia (hablum minan nass), baik sesama Muslim maupun bersama umat agama-agama dan suku lainnya.

Historisitas Islam di Tunisia adalah bagian dari percikan cahaya peradaban yang sudah dikukuhkan Nabi SAW beberapa abad sebelumnya. Salah satu masjid yang paling monumental di Tunisia adalah Masjid al-Zaitunah yang didirikan oleh Hasan bin Nu'man pada 705 M. Setelah berhasil menguasai Carthage dari Bizantium, yang dibangun pertama kali adalah masjid.

Pemandangan tersebut hendak mengirimkan pesan bahwa Islam hadir untuk membangun peradaban, yang di dalamnya memadukan antara dimensi langit dan dimensi bumi. Kita semua harus kembali kepada jati diri sebagai ciptaan Tuhan, yang di dalamnya mempunyai tugas untuk membangun peradaban kemanusiaan.

Dari masjid al-Zaitunah, Tunisia berhasil membangun peradaban keilmuan yang bertahan hingga sekarang. Ada tiga pusat peradaban Islam yang menjulang, yaitu al-Azhar di Mesir, al-Qarawiyyun di Maroko, dan al-Zaitunah di Tunis. Al-Zaitunah menjadi istimewa, karena masih bertahan sampai saat ini dengan pengembangan metodologi yang menggabungkan antara tradisionalitas dan modernitas. Sebagai lembaga yang berpijak pada Ahlussunnah wal Jamaah, Zaitunah juga mengembangkan nalar analisis dan kritis, dengan studi komparatif dari berbagai arus pemikiran.

Saya masih ingat, saat masih nyantri di al-Amien, Prenduan, Sumenep, Kiai saya selalu menceritakan perihal pusat peradaban Islam yang masih bertahan hingga saat ini. "Jika ingin melanjutkan kuliah selepas lulus dari pesantren, pilihannya adalah Universitas al-Azhar, Kairo dan Universitas al-Zaitunah, Tunis." Saya memilih untuk kuliah di Universitas al-Azhar, Kairo. Namun, ada kakak kelas saya yang kuliah di Universitas al-Zaitunah.

Selain al-Zaitunah, Tunisia juga mempunyai Masjid Kairouan, yang sudah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu situs bersejarah. Kedudukan masjid ini ditengarai lebih dahulu dari Masjid al-Zaitunah, sekitar tahun 670 M, oleh sahabat Nabi, Uqbah bin Nafi'. Sebab itu, Masjid Kairouan juga dikenal oleh warga Tunisia dengan Masjid 'Uqbah bin Nafi'.

Pada masa keemasannya, Masjid Kairouan juga menjelma sebagai salah satu pusat pendidikan dan peradaban Islam unggulan. Di tempat ini, dulu diajarkan fisika, geografi, matematika, dan kedokteran, di samping pendidikan keagamaan. Kairouan pernah menjadi salah satu lokus peradaban Islam yang usianya lebih tua dari al-Azhar.

Gambaran singkat perihal Tunisia dapat menjelaskan banyak hal, bahwa negeri ini menjadi salah satu napak tilas peradaban Islam yang masih eksis hingga sekarang ini. Ada sekitar 150 mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Universitas al-Zaitunah dan Universitas Kairouan. Ada juga sejumlah mahasiswa dari berbagai mancanegara yang juga menuntut ilmu di kedua kampus bersejarah ini.

Sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia, saya sudah menunaikan salat di kedua masjid pusat peradaban Islam ini dan berdialog langsung dengan para mahasiswa Indonesia. Kita dapat meneladani dari Tunisia untuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban umat. Masjid sejatinya dijadikan sebagai wadah untuk meningkatkan ketakwaan, persaudaraan, dan keilmuan umat. Tidak sepatutnya masjid dijadikan sebagai instrumen politisasi agama dan umat.

Saya selalu optimis, jika umat Islam benar-benar memahami historitas masjid sejak zaman Nabi SAW hingga sekarang ini, maka sebenarnya kita bisa menyumbangkan sesuatu yang sangat berharga bagi pembentukan peradaban kemanusiaan, yang di dalamnya mengukuhkan dimensi ketuhanan, di samping memperkokoh dimensi kemanusiaan dan keilmuan. Dalam hal ini, kita pelan-pelan bisa belajar dari Tunisia untuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban umat dan bangsa.

Zuhairi Misrawi Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia

(mmu/mmu)